Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh siswa dan siswi Legaskar High School adalah pentas seni, yang selalu diadakan selepas ulangan akhir semester. Kegiatan ini diadakan untuk hiburan setelah pikiran mereka dipenuhi oleh mata pelajaran selama seminggu.
Di depan cermin Yosandrea sibuk mengikat rambutnya. Ia memilih gaya rambut kepang dua hari ini. Yosandrea sangat merasa cocok dengan gaya rambut seperti ini, jika mengenakan seragam olahraga. Dan kabarnya Annea juga akan memilih gaya rambut kepang, tetapi bedanya gadis itu memilih kepang satu saja.
"Rea ..."
Pandangan Yosandrea beralih pada pintu kamarnya yang dibuka oleh seseorang. Di sana Annea berdiri seraya tersenyum ke arah sahabatnya itu.
"Semangat banget lo pagi-pagi udah ke sini," ucap Yosandrea seraya menghampiri sahabatnya itu.
Yosandrea mempersilakan Annea untuk masuk ke dalam kamarnya. Annea langsung terduduk di tepi tempat tidur Yosandrea.
"Lo udah sarapan?" tanya Yosandrea.
"Belum," jawab Annea.
"Ayo ke bawah, kita sarapan bareng," ajak Yosandrea.
Di meja makan Bunda sudah menyiapkan pancake dan juga segelas susu. Setelah itu Bunda memilih untuk kembali ke dapur, menyelesaikan pesanan kue hari ini. Yosandrea dan Annea sempat mengajak Bunda untuk sarapan terlebih dahulu, tetapi Bunda menolak, mempersilakan untuk sarapan duluan saja.
"Oca, Kenan udah berangkat belum?" tanya Bunda setengah berteriak.
"Udah Bunda, Kenan berangkat jam lima, soalnya harus latihan," jelas Yosandrea sebelum menyuapkan pancake-nya.
"Ya udah Bunda buatin bekal aja, pasti dia belum sarapan. Nanti kasih Kenan ya, Ca," pinta Bunda yang disetujui oleh Yosandrea.
"Sayang banget ya Tante Allaya sama Kenan," ucap Annea.
"Emang, lebih sayang Kenan dibanding gue malah," sahut Yosandrea membuat Annea tertawa.
Yosandrea kembali fokus pada makanannya, hingga detik berikutnya Yosandrea tiba-tiba teringat soal Argatha. Sering kali setiap mengingat laki-laki itu hati Yosandrea terasa sakit.
"An," panggil Yosandrea.
"Kenapa?" tanya Annea melirik.
"Pensi Tahun ini gue gak lagi berdiri di depan panggung—tapi gue berdiri di lapangan," ucap Yosandrea tersenyum getir.
"Bukan lagi Arga yang gue sebut di dalam rasa bangga gue. Rasanya—"
"Gue masih belum terima kalo gue sama Arga udahan, An," jelas Yosandrea dengan mata yang berkaca-kaca.
Annea mengerti dan Annea paham apa yang dibicarakan Yosandrea. Perlahan tangannya mengusap lengan Yosandrea, lalu ia berkata, "Gue mau nanya deh sama lo."
"Di hati lo—hati lo yang paling ... dalam, itu ada Arga apa Kenan? Gue lihat lo tuh ya, Rea, lo dilema. Di saat lo sama Arga hati lo selalu berpihak ke Kenan, tapi di saat sekarang lo udah sama Kenan, hati lo belum lepasin Arga—"
"Jadi sebenernya lo tuh mau sama Arga apa sama Kenan? Coba tanya diri lo sendiri berulang kali deh," saran Annea.
"Hari ini kesempatan terakhir lo, Rea, karena Arga—" Annea seketika menghentikan ucapannya, ia memejamlan matanya dan mengumpati dirinya di dalam hati.
"Kenapa Arga?" tanya Yosandrea.
"Arga kemana, Oca? Kok akhir-akhir ini dia gak jemput kamu? Bunda perhatiin kamu lebih sering sama Kenan," tanya Bunda seraya menyerahkan dua kotak bekal.
"Ini satu lagi buat siapa Bunda?" tanya Yosandrea.
"Buat Arga lah," jawab Bunda terheran-heran.
"Kamu baik-baik aja sama Arga?" tanya Bunda.
Yosandrea terdiam tidak bergeming, ia segera memasukkan kotak bekal tersebut ke dalam tasnya.
"Bunda nanya loh kok gak dijawab," ucap Bunda.
"Aku putus sama Arga, Bunda," sahut Yosandrea.
"Loh?"
"Nanti aku cerita kalo aku udah pulang," ucap Yosandrea.
Bunda pun tampak mengangguk, lalu ia berkata, "Ya udah kalian hati-hati di jalan."
"Makasih Tante, sarapannya. Aku pamit berangkat ya," ucap Annea seraya tersenyum.
"Pergi dulu, Bun," pamit Yosandrea.
***
Sesampainya mereka di sekolah. Annea dan Yosandrea berjalan berdua dengan mata yang berbinar-binar. Bukan senang melihat dekorasi pentas seni, melainkan mereka senang melihat bazzar makanan yang berjajar di sana.
"Tanghulu, An!" tunjuk Yosandrea.
"Ih! Ayo beli, Rea!" ajak Annea semangat.
Dengan cepat mereka berjalan menghampiri bazzar makanan tanghulu. Yosandrea memilih buah stroberi, sedangkan Annea memilih buah anggur. Setelah menyelesaikan pembayaran, keduanya segera berjalan ke arah lapangan.
Benar apa kata Yosandrea, biasanya mereka langsung berdiri di depan panggung. Menyaksikan Band Legas, tetapi kali ini mereka berdua, bahkan Theo dan Bagas berada di lapangan untuk mendukung Legassport yang di dalamnya ada Kenan.
"Udah megang makanan aja baru dateng," ucap Theo.
"An, mau dong," pinta Bagas seraya mendekat.
Annea pun menyodorkan tanghulu tersebut di depan mulut Bagas. Dengan cepat laki-laki itu menggigitnya, lalu mengunyahnya dengan ekspresi mengernyitkan keningnya.
"Nusuk-nusuk gulangnya," ucap Bagas.
"Tapi enak, kan?" tanya Yosandrea setelah mengunyah stroberinya.
"Enak," sahut Bagas.