The Anonymous Message

Erika Hasan
Chapter #4

Chapter 4 - Point of No Return

Selama tiga puluh empat tahun hidupnya, Ethan Vance selalu tahu bagaimana mengendalikan dirinya.

Ia dibesarkan dengan aturan.

Ibunya mengajarinya bahwa setiap tindakan memiliki batas dan ayahnya mengajarkan sesuatu yang berbeda:

Cinta tidak harus selalu diucapkan. Jika seseorang berarti bagimu, tunjukkan melalui tindakan.

Mungkin karena itulah Ethan tumbuh menjadi pria yang tidak banyak meminta.

Ia menyelesaikan masalahnya sendiri, membuat keputusan sendiri, dan terbiasa menanggung konsekuensi dari pilihannya. Sejak kecil, Ethan belajar bahwa tidak semua hal perlu dibicarakan atau dibagi dengan orang lain. Jika ada sesuatu yang bisa ia selesaikan sendiri, ia tidak melihat alasan untuk meminta bantuan.

Beberapa wanita pernah datang ke dalam hidupnya. Sebagian pergi karena Ethan terlalu sulit dibaca. Mereka menginginkan lebih banyak kata, lebih banyak perhatian, lebih banyak kepastian.

Ethan tidak pernah benar-benar mengerti apa yang kurang. Ia setia, hadir ketika dibutuhkan, dan melakukan apa yang menurutnya seharusnya dilakukan seorang pasangan. Ketika hubungan itu berakhir, ia menerimanya begitu saja. Ia tidak pernah mengejar seseorang yang sudah memutuskan untuk pergi.

Mungkin itu sebabnya Ethan selalu merasa hidupnya berada dalam kendalinya.

Sampai Shamila datang.

Dan untuk pertama kalinya, Ethan menginginkan sesuatu yang tidak seharusnya ia inginkan.


***


Siang itu, pantry kantor hampir kosong. Sebagian besar karyawan memilih makan di kantin gedung atau restoran di sekitar kantor.

Ethan berdiri sendirian di depan mesin kopi, menunggu air panas mengisi cangkirnya.

Pintu kayu terbuka. Ethan menoleh.

Shamila.

"Buat kopi?"

Tangannya berhenti sesaat sebelum kembali mengaduk kopi.

"Ya."

Ethan memperhatikan dari sudut matanya Shamila yang berjalan ke meja di sebelahnya dan mulai membuat minuman sendiri.

Ia mencoba mengembalikan pikirannya pada pekerjaan.

Shamila hanyalah rekan kerja. Mereka kebetulan duduk bersebelahan dan sesekali pulang dengan kereta yang sama. Tidak ada yang lebih dari itu.

Namun sebuah pikiran muncul begitu saja. Sebuah kesempatan. Dan Ethan tahu seharusnya ia membiarkannya lewat.

"Hey, Sham."

Shamila menoleh. "Ya?"

Ethan terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Ia masih bisa membatalkan.

"Aku punya dua tiket pertandingan baseball," katanya akhirnya. "Tapi sepertinya aku tidak bisa datang. Kalau kau dan suamimu tertarik, kalian bisa menggunakannya."

Shamila tampak berpikir.

"Aku tidak tahu apakah dia bisa. Akhir-akhir ini pekerjaannya cukup sibuk."

"It's free," kata Ethan, sedikit terlalu cepat.

Shamila tersenyum kecil. "Oh, bukan soal itu."

"Yeah. I know."

Lihat selengkapnya