Begitulah semuanya bermula. Bagaimana aku pertama kali bertemu dengannya. Bagaimana mataku kini mendapati dunia menjadi lebih berisik dan lebih ramai dari sebelumnya.
Ya. Itu karena dia. Orang itu.
Seorang gadis remaja berambut merah dan bermata ungu. Dia tiba-tiba hadir di depanku, di kepalaku, di tubuhku. Mengendalikannya sepenuhnya. Di mana pada awalnya aku tidak segera menyadarinya.
Namun, begitu aku tahu dia ada di sana, aku bertanya-tanya... bagaimana mungkin ini terjadi?
Seharusnya aku sudah mati! Seharusnya gelombang besar mayat dan monster itu telah melindasku di bawah kaki mereka menjadi abu! Bagaimana mungkin aku bisa bertahan di sini, seperti ini?
Saat itulah aku melihatnya memberiku pandangan jijik, seakan mengatakan bahwa aku idiot menyedihkan.
“Aku seorang iblis,” katanya ringan. “Aku melakukan apa yang aku mau.”
Cara dia mengatakannya seolah-olah hanya sedang memberikan fakta sederhana bahwa satu tambah satu adalah dua.
Dia kelihatan tidak terpengaruh sama sekali, sementara aku nyaris mati sekali lagi karena syok.
***
Kesadaranku kembali perlahan.
Bukan seperti bangun dari tidur nyenyak.
Lebih seperti... ditarik paksa dari kegelapan yang dalam.
Suara-suara terdengar lebih dulu.
Berisik. Langkah kaki. Bisikan panik.
Dan bau menyengat yang menusuk hidung—campuran aroma obat-obatan, darah, dan kain lembap.
Aku mencoba membuka mata.
Terang.
Terlalu terang.
Pandangan ini… aneh. Aku bisa melihat langit-langit kain putih. Tenda?
Bayangan orang-orang berlalu lalang di sekitarku. Tapi... aku tidak bisa bergerak.
Bukan.