Yosandrea baru saja selesai memakai sepatu, gadis itu meraih tasnya yang ia simpan di atas meja. Tanpa pamit karena bunda tengah membeli bahan-bahan kue, Yosandrea pun langsung menyalakan motor kesayangannya itu–pemberian Lionel.
Hari ini Yosandrea kembali ke sekolah bersama motornya, tidak bersama pacarnya. Lantaran Argatha harus sibuk latihan di pagi hari ini dan harus ke sekolah juga untuk mengikuti pembelajaran. Demi menjadi pacar super pengertian, Yosandrea berangkat sendiri saja.
Baru saja motor Yosandrea melaju, gadis itu menghentikannya tepat di samping Kenan yang tengah memanasi motor. "Nyampe lo ke sekolah, jangan kayak kemarin," oceh Yosandrea.
"Iya, Ca ... kayaknya."
Yosandrea menoleh dengan tatapan tajamnya setelah Kenan berkata 'kayaknya'. Gadis itu refleks menggeplak lengan Kenan sekuat tenaganya.
"Apa-Apaan lo!" ketus Yosandrea.
"Ya ... kecuali kalo gue berangkat ke sekolahnya sama lo, itu udah pasti gue sampai di sekolah," kata Kenan membuat Yosandrea memutar bola matanya malas.
"Ken," panggil Yosandrea sambil menatap Kenan.
"Yes, Baby?" Kenan melemparkan senyuman yang terlihat tulus, sangat tulus dan tidak terlihat dibuat-buat.
"Lo tau 'kan? Gue udah punya pacar, gue punya Arga," jelas Yosandrea tidak berhasil membuat Kenan menyadarinya.
"Di kamus gue gak ada tuh, Rea punya Arga," jelas Kenan, lalu ia menaiki motornya.
Sebelum melajukan motornya, Kenan kembali berucap, "Adanya–Oca punya Ava."
Brrmm!
"KENAN ARVAENZA!" teriak Yosandrea, tetapi tidak terdengar lantaran Kenan sudah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Sepanjang perjalanan Yosandrea mengoceh kesal tentang Kenan yang entah bagaimana pikiran laki-laki itu. Seolah Yosandrea dan Argatha itu hanya pacaran bohongan saja. Yosandrea berjanji sesampainya di kelas dan ia menemukan Kenan, eh, pasti ketemu sih, Yosandrea akan meneriaki kuping Kenan.
"Gue pacar Argatha!" Begitu misalnya.
Tapi tau tidak? Sesampainya Yosandrea di kelas, ia tidak mendapati Kenan di sana hanya ada Theo dan juga Annea. Sontak Yosandrea segera menghampiri Theo untuk menanyakan laki-laki yang dicarinya.
"Yo, Kenan mana?" tanya Yosandrea membuat Theo yang tengah main game di ponselnya segera menatap Yosandrea, laki-laki itu tampak menggelengkan kepalanya. "Gak ada, belum dateng," jawab Theo.
"Lo mulai nyari Ava lagi, Re?" tanya Annea sambil menahan tawa.
"Kalo gak disuruh juga ogah gue, nyari-nyari dia. Semenjak kemarin An, gue lapor ke pak Harto soal Kenan yang niat bolos. Gue sih pengennya tuh cowok dihukum–eh sialan, gue malah disuruh awasin dia tiap berangkat sekolah," jelas Yosandrea lebar kali panjang.
"Terus-Terus?" tanya Annea.
"Tadi pas gue mau otw, dia juga otw, tapi kok gak nyampe ke sini ya," kata Yosandrea.
"Paling nyangkut lagi di pohon mangga," sahut Theo yang tak beralih menatap layar ponselnya.
Yosandrea memilih mengabaikan Kenan, ia mencoba untuk membuang jauh-jauh pikiran soal 'kemana perginya Kenan?'. Sebenarnya Yosandrea mencari Kenan bukan hanya disuruh awasi Kenan, tetapi ia pengen meneriaki kuping Kenan seperti yang ada dipikirannya saat di jalan.
Bukan Yosandrea jahat, ingin membuat Kenan stop menaruh rasa padanya, tapi ia tidak ingin terjadi apa-apa terhadap Kenan. Yosandrea sudah cukup jahat telah membuat janji, lalu mengingkari dan sekarang jangan sampai karenanya Kenan terluka.
Niat untuk membuang jauh-jauh pikiran soal Kenan, Yosandrea malah diingatkan kembali oleh pak Harto yang menyuruhnya untuk mengabsen.
"Ken–"
"Pak, Kenan gak ada lagi kayak kemarin," adu Yosandrea pada pak Harto.
Pak Harto sempat melihat ke arah kursi Kenan, lalu ia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Dia baru loh di sini, udah main bolos-bolos aja. Coba hubungi Kenan."
Yosandrea mengangguk, ia meraih ponselnya, lalu segera menghubungi Kenan. Ponsel laki-laki itu berdering dan tak lama terhubung.
Halo, ini nomor penipuan, ya?
Gadis itu mendengkus pasrah dengan sikap Kenan, lalu berkata, "Lo di mana lagi?"
Gue–
"Jangan bilang kemarin nyangkut di pohon mangga, sekarang lo nyangkut di tiang listrik."
Sontak seisi kelas tertawa dengan jawaban Yosandrea, begitu pun dengan pak Harto yang ikut tertawa kecil.