"Mata lo!" ketus Yosandrea.
"Kenapa?"
"Ke dalem!"
Kenan malah menarik tangan Yosandrea untuk menyeret gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
Tentu, Yosandrea teriak-teriak sambil menarik tangannya agar terlepas, "Kenan! Mau bawa gue kemana?!"
"Bunda! Kenan penculik, Bunda!"
Sesampainya di ruang tengah, Kenan melepaskan tangan Yosandrea, ia menatap tepat pada mata gadis itu. Hal tersebut membuat Yosandrea membeku, sampai-sampai susah untuk menelan ludahnya.
Pandangan Kenan beralih pada wadah yang ditenteng oleh Yosandrea, lalu bertanya, "Apa itu?"
"Bubur buatan Bunda buat lo," jawab Yosandrea sambil menyerahkan wadah tersebut.
Kenan segera menerima wadahnya, lalu ia kembali menatap Yosandrea. "Nanti bilangin ke Bunda, makasih ya," kata Kenan yang diangguki Yosandrea.
Laki-laki itu berpikir setelah ia menerima buburnya, Yosandrea akan pergi lari. Lantaran gadis itu sudah menyebut dirinya penculik, tetapi lihat—Yosandrea masih berdiri di tempat.
"Lo kangen sama gue, Ca?" tanya Kenan sambil tersenyum.
"Dih, gak ya!"
"Kalo kangen bilang aja kali. Gue tau kok lo itu kangen, tapi ketutup gengsi," kata Kenan sambil berjalan menuju dapur.
"GAK IH! SO TAU BANGET LO!" teriak Yosandrea sebelum laki-laki itu menghilang dari pandangannya.
"Wadahnya balikin! Gue tunggu di sini!" teriaknya sekali lagi.
Yosandrea masih berdiri di tempat. Ia bersedekap dada sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Sudah hampir 15 menit Yosandrea berada di rumah Kenan, ia ingin cepat-cepat pergi dari rumah laki-laki itu. Bisa-bisa Bunda akan menggodanya dengan pikiran yang tidak-tidak.
"Ken," panggil Yosandrea.
"Lo gak diracun Bunda 'kan lewat bubur itu?" tanya Yosandrea.
"Kenan!"
Jep!
Deg!
Pandangan Yosandrea menggelap, ia sama sekali tidak bisa melihat pencahayaan di ruang tersebut. Sumpah demi apa pun! Yosandrea tidak bisa sendirian dengan posisi gelap seperti ini, ia sangat ketakutan.
"Ken ..." panggil Yosandrea sambil berusaha melangkah tanpa menabrak apa pun.
"Kenan sumpah gue takut. Gue gak bisa gelap-gelapan, kecuali sama suami gue nanti kalo udah nikah!"
Entah, laki-laki itu kemana, sih? Seperti diculik setan saja. Yosandrea terus melangkah, ia tidak tahu sudah sampai di ruangan apa. Yang terpenting Yosandrea bertemu Kenan sekarang.
Tiba-tiba bulu kuduk Yosandrea berdiri. Inilah yang membuat dirinya tidak kuat dengan keadaan gelap. Karena tidak ada sebab akibat, bulu kuduk Yosandrea pasti berdiri. Yosandrea mencoba menoleh ke belakang, ia tersentak melihat dua titik kecil yang menyala-nyala di sana.
'Itu apa?'
"Ken!" teriak Yosandrea, gadis itu segera berlari tak tentu arah hingga akhirnya—
Bruk!