THE ANTAGONIST: Mahkluk Tanpa Bentuk

Adzikra Cakrawala
Chapter #8

BAB 5: DUNIA YANG TIDAK LAGI SAMA (1)

“Bagaimana perasaanmu?”

Aku tersentak dari lamunan dan seketika melihat seorang perawat menatapku dengan heran. Aku refleks ingin menjawab sambil memberinya senyuman, tapi suaraku tak sampai terdengar olehnya.

Aku lupa.

Bahwa tubuh ini kini bukan milikku lagi. Bahwa Rai yang memegang kendali sepenuhnya—dan dia tidak menjawab sebagaimana yang kuharapkan.

Ia hanya memandang datar perawat itu, lalu perlahan mengalihkan perhatiannya ke sekeliling tenda. Tenda yang besar.

Seketika, aku tertegun.

Jadi… semua itu bukan mimpi.

Semua kengerian itu nyata. Tempat di mana aku terbangun sekarang adalah sebuah tenda darurat. Seorang pasien terbaring di atas tikar sederhana di sebelahku, mengerang pelan dalam tidurnya.

Dan dia bukan satu-satunya.

Beberapa orang dengan luka yang berbeda-beda memenuhi ruang tenda itu. Erangan kesakitan dan tangisan memilukan bercampur menjadi satu. Ada yang bergumam lirih—tentang penyesalan dan keputusasaan yang mendalam.

Aku menelan ludah dengan susah payah, lalu memusatkan perhatian pada tubuhku sendiri.

Tidak ada luka.

Tidak ada rasa sakit.

Padahal saat itu… segalanya begitu mengerikan hingga tak menyisakan harapan sedikit pun. Aroma darah segar yang mengalir bagai sungai masih teringat jelas di hidungku. Dan gelombang monster yang datang menerjang ke arahku—

Ugh.

Perutku bergolak hebat, rasanya ingin memuntahkan segalanya.

Tapi tentu saja, apa yang kurasakan tidak sedikit pun mempengaruhi Rai. Ia tetap duduk tenang dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah semua penderitaan dan keputusasaan di tenda ini sama sekali tidak ada hubungannya dengannya.

Ia tampak terpisah dari dunia.

Atau… mungkin dunialah yang terpisah darinya.

Namun aku tahu satu hal dengan pasti—

Karena dialah aku masih ada.

Karena dialah aku selamat dari meregang nyawa.

Ya… aku selamat. Aku hidup karena dia.

Aku tidak tahu bagaimana atau mengapa hal ini bisa terjadi. Dia datang begitu saja—tiba-tiba sudah berada di dalam tubuhku, mengambil alih kendali.

Aku juga tidak tahu apa tujuannya. Mungkin benar seperti yang dia katakan dulu… bahwa dia melakukannya karena dia seorang iblis. Bahwa dia melakukannya semata-mata karena dia mau.

Tapi sekarang… aku tidak lagi peduli.

Seharusnya aku sudah mati. Dialah yang membawaku kembali. Dia bisa mengendalikanku sesuka hati. Dia bisa melakukan apa pun yang dia mau dengan tubuh ini.

Satu-satunya hal yang paling kupikirkan dan risaukan sekarang hanyalah satu orang: Ibuku.

Sebelum vaksinasi hari itu, dia berjanji akan menjemputku pulang. Tapi setelah semua tragedi ini terjadi… aku belum melihatnya lagi.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbaring di sini. Tidak tahu apakah dia sudah datang mencariku… atau bahkan, apakah dia juga terlibat di dalam malapetaka ini.

Lihat selengkapnya