The Anonymous Message

Erika Hasan
Chapter #3

Chapter 3 - One Word Too Late

Pagi yang ditunggu Ethan datang lebih lambat dari biasanya. Ia tiba di Sterling Financial Partners lima belas menit lebih awal, menyalakan komputer, lalu membuka sebuah dokumen kosong. Beberapa baris kalimat ia ketik tanpa benar-benar membaca isinya. Sekadar membuatnya terlihat sibuk.

"Hey, dude."

Suara berat Derek membuat Ethan menghela napas pelan.

"Pagi sekali kau datang."

Ethan segera menutup dokumen kosong itu dan menggantinya dengan kotak masuk email.

"Laporan kuartal. Deadline," balas Ethan singkat.

"Yeah. Aku juga."

Derek berdiri di depan mejanya dengan secangkir kopi. Ethan sudah bisa menebak arah pembicaraan berikutnya.

"Party last night?"

Ethan langsung menyesal telah bertanya.

"Like heaven." Derek menyeringai. "Dua wanita pulang bersamaku. Kau tahu betapa—"

Langkah sepatu terdengar mendekat. Derek mendadak berhenti.

"Morning."

Mendengar suara itu, Ethan seketika mendongak. Shamila berdiri beberapa langkah dari mereka dengan tas kerja di tangannya.

"Morning, Sham." Derek langsung mengubah sikapnya. "Coffee?"

"Thank you. Tapi aku belum ingin minum."

Shamila menarik kursinya dan duduk.

Derek mengangkat bahu lalu pergi sementara Ethan kembali menatap layar.

"Morning," sapa Ethan. Matanya tetap terpaku pada layar komputer.

"Morning." Suara Shamila kembali terdengar dari sebelahnya.

Ethan tersenyum samar tanpa menoleh.

Ia tidak tahu mengapa ia selalu mengenali suara itu bahkan di tengah keramaian kantor.


***


Dua bulan berlalu tanpa sesuatu yang benar-benar istimewa. Setidaknya begitulah yang Ethan katakan kepada dirinya sendiri.

Pekerjaannya tetap sama. Deadline datang dan pergi. Klien berganti. Pasar naik turun.

Dan Shamila tetap duduk di meja sebelahnya.

Mereka terkadang pulang bersama sampai Grand Central. Tidak banyak bicara. Sesekali hanya membahas pekerjaan atau saling mengucapkan selamat malam sebelum naik kereta yang sama.

Namun Ethan mulai menyadari sesuatu. Ia menyukai keberadaan wanita itu.

Shamila tidak banyak bicara. Ia juga tidak pernah berusaha menjadi pusat perhatian.

Ia berbicara dengan suara rendah, tidak pernah mengumpat, dan tidak pernah meninggikan suara bahkan ketika berhadapan dengan rekan kerja yang membuat kesalahan.

Ketika tertawa, ia hampir selalu menutup mulut dengan telapak tangan, seolah suara tawanya sendiri harus tetap berada dalam batas yang sopan.

Ia juga menjaga jarak dengan rekan kerja pria. Bukan dengan cara yang membuat orang merasa ditolak, melainkan dengan batas yang begitu alami hingga tak seorang pun merasa perlu mempertanyakannya.

"She's Muslim."

Itulah jawaban Julia ketika Ethan suatu hari bertanya dengan nada santai.

Ethan mengangguk.

Ia tahu apa arti Muslim dan apa itu Islam. Ia hanya tidak pernah memikirkan agama itu lebih dari sekadar sesuatu yang sesekali muncul di berita.

Sekarang, untuk pertama kalinya, ia melihatnya dalam diri seseorang yang ia kenal.

Dan semakin lama Ethan memperhatikan Shamila, semakin banyak hal kecil yang menarik perhatiannya.

Wanita itu selalu mendengarkan orang lain sampai selesai tanpa memotong pembicaraan. Ia mudah mengingat nama klien, bahkan detail kecil dari percakapan yang mungkin sudah dilupakan orang lain.

Lihat selengkapnya