That Little Promise

achamrsha
Chapter #36

Bab 36 - Currrr!

Wahana selanjutnya yang mereka datangi adalah rumah hantu. Di depan pintu masuk rumah hantu tersebut Yosandrea mendangak, melihat bangunan tua yang mungkin memang ada hantu aslinya, pikir Yosandrea.

"Belum masuk gue udah merinding," ucap Yosandrea.

"Setannya juga bohongan," sahut Kenan.

"Gimana kalo ternyata kita ketemu yang aslinya? Kita pikir itu karyawan yang lagi cosplay, padahal setan beneran," tanya Yosandrea berhasil membuat Annea jadi ikutan merinding.

"Udah ayo masuk aja," ajak Bagas.

"Penakut lo, Rea," ucap Theo.

Mereka berlima pun segera masuk ke dalam rumah hantu tersebut. Di sana bukan hanya sekedar jalan-jalan, tetapi mereka disuruh untuk menyelesaikan misi yaitu mencari tiga buku yang disimpan acak, lalu terakhir mereka disuruh mencari kunci untuk pintu keluar.

Tidak lepas-lepas, Yosandrea menggandeng lengan Kenan dengan erat. Gadis itu sesekali menyembunyikan wajahnya dibalik lengan Kenan saat mereka masuk ke ruangan.

Annea juga takut, tetapi gadis itu hanya bisa memegang jaket Bagas dan berlindung di balik punggung laki-laki tersebut.

"Buku Thew! Ambil-ambil!" pinta Kenan seraya menunjuk.

Theo yang melihat pun segera berjalan ke arah kiri di mana bukunya tergeletak di atas kursi usang.

"WAAA!"

"ANYING!"

"AAA!"

Dengan cepat Theo dan yang lainnya berlari menuju ruangan berikutnya. Mereka tidak berekspektasi akan adanya setan dibalik kursi itu. Benar-benar pintar sekali setan tersebut berkamuflase.

"Lo ambil gak bukunya?" tanya Annea.

Theo mengangkat bukunya. "Aman," sahut Theo dengan napas terengah-engah.

Mereka pun kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari buku tersebut, tetapi bukan buku yang didapat, melainkan setan yang berhasil membuat jantung mereka loncat. Menit kemudian, mereka sudah memegang dua buku, itu artinya tinggal satu buku lagi yang harus dicari.

Kini mereka kebingungan. Di sana ada dua jalan, jalan kanan dan jalan kiri. Untuk mempersingkat waktu mereka harus berpencar, tetapi bukan berpencar sendiri-sendiri, melainkan membagi dua kelompok. Akhirnya sudah ditentukan—jalan kanan akan dilalui oleh Annea, Bagas dan Theo. Untuk jalan kiri oleh Kenan dan Yosandrea.

"Kenan gue takut," ucap Yosandrea seraya melirik ke samping dan belakangnya.

"Aman ada gue, gak usah takut," sahut Kenan sambil melihat dengan teliti ke seluruh area tersebut.

"Gue gak sanggup lagi kalo di jumpscare. Jantung gue udah nangis-nangis ini," ujar Yosandrea.

Kenan berhenti melangkah dan itu berhasil membuat Yosandrea tersentak. Ia pikir Kenan melihat ada setan, ternyata laki-laki itu malah sedang melirik ke arahnya.

"Ih! Kirain berhenti karena ada setan," ucap Yosandrea.

"Ada," sahut Kenan.

Seketika Yosandrea celingukan ke kanan dan ke kiri, lalu bertanya dengan panik, "Mana?"

"Ini—yang gue lihat—setannya."

BUGH!

Di sisi lain Annea, Bagas dan Theo masih sibuk berjalan seraya mencari keberadaan satu buku tersebut. Namun, sepanjang perjalanan tanpa Annea sadari Bagas terus memperhatikan dirinya. Mata laki-laki itu sesekali melihat untuk mencari buku dan sesekali melirik Annea dengan tatapan dalam.

"Gas, Theo mana?" tanya Annea yang baru sadar laki-laki itu tidak ada di belakangnya.

Bagas tidak menjawab, ia malah terus menatap Annea. Sampai akhirnya gadis itu sadar bahwa Bagas tengah menatapnya dan tatapan itu bukan tatapan yang biasa. Annea tidak merasa salah tingkah dengan tatapan itu—yang ada ia merasa takut.

"Lo gak lagi kesurupan kan, Bagas?" tanya Annea.

"Kok kesurupan?" tanya Bagas.

Lihat selengkapnya