Sekarang
Langkahnya cepat, setengah berlari. Ethan berharap ia masih bisa mengejar Shamila. Ini mungkin kesempatan terakhirnya. Setidaknya untuk memastikan wanita itu sampai di rumah dengan aman. Mungkin, setelah semua yang telah ia lakukan, ia masih bisa melakukan satu hal kecil yang benar.
Ethan melihat Shamila berdiri di halte.
Ia mempercepat langkah sebelum sadar bahwa gerakannya akan terlihat terlalu jelas. Ethan kemudian memperlambat langkah dan berjalan biasa seolah kebetulan menuju arah yang sama.
"Sham," panggilnya setelah jarak mereka tinggal beberapa langkah.
Shamila menoleh. Wajahnya tampak sedikit terkejut sebelum senyum tipis muncul.
"Hai, Ethan. Kau sudah mau pulang juga?"
"Ya."
Ethan berjalan mendekat lalu berhenti tepat di sampingnya. Dari jarak sedekat itu, ia kembali melihat lesung pipit di pipi kiri Shamila. Wajah wanita itu tetap tenang, tetapi ada sesuatu di matanya yang tidak bisa disembunyikan.
"Aku tidak terlalu suka reuni semacam itu," tambahnya.
Shamila tersenyum kecil. "Aku tahu."
Ethan menatap jalan di depan mereka. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di sana.
Keraguan sempat muncul. Shamila hampir pasti akan menolak. Tetapi kalau ia tidak menawarkan sekarang, mungkin ia tidak akan pernah punya kesempatan lagi.
Ethan menoleh dan kembali menatap Shamila.
"Sham," ucapnya lagi hati-hati. "Mau kuantar pulang? Aku bawa mobil."
Shamila langsung menggeleng. "Tidak perlu. Aku naik taksi saja."
"Ini sudah malam."
"Aku tidak apa-apa. Sungguh," ulang Shamila.
Ethan mengangguk. Ia tidak ingin membuat Shamila merasa tidak nyaman.
"Baiklah. Aku tidak mau memaksamu." Ia berhenti sejenak. "Aku hanya khawatir. Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu. Lagipula..." Ethan menoleh kepadanya. "Rumah kita searah."
Shamila tersenyum tipis.
"Tidak, aku sudah pindah."
"Ke mana?"
"Forest Hills, Queens."
Ethan mengangguk perlahan.
Setelah bercerai, tentu saja Shamila tidak mungkin masih tinggal di tempat yang sama.
Kata itu kembali terlintas di kepalanya.
Bercerai.
Ethan segera mengusir pikiran yang mengikutinya.
"Forest Hills cukup jauh dari sini," katanya. "Kalau kau tetap ingin naik taksi, tidak apa-apa. Aku hanya menawarkan karena sudah malam."
"Oh, Ethan. Jangan salah paham. Aku tidak bermaksud—" Shamila berhenti, seperti sedang mencari kata yang tepat.
Lalu ia menghela napas kecil.
"Baiklah."
Ethan menahan senyum yang hampir muncul.
"Tunggu di sini. Aku ambil mobil."