Air dari wajah Kenan bercucuran, ia menatap dirinya pada cermin setelah selesai membasuh wajahnya. Bibir Kenan melengkung, lalu laki-laki itu tertawa kecil. Perlakuan Yosandrea padanya barusan malah membuat Kenan gemas.
Bukan soal Yosandrea yang melempar pizza, lalu mendarat tepat di wajah Kenan, akan tetapi soal Yosandrea yang mengoceh bagaikan lajunya kereta api dan berakhir gadis itu menggembungkan pipinya.
Lucu!
"Kalo Oca bukan buat gue, ya harus! Oca harus buat gue. Mau gimana pun caranya, dia punya gue," kata Kenan.
"Harus mimpi apa ya gue, biar Oca sama Arga putus." Laki-laki itu berjalan keluar dari kamar mandi, ia hendak berbaring pada tempat tidurnya.
Setelah berhasil membaringkan tubuhnya, tangan Kenan terulur untuk mengambil sebuah figura. Figura itu terdapat foto Yosandrea waktu kecil bersama dirinya setelah acara ulang tahun Yosandrea.
Kenan tersenyum menatap foto tersebut, lalu berpikir ... kalo saja dia tidak pergi meninggalkan Yosandrea, mungkin sekarang gadis itu selalu ada di genggaman tangannya, bukan pada Argatha.
"Gue pemilik aslinya, Arga hanya penjaga sementara."
***
Di pagi hari yang cerah, Yosandrea sudah menginjakkan kakinya di area parkir bersama Argatha. Gadis itu melepaskan helmnya, lalu menyerahkan pada laki-laki di hadapannya. Hari ini Argatha hanya mengantar Yosandrea saja dan mungkin mampir sejenak ke kantin untuk mengganjal perutnya sebelum kembali latihan.
"Semangat ya belajarnya. Gak boleh nakal," ucap Argatha sambil mengacak gemas rambut Yosandrea.
Gadis itu pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Semangat juga latihannya. Pulang sekolah aku kasih hadiah," kata Yosandrea.
"Apa? Kiss me?" tanya Argatha menggoda Yosandrea, sontak gadis itu langsung memukul pelan lengan Argatha sambil berkata, "Ih! Bukan ya! Udah sana ah, nanti juga tau hadiahnya apa."
"Aku mau ke kantin, belum sarapan." Argatha hendak turun dari motor, akan tetapi Yosandrea menahan laki-laki itu dan berakhir Argatha terduduk kembali di motornya. "Kenapa?" tanya Argatha.
"Gak boleh ke kantin!" kata Yosandrea melarangnya keras.
Gadis itu membuka tasnya, lalu mengeluarkan kotak bekal miliknya. "Nih, makan di studio. Gak boleh ke kantin! Pokoknya, gak boleh!"
Bentar-Bentar!
Kok jadi gemas banget, sih! Pikir Argatha yang melihat pacarnya melarang keras untuk ke kantin.
Sontak Argatha mencubit kedua pipi Yosandrea sambil bekata, "Lucu banget, sih!"
"Kenapa aku gak boleh ke kantin?" tanya Argatha yang kedua tangannya masih memegang pipi Yosandrea.
"Nanti kamu gatel-gatel kalo ke kantin."
Argatha mengernyitkan dahinya, lalu bertanya, "Loh? Emang ada apa?"
"Banyak ulat bulu yang suka nempel-nempel gak jelas!"
***
Setelah memastikan Argatha pergi dari sekolah, Yosandrea bergegas pergi ke kelas. Di sana yang pertama kali ia lihat adalah Annea, Annea yang tengah terisak-isak menangis dengan pandangan menatap pada layar ponselnya.
Yosandrea segera berjalan menuju kursinya, sambil bertanya, "Kenapa, An?"
Mata Yosandrea teralihkan, ia ikut menatap layar ponsel milik Annea yang ... tengah menampilkan sebuah drama Korea. "Anjir Re, tokoh utamanya meninggoy," kata Annea di tengah isak tangisnya.
"Nanti juga hidup lagi."
"Lo kira bayi-bayian yang pake baterai?" tanya Annea.
Air mata Annea harus terhenti setelah guru mata pelajaran masuk ke dalam kelas. Semua penghuni kelas segera mengeluarkan buku dan juga alat tulisnya. Sedari tadi Yosandrea merasa ada yang kurang di kelas ini. Hal itu membuat Yosandrea segera meraih buku absen di meja guru.
"Absen dulu, Rea," ucap bu Turi.
"Iya Bu." Yosandrea segera membuka lembaran-lembaran buku absen tersebut, ia mencatat tanggal terlebih dahulu sebelum menyebut nama-nama.
"Annea."
"Hadir, Say," ucap Annea sambil mengangkat tangannya.
"Azni."
"Azidan."