That Little Promise

ALSHA MARSHANDA
Chapter #15

Bab 15 - CCTV Berjalan

"ARGA!" teriak Yosandrea.

BUGH!

"Berapa kali lagi gue harus bilang sama lo, bangsat! Kalo dia pacar gue!"

BUGH!

"Arga udah Arga!" Yosandrea berusaha melerai keduanya.

"Lo baru aja minta maaf sama gue Yosandrea! Apa-Apaan permintaan maaf lo itu?!" bentak Argatha seraya menatap Yosandrea tajam.

"GUE UDAH BILANG SAMA LO, KALO GUE GAK SUKA LIHAT LO SAMA COWOK SIALAN INI, LO PAHAM GAK, SIH?!"

BUGH!

"Jangan lo bentak-bentak Yosandrea, anjing!" bentak Kenan setelah melayangkan pukulan pada Argatha.

Tadinya Kenan tidak akan membalas pukulan-pukulan dari Argatha, tetapi melihat Argatha yang membentak Yosandrea. Emosi Kenan memuncak.

Argatha berdiri kembali dengan tatapan tajam pada Kenan dan napasnya terengah-engah.

"Gue bakalan diem aja kalo lo pukul gue, teriak di depan wajah gue, tapi sekali lo bentak Yosandrea gue gak akan diam aja, bangsat! Apalagi kalo sampai tangan lo ini lukain Yosandrea—"

"GUE MATIIN LO, ANJING!" bentak Kenan.

BUGH!

"Aw!"

BRUGH!

"Rea!"

"Oca!"

Kedua lelaki itu segera menghampiri Yosandrea yang tersungkur ke tanah. Gadis itu memegang pipinya yang terasa perih akibat pukulan dari Argatha yang tidak sengaja. Namun, Yosandrea memang sengaja berdiri di tengah-tengah mereka, agar seperti ini.

Lihat.

Jadinya mereka berhenti, kan.

"Mana yang sakitnya, Rea? Sorry, aku gak sengaja. Aku gak lihat kamu," jelas Argatha panik merasa bersalah.

Yosandrea menatap Argatha dengan bibirnya yang mencebik dan air mata yang turun perlahan membasahi pipinya. Karena jujur rasanya perih sekali, hingga menembus tulang pipinya.

"Wah anjing! Baru gue bilang kalo tangan lo—"

"GUE GAK SENGAJA BANGSAT!" bentak Argatha seraya menarik kerah seragam Kenan.

"UDAH!" teriak Yosandrea, lalu berkata, "Bisa berhenti gak sih?!"

Kenan melirik ke arah Yosandrea, lalu laki-laki itu menarik lengannya untuk membantu Yosandrea berdiri. Sadar pacarnya dipegang-pegang oleh lelaki lain, tentu Argatha tidak terima. Ia sontak menepis kencang tangan Kenan agar terlepas dari lengan Yosandrea.

"Ayo pulang sayang," ajak Argatha yang diangguki Yosandrea.

Mereka berdua pun langsung berjalan, meninggalkan Kenan sendiri di sana yang masih berdiri di tempat sambil menatap punggung Yosandrea. Sesekali Yosandrea pun menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Kenan. Yosandrea tau Kenan lebih banyak mendapatkan pukulan, dibanding Argatha.

Melihat Yosandrea yang menoleh ke arahnya, Kenan sontak tersenyum dengan mengacungkan jempolnya. Memberitahu pada Yosandrea bahwa dirinya baik-baik saja.

"Lihat ke depan, Rea," pinta Argatha dan Yosandrea segera menatap ke depan dengan panik.

Kenan terkekeh sambil berkata, "Lo emang pacarnya, tapi gue—segalanya."

***

Derasnya air hujan tidak menghentikan laju motor yang dikendarai oleh Argatha. Airnya pun sudah menembus pada kulit mereka. Bukan Argatha marah dan sengaja membiarkan Yosandrea kehujanan, tetapi ini permintaan gadis itu.

"Aku gak mau pulang, Arga," ucap Yosandrea setengah berteriak.

"Kenapa?" tanya Argatha heran.

"Aku pengen sama kamu lebih lama," jelas Yosandrea.

Argatha berpikir sejenak untuk membawa Yosandrea kemana. Hingga akhirnya lelaki itu menemukan jawabannya yang berhasil membuat Argatha melengkungkan bibirnya.

***

Yosandrea baru saja keluar dari toilet, ia menatap sejenak tubuhnya dari atas ke bawah, memastikan baju yang dipakainya cocok. Setelah itu barulah ia berjalan untuk menemui Argatha yang entah sedang apa selama menunggunya.

"Arga," panggil Yosandrea.

"Yes baby," sahut Argatha tanpa menoleh, karena laki-laki itu sibuk menaburkan bumbu di atas gumpalan air yang mendidih.

"Hmm ... wangi banget. Masak apa?" tanya Yosandrea.

Kepala gadis itu mengintip di antara lengan Argatha sambil memeluk badan kekar laki-lakinya itu.

Sebelum menjawab pertanyaan Yosandrea, Argatha membalikan tubuhnya seraya menyodorkan sendok ke depan mulut Yosandrea. Tanpa kata pun, Yosandrea tau ia harus mencicipinya.

"Enak!" ucap Yosandrea berbinar-binar.

Mendengar jawaban itu Argatha segera mematikan kompornya, lalu menuangkannya pada mangkuk.

"Habis kedinginan enaknya makan soup. Let's go baby," ajak Argatha yang diangguki Yosandrea semangat.

Jadi, karena Argatha bingung harus membawa Yosandrea kemana dengan keadaan baju seragam mereka yang basah. Munculah ide yaitu membawa Yosandrea ke rumahnya. Tujuannya agar gadis itu tidak kedinginan terlalu lama dengan seragam basahnya.

"Emang gak apa-apa aku pake bajunya Keisa?" tanya Yosandrea.

"Kenapa gak boleh? Selagi kamu gak panuan gak masalah," jawab Argatha, lalu laki-laki itu kembali menyeruput soup-nya.

"Enggaklah, badan aku bersih," ucap Yosandrea.

Gadis itu hendak menggigit rotinya, tetapi niatnya terurungkan setelah menyadari. "Eh, orang rumah pada kemana? Sepi banget di sini," tanya Yosandrea.

"Bunda, Ayah, Keisa mereka lagi liburan di rumah nenek," jawab Argatha.

"Jadi?"

"Kita cuma berdua di sini," ujar Argatha, lalu laki-laki itu menatap Yosandrea genit dan berkata, "HUAHAHAHA!"

"A-Apaansih?!" ketus Yosandrea.

Laki-laki itu tertawa melihat wajah ketakutan Yosandrea. Namun, tenang saja Argatha bukan laki-laki yang brengsek, ia hanya menakuti pacarnya saja.

Setelah soup habis di mangkuknya masing-masing, mereka kini terduduk di ruang tengah. Yosandrea sedang fokus mengobati luka pada wajah Argatha, sedangkan Argatha tidak henti-hentinya mengamati kecantikan gadisnya itu.

Sangat disayangkan perlombaan band besok Argatha harus tampil dengan wajah yang lebam dan luka seperti ini. Namun untungnya, tidak menghilangkan ketampanan Argatha yang ada laki-laki ini auranya malah bertambah.

"Kamu gak ada niatan pergi dari aku kan, Rea?" tanya Argatha, menghentikan aktivitas Yosandrea.

Gadis itu menggelengkan kepalanya.

"Hati kecil kamu?" tanya Argatha.

"Aku gak akan pergi Arga, kenapa harus pergi dari kamu?" tanya Yosandrea seraya membereskan obat-obatan ke dalam kotak P3K.

"Sejak kehadiran cowok sialan itu, aku bisa baca isi hati kamu, Rea. Entah hanya firasat atau benar—" Argatha berhenti berkata sejenak, ia meraih kompresan di tangan Yosandrea.

Bisa-Bisanya gadis itu hanya mengobati luka Argatha, padahal pipi kanan dia juga memar.

"Firasat apa?" tanya Yosandrea.

Sambil mengompres pipi Yosandrea, Argatha menjawab, "Aku ngerasa hati kecil kamu pengen kembali sama Kenan, tapi karena kamu udah sama aku—kamu berusaha menepis hati kecil kamu itu."

Deg!

Lihat selengkapnya