The Anonymous Message

Erika Hasan
Chapter #7

Chapter 7 - A Favor at Macy's

Seminggu berlalu. Ethan tidak segera menghubungi Shamila. Bukan karena ia tidak ingin berbicara dengannya. Justru sebaliknya. Ia harus menahan keinginan untuk sekadar mengirim pesan, hanya agar bisa melihat satu sapaan singkat dari wanita itu di layar ponselnya. Tapi Ethan tahu Shamila membutuhkan ruang

Setelah enam bulan tanpa kabar, Ethan tidak ingin kemunculannya kembali terasa seperti sesuatu yang harus dihadapi Shamila.

Jadi ia menunggu.

Baru pada hari kesembilan, ia akhirnya mengambil ponselnya.

Jarinya mengetik perlahan.

"Sham. Kalau kau tidak keberatan, bisakah membantuku?"

Ethan mengirim pesan itu sebelum sempat mengubah pikirannya. Kemudian ia meletakkan ponsel di meja ruang tamu dan mencoba kembali membaca email di laptop.

Tidak berhasil.

Beberapa menit kemudian, suara notifikasi membuat tangannya langsung meraih ponsel.

"Tentu. Apa yang bisa kubantu?"

Ethan mengembuskan napas yang sejak tadi tidak sadar ia tahan.

Ia mengetik kembali.

"Bantu aku memilih hadiah untuk ibuku. Dia akan berulang tahun."

Balasan Shamila datang tidak lama kemudian.

"Dengan senang hati. Katakan di mana dan kapan kita bertemu?"

Ethan menyandarkan kepala ke sofa.

Sederhana.

Shamila langsung bersedia membantunya. Tidak ada alasan, tidak ada keraguan yang perlu ia baca di antara kata-katanya.

Ethan seharusnya merasa lega. Namun membaca balasan itu membuatnya justru tersenyum gugup.

"Minggu. Aku tunggu di Macy's."

"Oke."

"Thank you, Sham. See you on Sunday."

Ethan meletakkan ponselnya. Ia menatap langit-langit beberapa saat.

Ulang tahun ibunya sebenarnya masih beberapa minggu lagi. Ia masih punya banyak waktu untuk memikirkan hadiah.

Selama ini Ethan memang tidak pernah terlalu memusingkan soal hadiah. Buku masak, peralatan dapur, atau apa pun yang menurutnya berguna. Dan ibunya selalu menerimanya dengan senang hati.

Tapi kali ini, ia menjadikan kepraktisannya sebagai alasan untuk meminta bantuan seseorang.

Ethan tersenyum tipis.

"You screwed up, Eth."


***


Minggu pagi, Ethan tiba di Macy's lima belas menit lebih awal. Ia bisa saja datang tepat waktu. Tetapi hari itu ia tidak ingin mengambil risiko terlambat.

Ethan berdiri di depan gedung sambil sesekali melihat jam tangannya. Lalu, di antara orang-orang yang berlalu-lalang, ia melihat seseorang yang langsung dikenalnya.

Shamila.

Ethan menatapnya beberapa detik.

Rambut panjang wanita itu dibiarkan tergerai, berbeda dari penampilannya di kantor yang hampir selalu sederhana dan rapi. Ia mengenakan coat cokelat dengan celana krem. Tidak berlebihan. Tidak mencolok.

Tetap Shamila.

Hanya saja hari ini, Ethan melihatnya sebagai seorang wanita yang datang menemuinya.

Bukan rekan kerja. Bukan perempuan yang duduk di meja sebelahnya.

Shamila berhenti beberapa langkah di depannya.

"Hai."

"Hai."

Shamila tersenyum. "Apa aku terlambat?"

"Tidak. Aku yang datang terlalu cepat."

"Kenapa?"

Lihat selengkapnya