Saat itu... aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.
Kenapa monster-monster itu datang mengejarku?
Dan aku... aku belum mampu melihat apa yang sebenarnya tersembunyi di sana.
Aku hanya bisa merasakan ketakutan yang murni, yang berteriak keras di dalam kepalaku. Bahwa bahaya besar sedang memburu, dan aku harus segera lari menyelamatkan diri.
**
Aku ingin berlari secepat yang aku bisa, tapi kegelapan malam yang datang begitu tiba-tiba, tidak mengizinkan siapa pun bersiap. Penerangan di sepanjang jalan mati total, membuatku tersandung berkali-kali. Meski begitu, aku tetap teguh melangkah, teringat pesan pemuda itu sebelum dia pergi.
“Carilah tempat yang terang dan jangan sekali-kali menengok ke belakang.”
Aku masih bertanya-tanya dalam hati. Kenapa dia mau menolongku? Kami bahkan tidak saling mengenal. Jujur saja, awalnya aku sangat takut melihat penampilannya yang menyeramkan, seolah makhluk dari dunia lain.
Namun saat aku mencoba bertanya, dia hanya mendengus kasar, mengalihkan pandangan ke arah keributan di kejauhan.
“Pergilah! Hutangku lunas,” ucapnya dingin, datar, tanpa emosi sedikitpun.
Lalu, dengan langkah pasti dia pergi. Meninggalkanku sendiri di pinggiran jalan yang hanya diterangi sisa cahaya remang dari satu lampu tua yang masih bertahan menyala.
Aku terpaku. Bingung.
Hutang apa yang dia maksud?
Lalu otakku perlahan menyambungkan teka-teki itu.
Ah. Mungkinkah karena kejadian di ruangan itu tadi? Karena aku sudah membuka ikatan yang mengurungnya?
Tapi tunggu... itu bukan kemauanku sendiri!
Aku ingat betul, saat itu tubuhku terasa kaku dan bergerak sendiri seolah ada yang mengendalikannya! Mungkinkah... dia yang menggunakan semacam sihir atau hipnotis agar aku mau menuruti perintahnya?