The Anonymous Message

Erika Hasan
Chapter #12

Chapter 12 - Confession

Ethan menginap di rumah orang tuanya dengan keriangan seperti biasa. Ia mengambil alih sebagian pekerjaan ibunya di dapur, membantu merapikan rumah pada pagi hari, dan memangkas rumput liar di halaman yang mulai tumbuh seiring musim panas menyapa.

Pada Minggu sore, ia pamit pulang setelah memastikan kondisi ayahnya sudah cukup stabil.

Pukul tujuh malam, Ethan sudah berada di apartemennya. Ia duduk di sofa dan menyandarkan punggung. Pandangannya tertuju pada langit-langit putih di atas kepala.

Beberapa bulan terakhir, ia sempat membiarkan dirinya berharap.

Sekarang, ia kembali sendirian.

Mungkin memang sejak awal ia tidak seharusnya berharap terlalu banyak. Terlebih setelah apa yang telah dilakukannya pada Shamila.

Wajah wanita itu kembali terlintas di benaknya—pucat dan kaku ketika melihat Hamza di supermarket.

Ethan menarik napas panjang.

"I'm sorry..." bisiknya pada ruangan yang sunyi.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan, membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya menurunkannya kembali.

Mungkin kali ini ia benar-benar harus pergi.

***

Sejak malam di Trader Joe's, Ethan menarik diri secara perlahan. Ia tidak lagi mengirim pesan terlebih dahulu.

Ketika Shamila menghubunginya, ia tidak membalas secepat biasanya. Balasan-balasan pendek yang awalnya hanya berjarak beberapa jam, perlahan berubah menjadi hitungan hari.

Ethan membenci dirinya sendiri setiap kali melakukan itu. Namun, ia lebih membenci kenyataan bahwa menjauh terasa seperti satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

Shamila pasti menyadari perubahan itu.

Ethan tahu.

Ia hanya tidak punya keberanian untuk menjelaskannya.

Satu bulan berlalu.

Ia menahan setiap keinginan untuk menghubungi Shamila, bahkan ketika yang ia inginkan hanyalah mendengar suaranya.

Sampai pada suatu sore, menjelang pukul enam, sebuah pesan muncul di layar ponselnya.

Shamila: "Ethan, kau belum pulang? Aku di depan kantormu."

Jemari Ethan menegang di sisi ponsel.

Ia ingin berbohong. Mengatakan bahwa ia masih lembur. Mengatakan ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Namun, jarinya tak kunjung mengetik pesan itu.

"Hei, Eth."

Sapaan Derek membuat Ethan terkesiap. Ia segera memasukkan ponselnya ke saku.

"Kau tidak jadi pulang?"

"Ya. Duluan saja. Ada yang harus kukerjakan."

Derek mengangkat kedua alisnya. Ia melirik meja Ethan yang sudah hampir kosong, lalu kembali menatapnya.

"Okey. Aku duluan."

Ethan hanya mengangguk.

Begitu Derek pergi, pandangannya kembali jatuh pada ponsel di sakunya.

Satu menit.

Lima menit.

Ethan membiarkan waktu berlalu dengan kegelisahan yang semakin menyesakkan.

Sepuluh menit.

Akhirnya, ia menyerah.

Ia memasukkan dokumen terakhir ke dalam tas kerja dan hampir berlari menuju lift.

Begitu keluar dari gedung Sterling Financial, langkahnya melambat.

Shamila berdiri tidak jauh dari pintu masuk.

Sendirian.

Saat melihat Ethan, wanita itu tersenyum seperti biasa.

Lihat selengkapnya