Keesokan harinya, tidak terjadi apa pun yang diam-diam Ethan tunggu.
Shamila masih tersenyum seperti biasa. Ia tetap berbicara kepadanya dengan nada yang sama, tetap mendiskusikan pekerjaan tanpa menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Hari berikutnya pun begitu.
Ethan tidak tahu apakah ia merasa lega atau justru kecewa.
Mungkin keduanya.
Hari ketiga masih sama. Namun kali ini, Ethan mulai melihat sesuatu yang kecil.
Beberapa kali, tatapan Shamila berhenti pada satu titik terlalu lama. Kadang pada dinding di depannya, layar komputer, atau meja kerjanya yang selalu tertata rapi.
Hanya beberapa detik. Lalu ia kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.
Ethan tidak pernah melihatnya melakukan itu sebelumnya.
Pada siang hari di hari keempat, ketika sebagian besar karyawan meninggalkan ruangan untuk makan, Shamila mendekati mejanya. Ethan yang sudah berdiri dan hendak keluar mengurungkan niatnya.
Shamila berdiri di hadapannya dengan kedua tangan saling bertaut. Keningnya berkerut, dan untuk pertama kalinya sejak Ethan mengenalnya, wanita itu terlihat tidak tahu harus berkata apa.
"Ya, Sham? Kau butuh bantuanku?" Nada suara Ethan tetap datar, meskipun di dalam kepalanya sebuah pertanyaan langsung muncul.
Sudah dimulai?
"Aku... tidak tahu harus berkata apa." Shamila menunduk sebentar sebelum kembali menatapnya. "Ada seseorang yang mengatakan sesuatu tentang kita."
Ethan menunggu.
Shamila menarik napas. "Dia mengatakan kita memiliki hubungan."
Tubuh Ethan membeku.
Ia sudah tahu kalimat itu akan datang. Tetapi mendengarnya langsung dari Shamila, dengan suara yang terdengar begitu hati-hati, tetap terasa berbeda. Sesaat, Ethan tidak tahu harus menjawab apa.
"Sham, aku bisa membantumu menjelaskan kepada—"
"Maaf." Shamila memotongnya dengan suara lirih.
Ethan terdiam.
"Kau jadi ikut terseret dalam masalah ini."
Dadanya terasa sesak.
"Aku tidak bermaksud merepotkanmu. Aku hanya ingin meminta maaf."
Rasa bersalah yang sejak beberapa hari terakhir berusaha ia tekan kembali menghantamnya.
"Aku bisa bicara dengan suamimu—"
Shamila menggeleng. "Aku tidak bermaksud menolak bantuanmu." Senyumnya muncul tipis. "Tapi ini masalah pribadi kami. Aku dan Hamza akan menyelesaikannya sendiri."