Aku ingat. Aku seperti tersesat di dalam labirin. Berputar di tempat. Pohon-pohon besar yang berderet di sepanjang jalan setapak seakan tak ada habisnya. Dan keremangan malam di tengah kesuraman hutan seolah-olah menarikku masuk semakin dalam.
Pada saat itu, aku belum tahu bahwa musuh menjebakku dengan sihir mereka, membuatku mencari jalan keluar dengan sia-sia. Dan semua itu mudah saja.
Karena mereka bukan manusia.
**
“Itu dia!” Seseorang berseru dalam kegelapan, menyembunyikan wujudnya. Suaranya menggema dalam kesunyian, mengambang di udara. Terdengar sangat dekat, tapi juga mustahil dilacak dari mana asalnya.
“Tembak! Bunuh dia!” serunya lagi.
Aku tersentak. Refleks menoleh ke belakang, tapi kegelapan membutakanku. Malam terasa pekat, namun cahaya bulan samar-samar membantuku melihat sesuatu yang melesat cepat dan mematikan tepat ke arahku.
Aku berlari tunggang langgang. Masa bodoh kalau hutan ini mengerikan, aku tidak mau mati! Bahkan jika harus menerobos semak berduri sekalipun.
Aku terus berlari menyusuri rimba yang rapat. Duri-duri tajam melukai kulitku hingga berdarah, beberapa kali aku tersandung akar besar dan jatuh berguling. Tubuhku remuk redam, kakiku lelah... namun tekadku hanya satu: keluar dari sini hidup-hidup.
Tetapi kemudian, kakiku tersandung sesuatu yang tajam dan menusuk. Aku terjungkal keras ke tanah yang dingin, meringis kesakitan. Saat menengok ke bawah... ternyata itu sebuah cambuk berduri.
Cambuk itu melilit kakiku erat-erat, tak bisa lepas. Bentuknya lentur dan tipis namun mematikan, seperti sulur raksasa yang menjulur hilang ke dalam kegelapan.
“Jangan pergi.”
Suara berat seperti gemuruh tanah longsor terdengar perlahan.
“Kamu menyakiti hatiku.”
Bulu kudukku berdiri seluruhnya.
Seorang pria tinggi besar muncul. Dalam balutan jubah kebesaran dan wajah yang garang, dia tampak seperti monster penjaga gunung. Di tangannya, sebuah batu hijau zamrud berkilau memantulkan cahaya bulan. Saat aku mendongak, yang kutemui adalah sepasang mata yang merah menyala.
“Ah. Lihat, siapa ini! Akhirnya aku bertemu manusia.”
Pria itu tertawa lebar. Isi mulutnya mengerikan, namun dia menggigit batu hijau itu layaknya memakan apel. KRAK! KRUK! Suara kunyahannya keras dan menakutkan, tapi matanya berbinar polos.
“Oh. Apakah kamu ketakutan, Manusia Kecil?”
Aku mencoba berdiri dengan gemetar, tapi cambuk itu menahan kakiku hingga terasa kebas.
“Jalgadh!”
Seruan lain datang. Suaranya sama persis dengan orang yang tadi memerintahkan pembunuhan. Busur besar tergenggam di tangannya. Kukunya panjang, hitam, dan runcing.
“Aku tidak punya urusan denganmu. Minggirlah! Manusia itu milikku!”
Si raksasa bernama Jalgadh itu mendengus kesal, wajahnya tampak cemberut. “Siapa kamu, Orang Tua? Aku sedang bicara dengan gadis cantik. Nah, Manusia Kecil, kenapa tidak menjawab? Jangan abaikan aku.”
“Jalgadh!”
“Hai, hai, aku tidak tuli!” Jalgadh merajuk, lalu tiba-tiba memiringkan kepalanya menatap lukaku. “Wah, kamu terluka? Sayang sekali!”
Aku kehilangan kata-kata.
Dia yang melukaiku, tapi dia yang bertanya?
Wajahnya yang besar itu ternyata tidak menunjukkan kedewasaan. Kosong. Polos. Seolah-olah di dalam tubuh raksasa itu, jiwanya masih sangat muda.
Tetap saja aku tidak bisa meremehkannya. Mereka berbahaya. Dari penampilannya saja, aku yakin... mereka bukan manusia.
“Tuan.”
Seseorang muncul di samping Jalgadh dengan sikap sopan layaknya pelayan. Berbeda dengan tuannya yang tinggi besar sekokoh gunung, orang ini kurus kering, namun aura mengerikannya sama saja.
“Mengapa Tuan masih di sini? Orang-orang itu sudah mengepung tempat ini. Sebaiknya Tuan kembali dulu. Tempat ini sebentar lagi akan menjadi medan perang. Berbahaya bagi ... Oh!” Dia tampak terkejut melihatku yang duduk menyedihkan di tanah. “Bukankah dia Manusia, Tuan?”
Jalgadh terbahak-bahak keras. “Ya. Aku memang beruntung! Tapi kenapa dia tidak kelihatan enak seperti yang orang-orang katakan?”
Aku merinding sekujur tubuh. Apa maksudnya?
Sebuah siluet tinggi bergerak dari balik bayangan hutan. Si Orang Tua akhirnya menampakkan wujudnya sepenuhnya.
Jantungku serasa berhenti berdetak. Penampilannya... sama persis dengan pemuda misterius yang pernah kulepaskan ikatannya dulu!
Belum sempat aku mencerna apa yang terjadi, dia sudah berdiri tepat di hadapanku dalam sekejap mata. Kepalaku terasa berat, tubuhku membeku tak bisa bergerak. Perasaan ini... sama persis ketika aku tidak dapat mengendalikan tubuhku, di ruangan yang menyeramkan itu.
Oh. Aku mengerti sekarang. Sepertinya ini bukan kebetulan. Bukan karena aku begitu takut sampai tidak bisa berpikir dan kehilangan kendali, tapi itu karena perbuatannya.
Orang ini mengendalikanku. Pria yang kulepaskan ikatannya juga melakukan hal yang sama!
Tampaknya... mereka sama-sama bukan manusia.
“Orang Tua, aku menemukannya lebih dulu. Apa yang akan kamu lakukan? Dia milikku!”
Jalgadh menarik ikatan cambuknya dariku dan mengayunkannya menghantam si Pendatang Baru, si Orang Tua itu, menghentikannya menusukku dengan belati yang entah sejak kapan muncul di tangannya yang lain. Namun kekuatannya begitu mengerikan sehingga aku pun ikut terbawa hempasan itu!