Ada yang salah dengan mata ini. Aku yakin.
Awalnya, aku tidak menyadarinya.
Awalnya, hanya berupa bayangan-bayangan aneh yang berkelebat cepat, melintas begitu saja di sudut pandangku. Tapi seiring berjalannya waktu... bayangan itu berubah bentuk. Mereka bisa menyesuaikan diri menjadi apa saja; batu, kecoak, pohon, bunga... bahkan sampai bisa meniru bentuk jenggot kakek Halim, tetanggaku sendiri.
Tidak. Lebih tepatnya, mereka tidak hanya meniru.
Bayangan itu merekat, menyelinap diam-diam, lalu merasuki benda-benda di sekelilingku. Termasuk makhluk hidup. Menguasainya dari dalam.
Dan akhirnya... aku tersadar sepenuhnya.
Aku bisa melihatnya.
Aku bisa melihat hantu.
Tapi kini, yang kulihat bukan lagi sekadar arwah penasaran atau sosok mengerikan semacam itu.
Kekuatan ini... atau mungkin mata ini, berkembang semakin pesat.
Aku melihat mereka merasuki sesuatu, atau seseorang, lalu mengubahnya menjadi bagian dari diri mereka sendiri. Mengendalikan pikiran, menggerakkan tubuh, seolah-olah itu hanyalah boneka semata.
Sampai pada suatu hari... aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.
Mereka bertarung!
Aku bertanya-tanya... Apa yang menyebabkan aku bisa melihat semua ini, padahal sebelumnya mataku biasa saja?
Lalu, aku teringat. Itu karena dia. Temanku.
Semuanya bermula sejak hari itu. Hari vaksinasi itu. Di mana untuk pertama kalinya, aku bertemu dengannya.
Bertemu dengan Rai. Raizel.
Dan dia bilang... kalau dia bukan manusia.
***
Aku masih ingat betul. Hari itu adalah jadwalku untuk vaksinasi.
Balai kesehatan itu panas dan pengap. Udara terasa berat karena terlalu banyak orang berkumpul di satu ruangan.
Antreannya mengular panjang, membuatku lelah dan mengantuk. Hingga akhirnya aku tidak tahan. Aku ingin ke toilet, tapi tidak tahu letaknya di mana. Aku mencoba bertanya pada petugas jaga, tapi dia hanya melirik sekilas dan sibuk dengan urusannya sendiri.
Duh. Aku menahan diri untuk tidak mengeluh.
Karena sudah tidak bisa ditahan lagi, aku memberanikan diri menjelajah sendiri. Aku berbelok ke sana kemari, mengingat biasanya toilet berada di bagian belakang bangunan. Jadi aku terus berjalan masuk ke dalam... semakin jauh, semakin dalam.
Tapi semakin aku melangkah, suasana di sekitar semakin sepi. Sangat sepi.
Aku mulai merasa aneh. Dan sadar... sepertinya aku tersesat.
Tepat saat aku hendak berbalik arah untuk kembali, tiba-tiba aku mendengar sebuah dengusan berat.
Huh?
Hati kecilku justru merasa senang. Syukurlah, ada orang. Aku bisa bertanya arah jalan keluar.
Aku mencari asal suara itu dan mendapati sebuah ruangan dengan pintunya sedikit terbuka. Ruangan itu dingin dan berbau obat keras. Dindingnya berwarna putih pucat yang membuat suasananya mencekam. Aku menengok ke sana, membuka mulut untuk bertanya...