Makan malam mereka diisi percakapan singkat dan sedikit canggung. Shamila lebih banyak menunduk, menyuap makanannya pelan dan dalam porsi kecil. Sesekali Ethan mencoba mencairkan suasana dengan menawarinya makanan lain.
"Tidak, ini cukup. Terima kasih," jawab Shamila. Ia mengangkat wajah sebentar, lalu kembali menatap piringnya.
Ethan mengangguk. Ia tidak memaksa.
Malam itu terasa berbeda. Bahkan percakapan sesederhana soal makanan terasa canggung bagi keduanya.
Pukul delapan malam, mereka meninggalkan Parker & Quinn.
Udara awal musim panas Manhattan terasa hangat dan lembap. Sisa keramaian malam masih memenuhi trotoar di sekitar mereka—suara kendaraan yang melintas, percakapan orang-orang yang baru keluar dari restoran, dan langkah kaki yang bersahutan di antara gedung-gedung Midtown.
Ethan berjalan di samping Shamila. Tidak ada percakapan sampai mereka tiba di stasiun.
Mereka turun ke peron 42 St–Bryant Park dan tidak perlu menunggu lama sebelum kereta F datang. Di dalam gerbong, mereka mendapatkan dua tempat duduk berdampingan.
Beberapa menit pertama, tak ada yang berbicara. Ethan masih memikirkan percakapan mereka di restoran. Terutama dua kata yang akhirnya ia ucapkan.
Yes. I do.
Ia tidak pernah menyangka akan mengatakannya secepat itu. Namun yang membuatnya semakin gugup adalah kenyataan bahwa perasaan itu mungkin tidak hanya datang dari satu sisi.
Shamila tidak mengatakan bahwa ia mencintainya. Bahkan perasaannya sendiri belum ia nyatakan dengan jelas.
Tetapi satu hal yang pasti. Shamila datang mencarinya. Lalu ketika Ethan menjauh, ia merasa kehilangan.
Ethan membiarkan dirinya menikmati kemungkinan itu.
Ia melirik ke samping. Kedua tangan Shamila bertaut di pangkuannya. Sesekali ibu jarinya mengusap punggung tangannya sendiri, lalu jemarinya berpindah meremas lembut kain celananya.
Ethan menangkap kegugupan itu, tetapi memilih tidak menyinggungnya.
Ia kembali menatap ke depan, dengan senyum tipis yang masih tersisa di bibirnya.
Kali ini, ia membiarkan perasaannya terlihat.
Kereta melaju melewati terowongan, meninggalkan cahaya kota yang sesekali terlihat dari jendela.
Ethan menatap pantulan mereka di kaca. Untuk waktu yang entah berapa lama, duduk di samping Shamila tidak terasa seperti sesuatu yang harus ia hindari.
Kereta mulai melambat sebelum akhirnya berhenti di Lexington Av/63 St. Ethan berdiri.
"Aku turun di sini," ucapnya pelan.
Shamila tampak sedikit terkejut. Ia mendongak.
"Oh," balasnya pendek, kemudian mengangguk kecil. "See you."
Ethan melangkah menuju pintu gerbong yang terbuka.
Satu langkah. Dua langkah. Namun tepat di ambang pintu, langkahnya terhenti. Pandangannya kembali jatuh pada Shamila yang masih duduk sendirian di bangku.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Shamila masih harus menempuh sisa perjalanan sendirian menuju Queens.
Ethan mengembuskan napas pendek. Tanpa ragu, ia berbalik dan kembali menduduki kursi di samping Shamila.
Wanita itu mendongak, matanya membulat bingung. "Kenapa kembali?"
"Kuantar kau sampai rumah," sahut Ethan sambil menyandarkan punggungnya.
"Tidak perlu, Eth. Aku bisa pulang sendiri."
"Aku tahu." Ethan menatap lurus ke depan, menyembunyikan senyum tipisnya. "Tapi sudah malam."
Shamila terdiam. Ia tidak lagi membantah.
Beberapa menit kemudian, kereta kembali bergerak. Ketika gerbong berguncang saat melewati sambungan rel, bahu Ethan menyentuh bahu Shamila.
Ethan tidak menjauh.
Begitu pula Shamila.
Kereta akhirnya berhenti di Forest Hills–71 Av. Ethan berdiri terlebih dahulu, diikuti Shamila. Mereka keluar dari stasiun dan berjalan menyusuri jalanan Forest Hills yang mulai sepi. Lampu-lampu toko dan restoran masih menyala di beberapa sudut, sementara sebagian besar jalan mulai tenang setelah keramaian sore menghilang.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di depan gedung apartemen Shamila.
"Sudah sampai," kata Ethan, membuka percakapan yang sejak tadi hening.
"Terima kasih." Shamila seperti akan mengatakan sesuatu. Tetapi akhirnya hanya mengangguk kecil dan berkata, "See you, Eth."
Shamila berbalik.
"Sham."