Argatha mengepalkan tangannya kuat, lalu ia menggeram dan berakhir.
Brak!
"ANYING!" teriak kedua orang yang berada di studio musik serentak.
"Kenapa, sih? Bikin kaget aja babi," tanya Anggara yang tengah memakan keripik pedas yang hampir tersedak.
"Gue gak bisa biarin si Kenan gitu aja," ucap Argatha.
"Kan udah kita bilang. Itu anak makin sini makin menjadi deketin Rea," sahut Jeno.
"Apa lagi yang dia lakuin emang?" tanya Anggara, lalu Argatha segera menyerahkan ponselnya pada Anggara
"Anjir! Congornya hampir kena," ucap Anggara.
Jeno yang mendengar pun ikut penasaran.
"Gak bisa sih, Ga. Ini gak bisa lo diam aja sekarang," saran Jeno yang diangguki Anggara.
Mendengar ucapan Jeno, Argatha terdiam sejenak memikirkan sesuatu untuk Kenan. Tidak lama dari itu laki-laki itu pun menganggukan kepalanya.
"Kita beresin dulu acara musik kita, lalu setelah itu gue bakal kasih pelajaran buat Kenan," ujar Argatha yang disetujui ketiga temannya itu.
Pintu studio terbuka mengalihkan pandangan ketiga remaja itu. Di sana Kenzo baru saja kembali setelah dirinya pamit untuk pergi ke kantin mengisi perutnya.
"Apa itu yang lo buang?" tanya Argatha setelah melihat sebuah paper bag mendarat pada tempat sampah.
"Apa lagi?" sahut Kenzo, lalu laki-laki itu terduduk pada kursi sofa di seberang teman-temannya.
"Ck! Kasih kita aja. Jangan buang-buang pemberian orang lain," ucap Anggara.
***
Yosandrea menutup buku komiknya setelah Annea berjalan ke tempat duduk. Gadis itu langsung memiringkan tubuhnya, menghadap pada Annea.
"Darimana lo?" tanya Yosandrea.
Gadis yang ditanya itu hanya tersenyum saja dengan wajah yang memerah. Tanpa penjelasan Yosandrea pun tau kemana sahabatnya itu pergi. Kemana lagi kalo bukan menghampiri Kenzo, ya crushnya Annea.
"Kayaknya gue kalo ketemu Kenzo harus sambil bawa oksigen deh," ucap Annea.
"Gila lo," sahut Yosandrea.
"Habisnya sesak banget napas gue tiap ngomong sama dia," jelas Annea.
Yosandrea yang penasaran, ia pun bertanya, "Obrolin apa aja emang sama Kenzo?"
"Gak ngobrol."
"Terus?"
"Cuma bilang 'nih, buat lo' gitu ..." jelas Annea berhasil membuat Yosandrea dibuat ternganga dengan tingkahnya.
"Lo ngomong gitu doang perlu pake oksigen? Kayaknya sekarat lo kalo baca pidato depan Kenzo," ucap Yosandrea tidak habis pikir.
"Ya ... gitu deh, gue juga gak tau kenapa," sahut Annea sambil memainkan pulpennya.
"By the way, lo udah baikan sama Arga, kan?" tanya Annea yang tentu diangguki Yosandrea.
"See, kalo kalian tuh gak akan bisa marahan lama-lama—"
"Tapi Rea ... saran dari gue, lo harus mulai batasin diri lo sama Kenan, ya? Kalo emang lo udah gak ada rasa apa-apa Ke Kenan," saran Annea.
"Emang gak ada, ngapain juga gue masih suka sama dia. Gue juga selalu berusaha, tapi tau sendiri Kenan gimana," sahut Yosandrea.
"Cuekin aja," ucap Annea.
Obrolan mereka terhenti setelah bel masuk berbunyi berbarengan dengan guru mata pelajaran. Di jam terakhir mereka mendapati pelajaran bahasa Inggris yang cukup di sukai oleh penghuni kelas itu.
***
Baru saja Yosandrea meniatkan diri untuk membatasi kedekatan antara dirinya dan Kenan, tetapi nyatanya hal itu tidak bisa Yosandrea lakukan. Lihat saja sepulang sekolah, Yosandrea berjalan terseret-seret ke arah parkiran karena ulah Kenan.