Seperti yang di bilang Alex, sepulang sekolah Kenan berjalan menuju lapangan basket untuk memperkenalkan dirinya sebagai anggota baru. Malas rasanya untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler ini, tetapi Kenan ingin menunjukkan pada Yosandrea, bahwa ia mempunyai bakat dan bisa seperti Argatha nantinya.
"Hari ini kita kedatangan teman baru yang akan bergabung bersama Legassport," jelas Alex kepada teman-temannya.
"Kenalin nama gue Kenan Arvaenza, mulai hari ini gue akan bergabung bersama tim basket Legassport. Salam kenal semuanya," jelas Kenan.
Satu persatu dari mereka berjabat tangan dengan Kenan sambil menyebutkan namanya.
"Gue Alfin, salam kenal."
"Salam kenal, gue Yuda."
"Gue Andrew."
"Mereka pemain inti. Untuk pemain cadangan gak gue suruh ke sini. Nanti aja kenalan sama merekanya pas ada kegiatan," jelas Alex.
"Oke, gak masalah."
Setelah perkenalan itu, mereka berlima berbincang-bincang dengan Kenan mengenai club basketnya. Mereka memperkenalkan pada Kenan lebih dalam soal strategi dan hal-hal yang belum Kenan ketahui.
***
"Jangan marah lagi ya cantik," ucap Argatha setelah Yosandrea turun dari motor.
"Itu juga salah kamu," sahut Yosandrea cemberut.
Argatha mengernyitkan keningnya, lalu berkata, "Kok aku yang salah?"
"Ya kamu, udah tau tuh cewek ketempelan ulat bulu mulu tiap harinya. Malah diladenin," jelas Yosandrea, lalu gadis itu kembali berkata, "Tau ah, aku kesel!"
"E-eh!" Argatha berhasil menahan langkah Yosandrea.
Tangannya terulur untuk mengusap pipi perempuannya, lalu berkata, "Iya maaf aku yang salah. Makanan dari Distria juga dimakan sama temen-temen kok, aku gak makan."
Mendengar kata teman, Yosandrea jadi teringat soal Kenzo.
"Oh iya, tadi Annea nangis," ucap Yosandrea.
"Kenapa dia?"
"Kenzo yang bikin Annea nangis. Aku juga tadi pagi sempat adu mulut sama dia," jelas Yosandrea, lalu ia kembali berkata, "Sialan banget temen kamu yang itu, sok kegantengan. Tadi dia kepergok sama aku buang pemberian dari Annea. Kalo sekiranya gak mau ya gak usah diterima lah, aneh banget."
Mendengar cerita Yosandrea, Argatha akhirnya memilih untuk jujur soal Kenzo yang selama ini memang seperti itu.
"Sebenarnya, emang dari dulu pemberian dari Annea sering Kenzo buang, tapi kadang aku sama temen-temen yang ambil. Bisa dibilang barang atau makanan dari Annea gak pernah ada di tangan Kenzo satu pun," jelas Argatha membuat Yosandrea melongo mendengarnya.
"Surat—" Argatha melanjutkan pembicaraannya, "Apalagi itu gak ada lima detik, dia langsung robek-robek."
"Gila!" ketus Yosandrea.
"Tapi Rea, Kenzo kayak gitu ada alasannya. Dia—"
"Ya tapi kenapa gak dari awal aja dia tolak. Biar waktu, tenaga dan uang Annea tuh gak sia-sia buat dia selama ini. Gila ya! Liatin aja besok gue—"
"Rea, Rea, dengerin aku dulu," pinta Argatha.
"Kamu ingat gak dulu Kenzo gimana sikapnya? Waktu pertama kali kita pacaran," tanya Argatha.
Sejenak Yosandrea mengingat kembali saat dirinya diajak oleh Argatha pertama kalinya ke studio musik utama, bukan studio musik di sekolah.
"Wih ... siapa nich?" tanya Anggara setelah Argatha masuk membawa Yosandrea.
"Pantes ceria banget akhir-akhir ini," ucap Jeno.
"Udah beda lagi aja perasaan baru kemarin yang rambutnya pendek, ya Gar?" ucap Kenzo membuat Argatha menatapnya sinis.
"Kagak ada ya monyet! First time gue bawa cewek ke studio juga," ketus Argatha.
"Emang sialan si Kenzo," sahut Jeno sambil tertawa.