Yosandrea dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya pada lemari. Dua mata yang bersinar di sana ternyata itu adalah mata kucing. Kucing berwarna hitam yang terduduk di tumpukan bajunya. Karena lemari tersebut gelap jadinya yang terlihat hanya matanya saja.
"Ada apa teriak-teriak Oca?" tanya bunda yang baru saja tiba di ambang pintu.
Kucing tersebut Yosandrea keluarkan dari lemari dengan menggendongnya, ia menghampiri bunda, lalu berkata, "Aku kaget tiba-tiba ada mata di lemari. Aku kira apa, ternyata kucing."
"Astaga ... kenapa dia bisa masuk?" tanya bunda sambil mengelus kucing yang tengah menatap Yosandrea dengan mata besar polosnya.
Yosandrea menggelengkan kepalanya.
"Tapi kayaknya ini bukan kucing liar, lucu banget, gemuk," ujar bunda.
"Oh iya, bunda baru selesai masak. Kamu cepetan makan, habis itu tolong antar makanan ke Kenan," pinta bunda.
"Ah Bunda ... apa sih Kenan terus, aku males ketemu dia," ucap Yosandrea.
"Gak boleh kayak gitu Oca, ingat dulu kamu nangis-nangis Kenan pergi. Sekarang udah ada malah malas. Ayo cepetan ke bawah," ujar bunda, lalu keluar dari kamar Yosandrea.
Seperti yang diucapkan Bunda, Yosandrea tetap harus pergi ke rumah Kenan untuk memberikan makanan. Saat Yosandrea berjalan keluar rumah, kucing hitam tersebut mengikutinya. Seolah tau akan pergi kemana gadis itu.
Yosandrea menekan bel berkali-kali agar laki-laki itu segera keluar.
"Lama banget sih, gue mau telponan sama Arga," ucap Yosandrea.
"Iya, tunggu sabar-sabar," kata Kenan yang mulai mendekati gerbang.
"Ada ap—"
"Lama banget sih!" ketus Yosandrea seraya menyerahkan paperbag pada laki-laki itu.
"Ap—"
"Dari bunda," jawab Yosandrea sebelum Kenan selesai bicara.
Pandangan Yosandrea beralih pada kucing hitam tersebut yang masuk ke dalam rumah Kenan.
"Eh," ucap Yosandrea, lalu ikut masuk juga untuk mengejar kucingnya.
Kenan tersenyum, lalu ia segera menutup pagar rumahnya.
"Kamu mau kemana? Mpuss ... sini ..." ucap Yosandrea.
"Udah akrab?" tanya Kenan yang berdiri di belakang Yosandrea.
Yosandrea mengernyitkan keningnya, lalu berkata, "Sama?"
"Kucing gue."
Mata Yosandrea sontak membulat sempurna. "Kucing—lo? Jadi itu kucing lo?" tanya Yosandrea.
Kenan mengangguk, lalu menggendong kucing hitam itu.
"Tadi dia masuk ke lemari baju gue, gue kaget karena warna dia hitam jadi yang kelihatan matanya doang," jelas Yosandrea.
"Nama dia gosong," ucap Kenan seraya menatap kucingnya.
"Hah?!"
"Gosong?"
"Lo yang bener aja kasih nama gosong buat kucing selucu ini," ujar Yosandrea.