"KENAPA KAMU HARUS BOHONG ARGA! KALO EMANG GAK SELINGKUH, KENAPA KAMU HARUS BILANG KAMU SELINGKUH?!" tanya Yosandrea di tengah isak tangisnya.
Gadis itu memukul lengan Argatha, lalu ia berkata dengan suara yang bergetar, "Hubungan kita masih bisa diperbaiki Arga ..."
"Udah jangan nangis, Rea ..." pinta Argatha seraya mengusap air mata Yosandrea.
"Kenapa kamu kayak gini ..." tanya Yosandrea lagi dengan suara yang masih bergetar.
Perlahan tangan Argatha menangkup wajah Yosandrea, ia menatap dalam mata Yosandrea seraya berkata, "Aku cuma gak mau kamu terbebani, kamu bingung dan kamu bimbang sama hati kamu sendiri yang terus bertanya-tanya antara aku atau Kenan."
"Ya aku bakal pilih kamu Arga!" sahut Yosandrea.
"Tapi hati kamu setengah-setengah kan jadinya?" tanya Argatha.
"Cinta itu gak harus memiliki Rea," ucap Argatha.
"Mana bisa!" ujar Yosandrea frustasi.
"Bisa ... buktinya—udah berapa lama kita putus? Aku masih sayang sama kamu dan rasa cinta aku gak pernah berubah sedikit pun," jelas Argatha.
"Arga ..." panggil Yosandrea memohon.
"Rea ..." sahut Argatha, lalu kembali berkata, "Janji itu harus ditepati Rea, gak boleh diingkari."
"Aku masih sayang sama kamu Arga—"
"Tapi hati kecil kamu lebih sayang Kenan," sahut Argatha.
Tanpa menjawab, Yosandrea memilih untuk memeluk laki-laki di hadapannya itu. Argatha tidak menolak, ia membiarkan Yosandrea menangis dalam peluknya untuk terakhir kalinya. Dalam kesempatan terakhir ini Argatha mengusap rambut Yosandrea berulang kali.
"Udah ya, jaga diri baik-baik. Kalo kita ketemu di koridor sekolah anggap aja kita gak pernah memulai apa-apa. Biar kamu gak kepikiran aku terus," ucap Argatha.
Sebelum melepas pelukannya, Argatha memberi pesan, "Tapi ingat Rea, kalo suatu saat nanti kamu disakiti, kamu bisa datang kembali ke aku—dan temui aku di studio."
***
Di kursi penonton Kenan terduduk dengan pandangan menatap ke depan. Mulutnya sibuk mengisap permen lollipop. Tim Basket kelas IPS tadi berhasil mencetak poin paling tinggi dibanding kelas IPA. Hal itu berhasil membuat Kenan bisa meledek saudara angkatnya—Reyden.
Kenan merasa bangga soal kemenangan itu. Dan karena dirinya yang paling banyak memasukkan bola, membuat followers Instagram Kenan bertambah banyak. Banyak siswi-siswi yang langsung antri menjadi fans-nya.
Pandangan Kenan teralihkan setelah seseorang berdiri di dekatnya. Laki-laki itu tersenyum seraya menatapnya.
"Romantis banget, sampai dibuatin lagu sebagai album pertama," ucap Kenan pada Yosandrea.
Gadis itu terduduk di samping Kenan. Hening, tidak bersuara.
"Gue bilang juga apa, soal selingkuhan cuma akal-akalan Arga biar lo bisa move on, tapi malah dia-nya yang susah move on—aneh emang," jelas Kenan.
Tiba-tiba Kenan bertanya, "Mana?"
"Mana apa?" tanya Yosandrea bingung.
"Pajak balikan. Seenggaknya gue dapet pajak balikan, meski gak dapetin lo," sahut Kenan.
"Siapa yang balikan, sih?" tanya Yosandrea terheran-heran.
"Lah?"
"Gue sama Arga udah gak bisa bersama lagi, walaupun Arga masih sayang sama gue," jelas Yosandrea.
"Kenapa?" tanya Kenan.
Yosandrea menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Lagi pula gue suka kasihan sama Arga, dia selalu kejar-kejaran waktu antara waktu gue, waktu hobinya dan waktu buat belajar."
"Jadi mungkin dia pengen fokus sama masa depannya kali ini dan itu gak masalah. Gue bakal selalu dukung dia di belakang, sampai dia bisa jadi penyanyi terkenal se-Indonesia," jelas Yosandrea di akhiri senyuman.
"Ya ... semoga aja dia makin sukses dan bisa duet sama Rhoma Irama," sahut Kenan.
"Kenapa harus Rhoma Irama?" tanya Yosandrea.
"Emang kenapa?" tanya Kenan.
"Beda genre, ngaco!" sahut Yosandrea.
Kenan tertawa melihat Yosandrea yang tampak emosi padanya. Detik berikutnya hening kembali menyelimuti. Mereka berdua hanya menatap lapangan yang kosong, tidak ada apa-apa di sana, tapi tenang sekali rasanya.
Lagi dan lagi air mata Yosandrea hendak terjatuh setelah kepingan-kepingan memori bersama Argatha melintas. Gadis itu segera mengusap matanya lembut.
Tiba-tiba Yosandrea tersenyum menatap Kenan, Kenan yang sadar seketika menatap Yosandrea.
"Mungkin emang hubungan gue sama Arga cukup dua tahun aja, karena semesta tau ada janji yang harus gue tepati," ucap Yosandrea.
Laki-laki di samping Yosandrea itu tidak merespon apa-apa, ia hanya terdiam menatap saja.
"Ayolah tembak gue, masa gue yang nembak lo? Kelihatan banget gue kecintaan sama lo-nya," jelas Yosandrea.
"Harus sekarang banget?" tanya Kenan dan Yosandrea mengangguk semangat.
"Bukan Oca aja yang janji, Ava juga kan janji mau jadiin Oca pacar," ucap Yosandrea.
Seketika rasa hangat menjalar pada wajah Kenan. Ia memalingkan wajahnya sejenak ke arah lain untuk tersenyum salah tingkah, sebelum akhirnya ia memasang wajah cool di hadapan Yosandrea.
"Ekhem!" Kenan berdeham.
"Kayaknya gak bisa sekarang, Ca," ucap Kenan.
"Terus?" tanya Yosandrea.
"Gue udah gak ada rasa sama lo lagi—"
Deg!
Jantung Yosandrea beserta jajarannya, seolah berhenti, tidak berfungsi setelah mendengar Kenan berkata seperti itu.
"Kok—"
"Tapi bohong," sahut Kenan dengan tampang yang menyebalkan.
"KENAN ARVAENZA!" teriak Yosandrea.
Kenan sontak berlari dari amukan Yosandrea dan berlari dari kejaran gadis itu yang kini terdapat dua tanduk di kepalanya.