Di kursi sofa Argatha terduduk dengan tatapan fokus menatap layar ponselnya. Rahangnya mengeras dan beberapa kali ia menggertakan giginya. Tidak lama dari itu Argatha langsung melemparkan ponselnya pada sofa di seberangnya.
"Persetan teman masa kecil!"
"Arrghh!"
"Sialan!"
Pintu studio terbuka, tetapi itu tidak mengalihkan pandangan Argatha. Siapa lagi sih yang masuk ke studio, pastinya tidak jauh dari Kenzo, Anggara atau Jeno. Melihat Argatha yang tampak frustasi, Anggara terduduk di samping temannya itu.
"Masih masalah Kenan sama Rea?" tanya Anggara.
"Ya masih lah, gue gagal singkirin si sialan itu," jawab Argatha.
"Lo apain?" tanya Anggara.
"Gagal Gar, gue udah ngomong," sahut Argatha.
Anggara berdecak, lalu kembali berkata, "Ya rencananya lo mau apain dia?"
"Apa lagi? Kayak biasa aja gue apain kalo ada orang yang berani deketin Rea. Kayak baru kenal gue aja lo," jelas Argatha, lalu ia membuka minuman dalam kaleng yang sebelumnya di atas meja.
Mendengar ucapan Argatha, Anggara merasa heran baru kali ini rencana Argatha gagal. Biasanya tidak memakan waktu lama pasti laki-laki yang mendekati Yosandrea sudah berlutut di hadapan Argatha hari itu juga. Entah karena Argatha setengah takut pada Yosandrea soal melukai Kenan atau memang Kenan yang terlalu kuat.
"Harus gue apain ya?" tanya Argatha.
"Berapa orang tadi yang lo suruh?" tanya Anggara.
"Tiga," jawab Argatha.
Sebelum lanjut berkata Anggara membuka jaketnya terlebih dahulu. "Tambahin," ucapnya.
"Tapi lo tau Gar—"
Pandangan Anggara beralih mengikuti Argatha yang beranjak dari tempat duduk, mengambil ponsel di sofa seberang, hingga terduduk kembali di sebelahnya. Argatha memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan sebuah maps.
"RS Advent Sehat—"
"Siapa yang masuk rumah sakit?" tanya Anggara kebingungan.
"Kenan," sahut Argatha, lalu ia kembali berkata, "Ini bukan google maps, tapi ini aplikasi pelacak keberadaan seseorang. Siapa yang gue lacak?"
"Re—a?"
"Betul!" jawab Argatha.
Detik berikutnya laki-laki itu tersenyum getir sambil berkata, "Jadi menurut lo, gue akan berhasil singkirin si Kenan?"
Argatha sendiri menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sulit Gar, dan gue akui apa yang di bilang Kenan soal—"
"Gue pacar Rea, tapi Rea pasti selalu ada di pihak Kenan dan itu benar."
"Terus sekarang lo mau putusin Rea?" tanya Anggara.
"Enggak lah gila," sahut Argatha.
"Kecintaan banget ya lo, sialan. Udah jelas-jelas cewek lo peduli sama cowok lain masih mau sama dia," ucap Anggara dengan dahi yang mengkerut.
Argatha malah tertawa kecil, lalu ia kembali berkata, "Nikmatin aja dulu lukanya sampai gue bener-bener mati rasa."
***
Suara detak jam terdengar samar. Perlahan matanya terbuka, lalu tertutup lagi ketika menatap sorot lampu yang cukup terang. Kenan merasa tangan kanannya berat, hal itu membuat dirinya berusaha menoleh ke arah samping.
"Oca," panggilnya pelan.
Walaupun hanya rambut yang terlihat, Kenan yakin perempuan itu adalah Yosandrea. Lagi pula siapa lagi yang akan berada di sampingnya? Hanya Yosandrea yang Kenan miliki.
"Ca ..." panggilnya lagi.
Mata Yosandrea terbuka perlahan, lalu ia segera menegakkan tubuhnya setelah ingat dirinya sedang berada di rumah sakit. Pandangan Yosandrea langsung beralih pada Kenan yang kini tengah menatapnya.
"Lo udah bangun?" tanya Yosandrea.
"Menurut lo?" tanya Kenan sambil perlahan mengangkat tangannya yang kesemutan karena dijadikan bantalan oleh gadis itu.
"Ish! Galak banget jawabnya udah gue tolongin juga," ketus Yosandrea.
"Lo hampir mati tau kalo gak gue tolongin," lanjut Yosandrea berkata.
Mendengar ucapan Yosandrea, Kenan tersenyum dan berkata, "Lo sayang sama gue ya, Ca?"
"Dih!"
"Ya, kan?" tanya Kenan.