The Anonymous Message

Erika Hasan
Chapter #11

Chapter 11 - Echoes of Yesterday

Pertemuan itu akhirnya ditutup dengan percakapan ringan di ruang tamu. Kue kering buatan Shamila tersaji di atas meja bersama teh chamomile yang masih mengepulkan uap tipis.

​"Namanya nankhatai," jelas Shamila saat Linda meraih satu kue. "Aku hanya mengurangi beberapa rempah yang aromanya terlalu kuat agar lebih pas di lidah."

​Linda menggigitnya perlahan. Matanya seketika membesar. "Ini enak sekali! Renyah di luar, tapi bagian dalamnya lembut dan manis," pujinya tulus.

Jonathan yang duduk di sofa tunggal dekat perapian mengangguk setuju usai mencicipinya.

"Shamila memang pintar memasak," kata Ethan, tak tahan untuk ikut menambahkan. Suaranya terdengar sedikit bangga. "Dia pernah membuat halwa puri ke kantor, dan tidak ada satu orang pun yang mengambil cuma satu porsi."

Shamila yang sedang menyesap tehnya hampir saja tersedak. Ia buru-buru menurunkan cangkir dan menoleh pada Ethan dengan satu alis terangkat. "Itu tidak benar." Ia lalu mengalihkan pandangan pada Linda dan Jonathan. "Ethan hanya melebih-lebihkan."

"Aku tidak melebih-lebihkan," balas Ethan santai sambil menahan senyum. "Halwa puri yang kau bawa saat ulang tahunmu habis tidak bersisa."

"Tapi seingatku, kau hanya makan dua suapan lalu kembali ke mejamu," timpal Shamila.

Ethan tertegun. Ia menatap Shamila tanpa berkedip. "Kau... melihatku?"

Shamila mengangguk. Senyum kecil muncul di bibirnya. "Kupikir halwa puri bukan seleramu."

Ethan seperti kehilangan kata-kata dan hanya memandangi Shamila beberapa detik.

Ia tidak menyangka Shamila memperhatikannya hari itu. Lebih dari itu, wanita itu bahkan mengingat hal kecil yang terjadi setahun lalu.

​"Tidak, bukan begitu..." gumam Ethan terbata.

​Sebelum ia sempat membela diri, Ethan tersadar bahwa kedua orang tuanya tengah memperhatikan mereka. Ayahnya mengangkat cangkir tehnya dan pura-pura sibuk meminumnya. Sementara ibunya tersenyum lebar lalu mengerling kepadanya sebelum ikut menyesap tehnya.

Shamila yang mendadak sadar langsung salah tingkah. "Oh... maaf, Linda. Jonathan."

"Kenapa harus minta maaf, dear?" balas Linda lembut.

Jonathan menurunkan cangkirnya, menatap Shamila dengan binar kehangatan. "Tidak perlu meminta maaf kalau kau tidak berbuat kesalahan, Sham. Nanti kau jadi terbiasa."

Entah apa yang ada di pikiran Shamila saat mendengar ucapan itu, namun senyum di wajahnya mendadak membeku. Ia menurunkan tatapannya sedetik sebelum kembali menatap ayah Ethan.

"Thank you, Jonathan. I'll keep that in mind."

Jonathan hanya mengangguk singkat. Linda tersenyum dan mengambil kembali cangkir tehnya.

Ethan mulai menyadari bahwa ada beberapa hal pribadi tentang Shamila yang baru ia ketahui hari itu.

Namun semakin banyak yang ia ketahui, semakin ia sadar bahwa masih banyak hal tentang wanita itu yang tidak ia mengerti.

Hampir pukul lima sore ketika Ethan mengantar Shamila kembali ke apartemennya. Kali ini perjalanan mereka jauh lebih ramai dibandingkan sebelumnya.

Mereka membicarakan kehangatan Linda, kelakar Jonathan, bahkan daftar panjang makanan yang sengaja dibuat Ethan agar tidak ada yang salah disajikan untuk Shamila. Ethan juga sempat meminta maaf karena pertanyaan ibunya yang terlalu pribadi.

"Tidak apa-apa," sahut Shamila lembut. "Aku justru senang."

Ethan meliriknya, keningnya berkerut. "Senang?"

"Setidaknya statusku jadi jelas."

​"Dan itu bukan masalah," sela Ethan cepat. "Tidak ada yang mempermasalahkan hal itu."

Shamila menoleh, menatap sisi wajah Ethan. "Kurasa begitu." Ia berhenti sejenak lalu menyunggingkan senyum tipis. "Kita teman, kan?"

Jemari Ethan mengencang sedikit pada kemudi. Sesaat ia hanya terdiam.

"Tentu, Sham," balas Ethan kemudian. Ia menoleh sebentar kepada Shamila sebelum kembali memperhatikan jalan.

"Kita teman."

Ada rasa berat di dada Ethan saat mengucapkan dua kata itu. Namun ia membiarkan dirinya memikirkan kemungkinan yang selama ini sengaja ia hindari.

Mungkinkah pertemanan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih?

Dan kalau memang bisa...

Apakah ia punya kesempatan?


***


Lihat selengkapnya