The Anonymous Message

Erika Hasan
Chapter #2

Chapter 2 - A Change In The Rhythm

Setahun Lalu


Ruang kerja para financial analyst di Sterling Financial Partners hampir selalu memiliki suara yang sama. Bunyi keyboard, dering telepon, percakapan singkat tentang angka dan laporan, serta mesin kopi yang bekerja terlalu keras untuk orang-orang yang tidur terlalu sedikit.

Pagi itu, suara seorang pegawai baru membuat ritmenya sedikit berbeda.

"Shamila Farooqi. Senang bertemu dengan kalian."

Ethan mengangkat kepala.

Hanya sesaat.

Seorang wanita berdiri tidak jauh dari mejanya, mengenakan pakaian kerja sederhana tetapi elegan. Rambut hitamnya diikat rapi. Wajahnya lembut, dengan mata cokelat gelap yang tenang. Senyum tipis muncul ketika beberapa orang menyambut perkenalannya.

Ethan kembali menatap layar komputer.

Deadline laporan kuartal tidak peduli siapa pegawai baru yang datang pagi itu.

"Kalau kau butuh sesuatu, bilang saja," terdengar suara Julia dari seberang ruangan. "Aku bisa menunjukkan ruang meeting, pantry, dan tempat terbaik untuk mendapatkan kopi."

Terdengar tawa kecil.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki mendekat. Sebuah kursi ditarik.

Ethan melirik ke samping.

Meja kosong di sebelahnya kini ditempati wanita yang baru saja diperkenalkan.

Shamila Farooqi.

Ethan kembali bekerja. Ia hampir berhasil melupakannya ketika suara lembut itu menyapanya.

"Hai."

Ethan mendongak. Shamila berdiri di samping mejanya.

"Aku baru tahu kalau kita duduk bersebelahan." Ia menunjuk kursi di belakangnya. "Jadi... kalau aku membutuhkan bantuan, boleh bertanya kepadamu?"

Ethan mengangguk. "Sure."

Shamila tersenyum. Lalu mengulurkan tangan.

"Shamila."

Ethan menatap tangan itu sepersekian detik sebelum menyambutnya.

"Ethan. Vance."

"Ethan."

Entah kenapa, ketika wanita itu mengulangi namanya, Ethan mendengar sesuatu yang berbeda dalam suara itu.

Bukan karena suaranya luar biasa.

Hanya lembut.

Sangat lembut.

Ethan melepaskan tangannya dan kembali menatap layar.

"Welcome to Sterling."

"Thank you."

Shamila kembali ke mejanya.

Ethan mencoba kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Namun untuk beberapa detik, perhatiannya justru tertahan pada suara ketikan di sebelahnya.


***


Pukul 6.15 sore, Ethan akhirnya mematikan komputernya. Ia merapikan beberapa dokumen yang tersisa di meja, memasukkannya ke dalam tas, lalu berjalan keluar bersama beberapa rekan kerja.

Selama lima tahun, Ethan menjalani perjalanan pulang yang sama. Keluar dari gedung, berjalan beberapa blok menuju Grand Central, turun ke peron, lalu naik kereta menuju Upper East Side. Ia sudah hafal semuanya. Tidak ada yang perlu diperhatikan.

Sampai hari itu, ia menyadari ada seseorang berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Ia menoleh.

Shamila.

Wanita itu berjalan sambil memeriksa sesuatu di ponselnya.

Ethan memperlambat langkah.

"Hai."

Shamila mendongak dan tersenyum. "Hai." Ia kemudian berjalan hingga sejajar dengannya.

"Kau naik kereta dari sini juga?" tanya Ethan.

"Ya."

"Which one?"

"The six."

Ethan mengangguk.

"Uptown?"

"Seventy-seventh."

"East Side?"

Shamila mengangguk. "I live around East Seventy-Eighth."

Lihat selengkapnya