Ethan terus menunda memberitahu Shamila tentang undangan dari ibunya.
Sejak hari di Macy's, percakapan mereka di pesan singkat sebenarnya tidak pernah benar-benar terputus. Namun pesan-pesan itu tidak pernah lebih dari ucapan terima kasih atau sapaan ringan.
Tidak ada yang terlalu pribadi. Tidak ada yang membuat Shamila merasa harus memberikan sesuatu sebagai balasan.
Dan Ethan ingin Shamila merasa seperti itu.
Mengundangnya makan siang bersama keluarganya akan terasa berbeda.
Terlalu dekat.
Namun sebuah pesan dari ibunya di Sabtu pagi membuatnya tidak bisa lagi menunda.
Mom: "Aku sudah belanja bahan makanan sesuai catatanmu. Jangan biarkan aku membuang makanan ini ke tempat sampah."
Ethan menghela napas panjang, menyandarkan dahi pada telapak tangannya.
Ibunya memang gigih.
Padahal pada malam ulang tahunnya, Ethan sudah menjelaskan bahwa Shamila seorang Muslim dan ada beberapa makanan yang tidak bisa ia makan. Bahkan ia sengaja membuat daftar yang lebih panjang dari yang sebenarnya diperlukan.
Ibunya hanya menganggapnya berlebihan.
"One of my friends is Jewish. It's not a problem," kata Ibunya malam itu.
Sekarang, Ethan tidak punya alasan lagi untuk menghindar.
Ia mengambil ponsel lalu mulai mengetik, mencari susunan kata yang pas.
"Sham, Ibuku mengundang..."
Ia berhenti. Kemudian menekan tombol Backspace berulang kali.
Ia mencoba lagi.
"Sham, Ibuku ingin berterima kasih..."
Dihapus lagi. Jemarinya tertahan di atas layar. Ia menatap kursor yang berkedip-kedip, merasa konyol dengan ketidakmampuannya.
"Jesus Christ," keluhnya pelan pada keheningan apartemen. Ia menghembuskan napas kasar lalu menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit. "Damn, Ethan. Just send it."
Punggungnya kembali tegak. Kali ini ia mengetik tanpa memberi dirinya kesempatan untuk berpikir terlalu banyak.
Ethan: "Hai, Sham. Ibuku sangat senang dengan hadiah yang kau pilihkan untuknya. Dia ingin mengundangmu makan siang besok. Kalau kau tidak keberatan."
Ethan membaca ulang baris kalimat itu. Tidak ada yang berlebihan. Sederhana dan sopan. Ibu jarinya tertahan sesaat di atas tombol Send sebelum akhirnya ia menekannya dengan satu tarikan napas panjang.
Pesan terkirim.
Ethan meletakkan ponsel itu di meja, berusaha tidak terlalu memikirkannya. Satu menit berlalu. Lalu lima menit. Tidak ada balasan.
Mungkin Shamila sedang sibuk, atau sedang keluar. Ini hari Sabtu, hari libur. Ethan mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan berbagai alasan logis, tetapi matanya terus-menerus kembali pada layar hitam ponsel di atas meja.
Sepuluh menit kemudian, layar itu akhirnya menyala. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Shamila: "Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya membantu."
Ethan membaca baris kalimat itu. Seketika, ada sesuatu yang dingin dan hampa mengendap di dadanya
Tentu saja. Seharusnya dia sudah tahu.
Shamila selalu tahu cara menarik garis tegas tanpa membuat orang lain tersinggung. Ia tidak pernah membiarkan dirinya berutang budi atau menjadi beban bagi siapa pun.
Jemarinya bergerak cepat mengirim balasan seformal mungkin untuk menutupi rasa sesak yang tiba-tiba hadir.
Ethan: "Tentu. Baiklah, Sham. Selamat akhir pekan."
Ia meletakkan ponselnya ke atas meja lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Untuk beberapa menit, dia hanya mematung, menatap dinding di depannya dengan tatapan kosong.
Mungkin undangan itu memang terlalu jauh.
Ia baru saja hendak meraih ponselnya kembali untuk menelepon ibunya dan mengabarkan pembatalan, ketika layar ponsel itu kembali bergetar.
Shamila: "Tapi aku tidak ingin mengecewakan Ibumu."