Tiga minggu setelah pertemuannya dengan Shamila di Macy's, ulang tahun ibunya akhirnya tiba.
Ethan sudah berjanji akan datang makan malam. Seperti biasa, ibunya tidak meminta pesta atau restoran mahal. Hanya makan malam di rumah, seperti yang mereka lakukan hampir setiap tahun.
Pukul tujuh malam, Ethan meninggalkan gedung Sterling Financial Partners.
Jalanan Manhattan mulai lengang ketika ia mengarahkan Lexus-nya ke utara. Empat puluh lima menit kemudian, gedung-gedung tinggi Manhattan berganti dengan jalanan yang lebih tenang di Westchester.
Ethan menghentikan mobil di depan sebuah rumah dua lantai dengan halaman rumput yang dipotong terlalu pendek. Pasti ulah ayahnya di akhir pekan.
Ia mengambil paper bag dari kursi penumpang. Ada rasa hangat yang berdesir di dadanya saat ia berjalan menuju pintu.
Bel baru sekali ditekan ketika pintu terbuka.
Seorang wanita berusia enam puluh tahun berdiri di sana. Rambut pirang gelapnya—warna yang sama dengan rambut Ethan—digelung rapi. Wajahnya masih terlihat bugar, dengan tatapan tegas yang tidak pernah gagal membawa Ethan sejenak kembali ke masa kecilnya.
"Kau telat lima belas menit."
Ethan tersenyum. "Happy birthday to you too, Mom."
Raut tegas itu bertahan beberapa detik sebelum akhirnya runtuh menjadi senyum.
"Come here."
Ibunya menarik tubuh tinggi Ethan ke dalam pelukannya. Ethan membalasnya erat, menghirup aroma sabun dan lavender yang akrab.
"Happy birthday, Mom."
"Thank you."
Mereka berpelukan beberapa detik sebelum akhirnya melepaskan diri. Ethan menyerahkan paper bag yang dibawanya.
"Ini."
Ibunya melirik ke dalam rumah, menahan senyum. "Aku belum membuka hadiah."
"Aku tahu."
"Bagus. Karena aku tidak mau membukanya di depan pintu."
Ethan terkekeh. "Where's Dad?"
"Di dapur."
"Tentu saja."
"Dia bersikeras menyiapkan meja sendiri."
"Dia masih begitu?"
"Seolah-olah kalau dia tidak menaruh garpu sendiri, makan malam kita akan gagal."
Ethan tersenyum geli. "Sounds like Dad."
Mereka melangkah menuju ruang makan. Aroma daging panggang yang gurih dan pekat memenuhi ruangan, memancing rasa lapar.
Ayahnya berdiri di dekat meja makan, merapikan posisi sendok dan garpu yang sebenarnya sudah tersusun sempurna.
Ia mendongak.
Rahang tegas dan mata hazel dengan semburat biru itu memantulkan paras Ethan sendiri.
"Hey, Son."
"Hey, Dad."
Ethan mendekat lalu merengkuh bahu ayahnya. Tepukan dua kali di punggungnya terasa mantap dan menenangkan.
"How's work?" tanya ayahnya setelah melepas pelukan.
"Busy."
"Good."
Hanya itu.
Ethan tersenyum kecil. Di balik kata-kata sederhana itu, ada rasa aman yang tidak pernah berubah.
Beberapa hal di dunia ini memang tidak perlu berubah.