The Anonymous Message

Erika Hasan
Chapter #10

Chapter - 10: A Seat At The Table

Bagi Ethan, ruang tamu rumah orang tuanya tidak pernah terasa sehangat ini.

Dulu, ketika kedua orang tuanya masih bekerja, ruangan berlantai kayu itu hampir tidak pernah digunakan. Saat kecil, Ethan senang menghabiskan waktu di ruang tengah, menonton televisi sambil menunggu ayahnya pulang. Begitu menginjak dewasa, ia lebih sering berada di kamarnya sendiri. Keluarga mereka biasanya hanya berkumpul saat sarapan dan makan malam, bertukar pertanyaan ringan seputar sekolah, jadwal kerja, dan cuaca.

Namun siang itu atmosfer rumah terasa berbeda. Ruang tamu dipenuhi suara percakapan. Ibunya beberapa kali tertawa sementara ayahnya sesekali ikut menimpali dari kursinya. Ethan sendiri lebih banyak tersenyum daripada biasanya.

Dan di antara mereka, Shamila terlihat semakin santai.

Awalnya ia duduk tegak dengan kedua tangan di pangkuan. Setiap kali ibu Ethan bertanya, jawabannya singkat dan sopan.

Lama-lama, bahunya terlihat lebih rileks. Ia mulai tertawa. Bahkan beberapa kali membalas candaan ibu Ethan.

Ethan memperhatikan perubahan itu dengan dada yang menghangat.

"Di mana orang tuamu tinggal?" tanya ibunya yang duduk di samping Shamila.

"Lahore, Pakistan," jawab Shamila lembut.

"Dan kau datang ke Amerika saat berusia sembilan belas tahun?"

"Ya, Mrs. Vance."

"Sendirian?"

Shamila tersenyum kecil. "Awalnya bersama beberapa teman. Setelahnya aku tinggal sendiri."

Ibunya mengangguk kagum. "Dan kuliah di Princeton?"

"Ya. Jurusan ekonomi."

"Pasti tidak mudah," gumam ibunya, menatapnya penuh simpati. "Perbedaan bahasa, budaya, jauh dari keluarga..."

​Senyum Shamila perlahan memudar. Hanya satu detik, namun cukup bagi Ethan untuk menangkapnya.

Pandangan Shamila turun, terpaku pada jemarinya sendiri yang terpaut di pangkuan sebelum kembali terangkat dengan tatapan yang dipaksa tenang.

Ethan mengenali perubahan kecil itu. Ia tahu ada sesuatu yang membuat Shamila tidak nyaman.

"Mom, kapan kita makan?" potong Ethan cepat, sengaja mengubah pembicaraan.

Ibunya menoleh kepadanya. "Sepuluh menit lagi. Ayam panggangku masih di oven." Ia melirik jam tangannya, kemudian kembali kepada Shamila. "Jangan khawatir, Sham. Aku sudah memastikan makanannya aman untukmu. Ethan bahkan memberiku daftar yang panjang."

"Dua halaman," tambah ayahnya dari seberang ruangan.

Ethan menatap ayahnya. "Seriously, Dad?"

Ayahnya terkekeh pelan. "Your mother said it was two pages."

"Tidak sampai dua halaman," pungkas Ethan membela diri, wajahnya agak memerah.

"Dua halaman penuh," tegas ibunya tak mau kalah.

​Tawa kecil Shamila mendadak pecah. Ethan sempat terdiam, begitu juga kedua orang tuanya. Suasana yang sejak tadi masih sedikit canggung akhirnya benar-benar mencair.

Shamila seakan tersadar. Lalu tawanya terhenti.

"Aku sungguh tidak ingin merepotkan Anda, Mrs. Vance—"

​"Linda," sela ibunya penuh kehangatan, sembari menepuk lembut punggung tangan Shamila. "Dan jangan merasa tidak enak. Sahabat baikku seorang Yahudi. Terkadang aku menjamunya di sini."

Lihat selengkapnya