Sepanjang jalanan komplek Yosandrea terisak-isak menangis di bahu Kenan. Laki-laki itu tentu menyadari bahwa Yosandrea sudah mau menangis saat Kenan menjemputnya. Jadinya Kenan meminta Yosandrea untuk naik ke punggungnya untuk Kenan gendong.
"Sakit hati gue Ken ... sakit banget, ih!"
"Selama ini ...."
"Selama ini—Arga ...."
"Dia se-selingkuh ...."
Kenan menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Yosandrea yang terbata-bata.
"Selingkuhin lo?" tanya Kenan dan Yosandrea mengangguk di tengah isak tangisnya.
"Sama Cilla ... sahabat kecil gue ...."
"Gue baru tau tadi ...."
"Anjing!" ketus Kenan yang merasa emosi dan tidak terima atas perlakuan Argatha pada Yosandrea.
Yosandrea tidak mengangguk, ia terdiam sejenak, lalu berkata, "Tapi gue—"
"Lo masih sayang sama cowok yang selingkuh?" tanya Kenan.
Gadis itu malah kembali menangis. Rasanya Yosandrea masih tidak terima dengan hari-harinya nanti yang tanpa Argatha. Di satu sisi Yosandrea tidak mau juga kembali dengan cowok tukang selingkuh, tapi di sisi lain berat rasanya melepas seseorang yang sudah menjadi bagian dalam kehidupan.
Sesampainya di depan rumah, Yosandrea turun dari gendongan Kenan. Ia mengusap air matanya sejenak, seraya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kenan yang melihat itu, ia sontak mengusap kepala Yosandrea seraya menatap gadis itu.
"Udah jangan nangis terus. Masuk rumah, langsung istirahat," ucap Kenan.
Lalu, laki-laki itu kembali berkata, "Kalo butuh bantuan gue buat bakar-bakarin kenangan sama Arga, gue siapin api unggun yang besar nanti."
"Nanti aja," sahut Yosandrea.
Kenan seketika menatap Yosandrea datar.
Yosandrea yang ditatap seperti itu, ia langsung berkata, "Gue butuh waktu, Ken ...."
"Oke, ya udah sana masuk. Gue mau lanjut main," ucap Kenan.
"Sama siapa?" tanya Yosandrea.
"Ada Theo sama Bagas di rumah. Mereka nginep di sini," jawab Kenan.
Yosandrea pun mengangguk-anggukan kepalanya, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam rumah. Bunda yang masih terduduk di sofa sambil memainkan ponselnya, seketika pandangannya beralih ke arah Yosandrea yang baru saja tiba.
Kening Bunda mengernyit, melihat wajah anak gadisnya yang tampak sembab dan merah.
"Kamu habis nangis?" tanya Bunda.
Belum menjawab, Yosandrea menjatuhkan dirinya pada kursi dan segera memeluk Bunda.
"Kenapa? Kamu jatoh?" tanya Bunda panik.
Yosandrea menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Aku ... lagi ada masalah."
"Bunda boleh tau? Bisa ceritain sama Bunda? Biar Bunda bantu," tanya Bunda dan Yosandrea hanya menggelengkan kepalanya.
Gadis itu berpikir untuk tidak menceritakannya pada Bunda sekarang. Nanti saja setelah keadaan Yosandrea membaik dan benar-benar menerima, bahwa dirinya dan Argatha sudah selesai.
"Oke gak apa-apa, Bunda gak maksa cerita kok, kalo kamu bisa selesaikan sendiri," ucap Bunda seraya mengusap lembut kepala Yosandrea.
"Terus tadi kamu kemana dulu? Katanya ke minimarket doang. Bunda khawatir sampai suruh Kenan cari kamu," ucap Bunda.
Yosandrea melepaskan pelukannya, ia menyandarkan tubuhnya pada belakang sofa. "Aku ketemu Cilla tadi. Terus kita ngobrol-ngobrol di cafe samping minimarket," jelas Yosandrea.
"Bunda ingat Cilla, kan?" tanya Yosandrea.
"Cilla?" tanya Bunda seraya mengingat.
"Teman aku waktu SD," sahut Yosandrea.