Hening kamar membuat tidurnya semakin pulas. Namun, tidak lama kemudian—
Lonceng anginnya berbunyi cukup kencang.
“Berisik ...” gumamnya sambil memejamkan mata.
Namun, lonceng itu berbunyi lagi. Dan lagi. Seolah bukan tertiup angin biasa.
Dengan langkah terhuyung, Yosandrea menuju jendela. Di sana, seorang anak laki-laki seusianya sedang menatapnya.
“Kamu?” tanyanya.
“Jangan mainin lonceng anginnya Oca lagi bobo. Berisik tau ...."
Tak ada jawaban. Yosandrea mengabaikan dan kembali hendak ke tempat tidur. Tapi baru satu langkah, lonceng anginnya kembali berbunyi.
Ternyata, anak laki-laki itu membuka dan menutup jendela kamarnya, menciptakan hembusan angin yang membuat lonceng Oca berbunyi.
“Oca kasih tahu ya, sekali lagi ganggu Oca—Oca marah! Oca mau bobo!”
“Biarin,” jawab si anak dengan nada sengaja.
Yosandrea menarik napas. Kesabarannya? Setipis tisu dibagi empat lembar.
“ANAK SETAN!”
Sifat menyebalkan Kenan memang sudah dari dulu ada. Namun, bisa dibilang Kenan versi kecil masih bisa untuk dimaafkan dan dimaklumi, tapi sekarang? Big no!
Tau tidak sih? Di saat Yosandrea sedang asik-asiknya telponan dengan seseorang. Mendengar suara merdu diiringi genjrengan gitar yang berhasil menenangkan telinga Yosandrea, setelah seharian telinganya penuh dengan suara Annea. Tiba-tiba lonceng anginnya berguncang hebat. Bukan sekali dua kali, tetapi berkali-kali.
Membuat seseorang yang berada di seberang sana, yang berbicara melalui telpon—menghentikan aktifitas bernyanyinya, lalu berkata, "Di sana ada tornado? Bunyi lonceng anginnya kayak diterpa angin tornado, loh."
Sumpah!
Pada saat itu juga Yosandrea ingin membakar rumah Kenan kalo boleh. Tidak tau apa yang dilakukan laki-laki itu pada lonceng anginnya.
"Dulu gue ngapain sih, nangis-nangis waktu tuh anak setan pergi? Lihat jadi balik lagi kesini, mampus gue gak bisa tidur lagi!" maki Yosandrea pada dirinya sendiri sambil membuka tirai jendelanya.
"WHAT?!" Yosandrea memekik saat pandangannya menatap ke arah jendela kamar Kenan.
Tidak habis pikir, Yosandrea menggelengkan kepalanya beberapa kali. Pantas saja bunyi lonceng anginnya seperti diterpa tornado tidak ada henti-hentinya. Ternyata ... lihat, kipas angin dengan ukuran besar menghadap pada jendela kamar Yosandrea.
Setan sekali bukan?
"Kenan Arvaenzaaaa!" teriak Yosandrea sambil menatap tajam ke arah jendela kamar Kenan.
Tiba-tiba kebetulan sekali, Kenan berjalan ke arah jendela kamarnya untuk memindahkan kipas angin tersebut. Saat matanya melirik ke arah jendela Yosandrea, ia terperanjat kaget. Bagaimana tidak? Di sana Yosandrea menatap ke arahnya penuh rasa dendam.
"Istighfar, Ca," kata Kenan.
"LO YANG ISTIGHFAR!" ketus Yosandrea.
***
Hari ini Yosandrea berangkat ke sekolah membawa motor sendiri. Menghindari kejadian seperti kemarin dan berujung pulang bareng Kenan. Beruntung sih ada Kenan, tetapi sepanjang perjalanan Yosandrea cosplay jadi kuntilanak. Ia sibuk menutup wajah dengan rambut panjangnya.
Hal itu dilakukan karena takut ada temannya atau siapa pun yang melihatnya dengan Kenan.
"Aku berangkat dulu, Bun!" teriak Yosandrea sebelum melajukan motornya.
Yosandrea membawa motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Bukan takut telat, tetapi ia harus bergosip dengan Annea terlebih dahulu.
Sesampainya di kelas, Yosandrea langsung mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Annea yang ... belum datang. Lantas untuk apa Yosandrea kebut-kebutan kalo anak itu belum tiba di sekolah.
"Tadi waktu jam 06.30 bilangnya udah mau jalan, tapi sekarang udah jam 06.45 belum nyampe juga? Curiga nyangkut di kabel listrik," kata Yosandrea, lalu membuka layar ponselnya.