"Lo nangis?" tanya Bagas yang memperhatikan Annea daritadi.
"Kenapa lo, An?" tanya Theo panik.
Dengan cepat Annea menghapus air matanya, lalu menjawab, "Enggak, gue gak nangis."
"Gue gak buta," ucap Bagas yang kini mendudukkan dirinya di samping Annea.
"Baru tau gue seorang Annea bisa galau. Galauin siapa sih? Pasti si es batu itu?" tanya Theo.
"ANNEA!"
Ketiga orang tersebut terperanjat kaget secara serentak. Yosandrea masuk ke dalam kelas dengan wajah penuh emosi. Pandangan Annea teralihkan pada paper bag di tangan Yosandrea.
Itu miliknya untuk Kenzo.
"Stop! Buang-buang tenaga, energi dan juga duit lo, An-An!"
"Nih!"
Yosandrea menyimpan paper bag tersebut di atas meja.
"Cowok sialan itu gak bisa ngehargain lo! Jadi stop mulai dari sekarang," ucap Yosandrea.
Theo meraih paper bag tersebut, lalu berkata, "Dibuang sama Kenzo?"
"Iya, sialan banget tuh cowok! Sok kegantengan dan gak bisa ngehargain orang. Gue sumpahin kagak laku!" ujar Yosandrea menggebu.
"Wah, anying!" ketus Bagas emosi, lalu ia berkata kembali, "Buat gue aja lah, An. Apa ini isinya?"
"Jangan, Gas. Pasti udah berantakan isinya." Annea hendak meraih paper bag-nya, tetapi dengan cepat Bagas menahan tangan Annea.
Laki-laki itu mengeluarkan kotak makan, lalu membukanya. Dengan mata berbinar-binar Bagas berkata, "Wah! Sushi!"
"Bagas itu udah berantakan. Mana enak," ucap Annea.
"Bentuk bisa berubah, tapi rasa akan tetap sama," ujar Bagas berhasil membuat Yosandrea dan Theo mengacungkan jempolnya.
Karena tidak mau usaha Annea sia-sia begitu saja. Yosandrea, Bagas dan Theo memakan sushi tersebut bersama-sama. Mereka tau Annea pasti bangun pagi sekali untuk menyiapkan sushi yang sekelas restoran sushi mahal itu.
"Emh! Enak banget ... cobain An," tawar Yosandrea seraya menyodorkan sushi ke depan mulut Annea.
"Kan gue yang bikin. Ngapain nyuruh gue makan," ucap Annea.
"Eh, yang masak juga harus makan masakannya sendiri," ujar Yosandrea memaksa.
"Lo kasih racun ya?" tanya Theo.
"Kagak gila!" jawab Annea, akhirnya gadis itu membuka mulutnya untuk memakan sushinya.
Di tengah keasyikkan mereka memakan sushi sambil menunggu bel masuk. Theo dan Bagas tersadar bahwa mereka kurang satu orang.
"Kenan kemana, Re?" tanya Bagas.
"Mana gue tau, gue pergi sama Arga tadi," jawab Yosandrea.
Ngomong-ngomong soal Argatha, Yosandrea baru ingat bahwa dirinya tengah marah pada laki-laki itu.
Seriusan, Yosandrea dibiarkan begitu saja.
Obrolan mereka terhenti setelah bel masuk berbunyi. Dengan cepat Bagas dan Theo kembali ke tempat duduknya masing-masing, sedangkan Yosandrea langsung terduduk di kursi bekas Bagas seraya menyimpan tasnya.
Sudah menjadi aktivitas sebelum guru datang, Yosandrea akan mengabsen teman-temannya satu persatu. Saat nama Kenan yang dibaca gadis itu melirik ke arah jendela. Berharap laki-laki itu ada di luar kelas.
"Kemana sih tuh anak?" tanya Yosandrea sendiri.
"Bolos kali," sahut Annea yang tengah memainkan ponselnya.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi, Pak!" Serentak menjawab guru mata pelajaran yang baru saja masuk kelas.
Yosandrea beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri meja guru untuk memberikan buku absensi.
"Kenan? Kemana dia?" tanya Pak Ripto.
"Gak tau, Pak. Gak ada kabar apa pun," sahut Yosandrea.
"Motornya ada kok di parkiran," ucap Dessy memberitahu.
"Lah?" Yosandrea terheran-heran.
"Mm ... hari ini saya mau mengadakan ulangan harian ya, tapi saya ingin semua murid hadir di kelas. Karena motor Kenan ada di parkiran kemungkinan orangnya ada di sekitar sekolah—"
"Saya minta tolong sama kamu Rea, cari Kenan ya?" pinta Pak Ripto.
Dengan rasa malas, Yosandrea mengangguk sambil berkata, "Baik Pak, kalo gitu saya cari dulu Kenannya."
Yosandrea melenggang pergi keluar kelas dengan kesal. Tidak bundanya, tidak Pak Ripto, mereka menyuruh Yosandrea untuk menghampiri laki-laki itu. Padahal Yosandrea sudah berjanji tidak mau berurusan dengan Kenan lagi, tetapi susah sepertinya.
Seolah orang-orang di sekitarnya selalu punya cara untuk menyatukan mereka.
"Ck! Kemana sih?! Bukannya langsung masuk kelas. Telinganya budek apa gak dengar bunyi bel!" oceh Yosandrea di sepanjang pencarian Kenan.
Tempat yang pertama Yosandrea datangi adalah Kantin, tetapi tidak ada Kenan di sana. Bahkan, tidak ada satu orang pun di kantin. Gadis itu berpindah tempat ke parkiran, siapa tau Kenan diam di sana.
"Gak ada," ucap Yosandrea.
"Apa di taman ya?"
Sudah pergi ke taman belakang sekolah pun, Kenan tidak ada di sana. Bahkan, Yosandrea sudah melakukan beberapa panggilan telepon, tetapi tidak ada jawaban. Hampir Yosandrea menyerah mencari keberadaan laki-laki itu, tetapi hatinya meminta Yosandrea untuk mencari Kenan ke lapangan olahraga.
"Demen banget ya nyusahin gue. Gak pas kecil, gak pas gede—sama aja nyusahin gue mulu tuh anak setan!" ujar Yosandrea kesal.
Saat masuk ke lapangan olahraga, Yosandrea mendengar bunyi pantulan-pantulan dari sebuah bola. Tidak jauh dari jaraknya, Yosandrea akhirnya menemukan Kenan. Laki-laki itu tengah mendribble kecil bola basket.