Aku tidak berguna.
Itulah yang kurasakan ketika melihat ibu tergeletak di lantai penjara yang kasar dan tak rata. Sekujur tubuhnya terluka, napasnya tersengal berat. Matanya terpejam rapat, namun bibirnya tak henti menggumamkan sesuatu yang awalnya tak jelas... sampai tiba-tiba ada rasa perih yang menusuk tajam di ulu hati. Di hati kami.
Lalu aku mendengarnya.
“Tidak... Jangan sakiti... Anakku....” Napasnya tercekat, suaranya parau. “Berhenti....”
Aku ingin berlari mendekat, ingin memeluknya erat, tapi tubuhku kaku. Rai yang memegang kendali penuh saat ini. Ia hanya diam mematung di ambang pintu yang rusak, menatap wanita itu dengan wajah datar bagai patung es. Seolah apa yang dilihatnya hanyalah pemandangan tak penting.
Tapi aku tahu. Aku tahu betul bahwa ada sesuatu yang berdesir halus, melintas cepat di balik hatinya yang keras. Mungkin dia mengira rasa sakit itu datang dariku, dari emosi tubuh ini yang sedang hancur, sehingga alisnya sedikit mengerut. Dia tampak tidak suka, seakan terganggu dengan perasaan asing yang tiba-tiba menyelinap.
Tiba-tiba ibu mendongak. Pandangannya sayu, matanya kabur, namun saat menyadari siapa yang berdiri di sana, ia membelalak ngeri.
“TIDAK!” serunya nyaring.
Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana—padahal sebelumnya tampak begitu rapuh—ia bergerak maju.
“PERGI! JANGAN DATANG KEMARI!”
Ibu mendorong dadaku dengan sekuat tenaga, seolah ingin menjauhkan aku dari bahaya, atau justru menjauhkan bahaya itu dariku?
Aku bisa merasakan sentuhan tangannya yang dingin di kulitku. Jemarinya lengket, basah oleh darah yang masih segar. Dadaku serasa diremas.
Rai sendiri terdiam. Dia menunduk, menatap jemari tangan mereka yang kini bersentuhan dengan ekspresi sulit diartikan. Dia tidak suka disentuh orang lain. Dia benci kotoran, benci noda darah yang menempel.
Namun anehnya... dia tidak menepisnya.
Dia tidak menarik tangannya pergi. Ia hanya diam, terpaku, membiarkan sentuhan itu ada di sana lebih lama dari yang seharusnya.
Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa geli di belakang, memecah lamunan Rai yang mengembara tanpa jawaban.
“Akhirnya kamu datang juga ya, Raizel.”
Aku menegang. Suara itu terdengar kasar dan menyeramkan. Dan dia berbicara seolah sangat mengenal sosok di dalam tubuhku. Dia bahkan tahu nama Rai... membuatku waspada setengah mati. Bagaimana mungkin dia bisa menebaknya? Bagaimana mungkin dia bisa melihat siapa kami yang sebenarnya?
Namun, berbeda denganku yang panik, Rai justru menoleh dengan sangat tenang. Tatapannya datar, seolah hanya sedang melihat seekor lalat terbang melintas sembarangan.
“Siapa?”
Orang itu tinggi besar. Jubahnya lebar membungkus seluruh tubuhnya, dan kepalanya tertutup tudung gelap. Wajahnya tak terlihat jelas, namun dari ujung dagu yang terbuka, terlihat bekas luka besar yang bersilangan mengerikan. Pasti dia orang yang sangat berbahaya.
Aku bisa merasakan getaran ketakutan dari tubuh Ibu yang berdiri di sampingku. Melihat itu, pandangan Rai sedikit beralih, tak lepas darinya.
Alih-alih tersinggung karena dianggap tak penting, orang itu malah tertawa semakin keras.
“Tidak heran kamu tidak mengenalku... tapi akan aneh kalau aku tidak mengenalmu.”
Rai kembali mengabaikannya. Aku tahu betul dia paling benci omong kosong dan basa-basi yang tidak perlu. Apalagi sikap orang ini sangat menyebalkan.
Aku sedikit senang karena Rai tidak menanggapinya, tapi di sisi lain dadaku dipenuhi cemas. Dengan kehadiran musuh sekuat ini... akankah kami benar-benar bisa membawa Ibu pulang dengan selamat?
Mungkin karena tak suka diabaikan, orang itu mendadak bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan. Aku terkejut, dalam sekejap dia sudah berada tepat di hadapan kami dan menghantamkan tinjunya yang dilapisi energi mematikan.
Namun rasa sakit itu tak kunjung datang.
Bukan aku yang terpental, justru dia sendiri yang terlempar mundur beberapa langkah karena serangannya ditangkis begitu saja.
Bukannya takut atau kesakitan, orang itu malah tertawa lagi. Suaranya makin keras dari sebelumnya, menertawakan sesuatu yang baginya sangat lucu, meski bagi orang lain itu hal yang kejam.
“Ada apa denganmu, wahai Raizel? Bukankah dia hanya manusia biasa? Ekspresi yang kau tunjukkan itu... membuatku geli!”
Mata di balik tudung itu tak lepas mengamati. Ia melihat jelas, sosok iblis kejam yang dulu ditakuti itu kini tampak bingung. Gadis yang dikenal sombong, galak, dan menakutkan, justru ragu dan tak yakin bagaimana bersikap di hadapan manusia yang gemetar ketakutan itu. Wajah Rai memang datar, tapi musuh itu tahu bahwa itu tanda kebingungan. Semakin ia melihat, semakin ia ingin tertawa.
“Bukankah seharusnya kamu itu iblis yang sombong? Kenapa kamu peduli sekali terhadap manusia? Ini sangat menggelikan! Lagi pula...”
Ia melirik tajam ke arah Ibu yang berdiri gemetar di samping Rai, berusaha berdiri tegak dan protektif sekuat tenaga meski tubuhnya rapuh.
“Apakah dia tahu siapa kamu sebenarnya?”
Musuh itu menyeringai lebar, terlihat puas saat melihat tubuh Rai menegang kaku. Akhirnya dia bisa melihat emosi di wajah datar itu.
“Maksudku... kamu telah menipunya!”
Ia terbahak-bahak begitu keras, seolah menemukan hiburan paling luar biasa.
“Tahukah kamu hal itu, hai manusia? Orang ini BUKAN putrimu! Dia seorang iblis! Iblis yang telah membunuh ribuan orang! Dan dialah yang telah membunuh putrimu yang asli, menyisakan tubuh ini hanya untuk dijadikan inang! Dia melakukan itu semua hanya untuk bersenang-senang!”
BUM!
Aku terkesiap hebat. Jantungku serasa berhenti berdetak. Di hadapan kami, Ibu membelalakkan mata.
“TIDAK SEPERTI ITU!”
Aku ingin menjerit sekeras-kerasnya, ingin membantah semua omong kosong itu... tapi tubuhku mendadak terpaku kaku.
Tiba-tiba... gambaran aneh menyerbu masuk.
Ingatan-ingatan yang bukan milikku berkelebat cepat seperti kaset rusak, berpindah dari satu adegan ke adegan lain yang jauh lebih menyedihkan dan mengerikan dari apa pun yang pernah kuketahui.
Ini... adalah ingatan Rai.
Ingatan yang selama ini terkunci rapat jauh di dasar jiwanya. Ingatan yang hanya dia sendiri yang tahu betapa tragis dan hancurnya kehidupannya dulu. Ingatan yang telah membunuh perasaannya, membuatnya mati rasa, membuatnya membenci dunia, dan membuatnya tak lagi berani mempercayai siapa pun...
Rasanya menyakitkan. Sangat menyiksa.
Dadaku sesak, napasku terasa berat. Aku hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa, tapi rasanya seolah aku sendiri yang merasakan semua penderitaan itu.
Pantas saja dia menjauhi dunia. Pantas saja dia tak mau terlibat.
Itu karena dunia memang pernah memperlakukannya dengan sangat kejam!
Dia dikutuk, diasingkan, dipermainkan, hingga akhirnya... dicap sebagai monster dan dimusnahkan.
Dan dia mengalami semuanya itu sendirian!
Hanya dia seorang!
Tidak ada uluran tangan, tidak ada yang membela, tidak ada yang peduli. Bahkan keluarganya sendiri... justru yang paling ingin melihatnya mati.
Aku mengerti sekarang.
Aku mengerti kenapa dia tampak tak tersentuh.
Kenapa dia begitu dingin dan seolah tak punya hati.
Itu karena dunia telah memberinya luka.
Luka yang menganga lebar, dalam, dan tak pernah sembuh.