"Lama banget, Rea, lo habis pup, ya?" tanya Annea seraya meraih helm yang ia sampirkan di spion motor Bagas.
"Ke toiletnya bentar, tapi ada Arga tadi," jawab Yosandrea.
Kenan sontak menoleh ke belakang setelah gadis itu terduduk di atas motornya. Yosandrea yang sadar dilihat dengan penuh keheranan, ia pun menjelaskan kejadian tadi sambil memakai helm-nya.
Karena langit mulai gelap, mereka berlima—Yosandrea, Annea, Bagas, Theo dan Kenan segera melajukan motornya untuk pergi ke festival malam. Mereka berboncengan, kecuali Theo yang jok motornya kosong.
Ngomong-ngomong soal berboncengan, dari sejak kapan ya Annea jadi dekat sekali dengan Bagas. Mereka memang dekat, tapi kali ini dilihat-lihat Annea sudah tidak pernah membawa motornya sendiri. Pergi dan pulang selalu bersama Bagas, bahkan saat makan di kantin pun mereka selalu duduk berdampingan.
"Annea pacaran sama Bagas?" tanya Yosandrea pada Kenan.
"Apa?" Kenan tidak bisa mendengar suara Yosandrea dengan jelas.
Gadis itu pun mendekatkan kepalanya ke samping telinga Kenan. "Annea pacaran sama Bagas?" tanyanya kembali.
"Gak tau, tapi semenjak Annea berhenti suka Kenzo, mereka jadi lebih nempel ya," ucap Kenan.
Oh iya!
Mereka menjadi dekat semenjak Annea memutuskan untuk menjauh dari Kenzo.
"Menurut lo mereka pacaran gak?" tanya Yosandrea, lalu kembali berkata, "Ayo taruhan."
"Serius?" tanya Kenan yang diangguki Yosandrea.
"Kalo gue menang, lo harus beliin gue matcha asli Jepang," pinta Yosandrea.
"Gampang ..." sahut Kenan, lalu ia kembali berkata, "Kalo gue yang menang, gue bakar-bakarin barang lo dari Arga ya."
"Oke! Siapa takut, gue udah gak peduli apa pun soal Arga. Leher gue aja kosong sekarang," jelas Yosandrea.
Kenan belum sadar kalo Yosandrea tidak memakai kalungnya dan Kenan juga baru tahu kalo itu kalung pemberian Argatha.
"Nanti gue pakein kalung—"
"Serius? Beliin gue kalung yang cantik ya!" pinta Yosandrea semangat.
"Harness kucing."
"ANAK SETAN!" ketus Yosandrea.
***
Minuman kaleng diteguknya hingga tersisa setengah. Argatha menyandarkan pada kursi sofa di studio dengan tatapan kosong menatap langit-langit ruangan itu. Lamunan Argatha terbuyarkan setelah Kenzo melemparkan kalung ke arahnya.
"Sial, malah dipungut," ucap Argatha.
"Masih bagus itu. Bukannya lo bilang kalung yang dikasih Rea ada kadar emasnya? Enteng banget main buang-buang," jelas Kenzo.
"Terus siapa yang mau pake?" tanya Argatha.
"Kasih Cilla," jawab Kenzo.
Argatha menghiraukan saran Kenzo, ia pakai saja kalungnya sendiri, daripada harus terbang ke Korea cuma kasih kalung yang hampir rusak.
"SELAMAT MALAM SEMUANYA!" teriak Jeno yang baru saja masuk ke dalam ruangan bersama Anggara.