"KENAN!"
"LO NGAPAIN DI KAMAR GUE, SETAN!"
BAK!
BUK!
BAK!
"Akh! Oca sakit!" teriak Kenan setelah Yosandrea memukulnya beberapa kali menggunakan tasnya.
Ingat bahwa Kenan baru saja pulang dari rumah sakit, Yosandrea sontak menghentikkan aksi pukulannya. Gadis itu menatap Kenan tajam dengan napas yang terengah-engah karena tersulut emosi. Kenan yang melihat itu sontak terduduk dari baringnya sambil meringis karena luka-lukanya yang kembali perih.
"Sakit Ca—"
"Bodo amat!" ketus Yosandrea, lalu gadis itu kembali berkata, "Lo punya rumah sendiri, tapi lo malah tidur di kamar gue!"
"Bunda yang suruh gue jagain rumah," sahut Kenan.
"Rumah! Bukan kamar gue!" bentak Yosandrea yang masih kesal.
"Ya maaf ... habis kamar lo—"
Ucapan Kenan terhenti setelah melihat gadis di hadapannya meraih sesuatu yang tergeletak di bawah kasur. Yosandrea meraih secarik foto dirinya bersama Kenan di masa kecil dulu. Matanya berbinar-binar menatap dirinya saat kecil yang begitu menggemaskan.
"Ih! Lucu banget gue-nya," ucap Yosandrea seraya tersenyum.
"Yang sebelahnya mah terserah," lanjut Yosandrea berkata.
"Imut kayak gitu gak kelihatan sama lo?" tanya Kenan yang kini laki-laki itu terduduk di lantai, samping Yosandrea.
Keduanya sama-sama memandang fotonya dan keduanya pun sama-sama memutar kembali memori masa kecil di kepalanya.
"Gue pengen balik lagi ke masa kecil," ucap Kenan.
"Gue juga," sahut Yosandrea.
"Yang ada dipikiran hanya makan, belajar main dan lo. Meski rumah bukan tempat gue pulang, gue yang polos itu belum sepenuhnya mengerti kayak sekarang," jelas Kenan.
"Tapi ... gue rasa lo mending sekarang dibanding waktu kecil. Lo gak ngerasain lagi dipukulin sama mama dan lo gak lihat lagi mama yang disiksa sama papa angkat lo," ucap Yosandrea seraya menatap Kenan di sampingnya.
Kenan tersenyum getir, lalu berkata, "Lo belum tau aja gimana kehidupan gue sebelum kembali ke rumah ini."
Iya juga.
Sebelum Kenan kembali ke rumah ini, Kenan pasti tinggal bersama papa Verlo dan Yosandrea tidak tahu bagaimana Kenan di sana. Lalu apa alasannya Kenan memilih kembali ke rumah ini sendirian, Yosandrea juga belum tahu.
"Jadi lo gak baik-baik aja waktu tinggal sama om Verlo?" tanya Yosandrea yang mendapati gelengan kepala dari Kenan.
"Papa udah punya keluarga baru dan keluarga barunya itu selalu menyudutkan gue. Kalo emang gue bahagia dan baik-baik aja, buat apa gue kembali ke sini Oca?" jelas Kenan.
"Ya ... siapa tau karena gue."
Ucapan Yosandrea berhasil membuat Kenan menoleh dengan cepat ke arahnya.
"Tuh kan lo itu sebenernya masih berharap kalo gue cinta sama lo."
"Kagak!" ketus Yosandrea.
"Jujur aja gak apa-apa, gak akan gue cepuin Arga kok," sahut Kenan.
"Sakit ya, lo?" tanya Yosandrea setengah emosi.
Mendapat pertanyaan seperti itu Kenan mencebikkan bibirnya, lalu menganggukan kepalanya. "Pengen disayang," ucapnya.
"IH! NAJIS!" ketus Yosandrea seraya berdiri dari duduknya.
Lantaran sulit mengusir Kenan di sana, Yosandrea memilih untuk mengabaikannya saja. Kini gadis itu menyalakan tab-nya, ia melanjutkan kembali menggambar komiknya untuk persiapan chapter berikutnya.
Terdengar suara tarikan dus yang dilakukan oleh Kenan dan Yosandrea memilih untuk tetap mengabaikannya saja.
Hingga ketika bunyi sebuah musik terdengar di telinga Yosandrea, barulah gadis itu menoleh pada Kenan. Laki-Laki itu ternyata baru saja menyalakan bola kristal pemberiannya pada Yosandrea waktu kecil.
"Loh, masih bisa nyala?" tanya Yosandrea seraya menghampiri Kenan.
"Masih. Ini gak rusak cuma perlu ganti baterai aja," jawab Kenan.
Bola kristal tersebut Kenan kocok-kocok, lalu ia letakan di telapak tangannya untuk memperlihatkan pada Yosandrea. Mata gadis itu berbinar-binar, di saat melihat bola-bola saju yang perlahan turun mengenai princess dan juga prince yang tengah berdansa di dalam bola kristal tersebut.
Bibir Yosandrea seketika melengkung sempurna membentuk senyuman, sesekali ia beralih melirik pada Kenan di sampingnya.
"Maaf," ucap Kenan.
"Seharusnya waktu itu di saat acara ulang tahun lo selesai, gue ada di samping lo kayak gini," lanjut Kenan berkata.
Kepergian Kenan dulu di hari ulang tahunnya kembali teringat oleh Yosandrea. Itu benar-benar kenangan ulang tahun yang pahit sekali, lebih pahit dari expresso double shot pokoknya.
"Udah lah, itu semua udah lama berlalu," ucap Yosandrea sambil meraih bola kristalnya di tangan Kenan.
Bola kristal tersebut Yosandrea letakan di atas nakas samping tempat tidurnya. Entah, kenapa tiba-tiba dipajang. Dan hal itu berhasil menyentuh hati Kenan. Itu artinya Yosandrea tidak membuang apapun soal Kenan.
"Tadi gue ketemu mama, Ca," ucap Kenan.
"Serius? Di mana?" tanya Yosandrea.
"Rumah sakit, tapi it—"
Krukkkk!
Seketika Yosandrea memegangi perutnya dengan raut wajah yang malu. "Laper. Makan, yuk?" ajak Yosandrea.
***