That Little Promise

ALSHA MARSHANDA
Chapter #10

Bab 10 - Kenapa?

Mendengar deru motor membuat Yosandrea menoleh ke arah pintu. Kenal dengan suara motor itu Yosandrea segera melahap semua roti di tangannya. Tanpa bicara gadis itu menarik tangan bundanya untuk dicium.

"Hati-hati sayang," ucap bunda.

Yosandrea hanya menjawab dengan lambaian tangan saja.

Setelah menutup pintu gerbangnya, gadis itu menelan rotinya, lalu tersenyum pada Argatha yang terduduk di atas motor.

"Pagi Arga ...."

Argatha menoleh tanpa senyuman. "Pagi Baby," ucapnya.

"Kamu gak latihan, kah?" tanya Yosandrea setelah duduk di atas motor.

"Kita cuma perlu latihan sebentar, jadi aman. Bahaya kalo aku gak jemput kamu—"

Yosandrea menatap Argatha dari samping dengan heran.

"Pasti pergi sama yang lain."

"Siap—"

"Peluk," pinta Argatha sambil menarik salah satu tangan Yosandrea.

Kepergian Yosandrea dan Argatha tentu diperhatikan oleh Kenan yang sedari tadi ia berdiri di depan gerbang seraya memegangi motornya. Kenan menyunggingkan bibirnya, sebelum ia menaiki motor.

"Easy."

Sepanjang perjalanan, telinga Argatha dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Yosandrea. Laki-laki itu hanya terdiam tidak satu pun ia menjawab pertanyaan Yosandrea.

Sebenarnya Yosandrea tidak sepenuhnya tidak tahu alasan Argatha diam. Yosandrea mengerti pasti laki-laki itu tengah merasakan cemburunya terhadap Kenan.

"Gue gak akan pernah lupain janji lo, Ca. Janji soal lo yang ingin kita pacaran," ucap Kenan.

"Stop Ken, itu janji di saat gue masih polos-polosnya. Lupain, please," sahut Yosandrea.

"Lupain?" tanya Kenan.

"Gak bisa kayak gitu Oca, pokoknya gue bakalan ambil lo dari Arga," lanjut Kenan berkata.

"Ken ...."

"Oca."

"Dia Arga, Kenan! Pacar gue Argatha! Lo gak tau siapa dia, lo belum tau dia lebih dalem. Jadi stop deket-deket gue, gue gak mau lo kenapa-kenapa di tangan Arga," jelas Yosandrea.

"Gue gak takut, sekalipun pacar lo itu adalah malaikat pencabut nyawa, bakal gue pastiin nyawa dia duluan yang kecabut sebelum dia cabut nyawa gue—"

"Trust me," ucap Kenan dengan penuh keyakinan.

Tanpa sadar Yosandrea tertawa kecil mengingat obrolannya dengan Kenan semalam. Karena setelah Kenan berkata seperti itu, Kenan langsung mendapatkan serangan dari kucingnya yang bernama Gosong tersebut.

Mungkin, kucing itu paham dengan apa yang diucap Kenan. Mungkin Gosong merasa sedikit jengkel dengan sikap Kenan yang terlalu percaya diri.

"Punya nyawa satu aja ngelunjak," ucap Gosong.

Beruntung Argatha tidak menyadari Yosandrea yang tertawa tiba-tiba. Kalo sampai tau mungkin laki-laki itu akan penuh dengan rasa curiga kepada kekasihnya.

Yosandrea turun dari motornya. Ia mendongakan kepalanya di depan Argatha agar helm yang terpasang di kepalanya segera dilepaskan. Namun, baru kali ini Argatha tidak menggubrisnya. Laki-laki itu malah melenggang meninggalkan Yosandrea.

Deg!

"Arga!" teriak Yosandrea menghentikan langkah Argatha.

Bibir Yosandrea mengerucut sempurna.

"Lupa," ucap Argatha, lalu segera melepaskan helm Yosandrea.

"Kamu kenapa, sih?" tanya Yosandrea.

"Kamu marah?"

"Aku ada salah?" tanya Yosandrea berkali-kali dan Argatha hanya menggeleng pelan.

"Ayo aku antar ke kelas. Habis itu aku mau ke ruang latihan," ajak Argatha seraya menggenggam tangan Yosandrea.

Argatha lupa, bahwa dirinya memiliki gadis yang super bawel. Jadinya sepanjang jalan melalui koridor-koridor kelas, Yosandrea tidak ada henti-hentinya mendesak laki-lakinya itu, untuk menjelaskan padanya soal sikapnya yang berbeda hari ini.

Lihat selengkapnya