THE ANTAGONIST: Mahkluk Tanpa Bentuk

Adzikra Cakrawala
Chapter #10

BAB 7: DUNIA YANG TIDAK LAGI SAMA (3)


Malam merayap pekat.

Sesaat setelah Rai menghilang di balik deretan tenda, bayangan di sekitar jurang tampak bergeser pelan—seolah sesuatu di dalam kegelapan itu baru saja berpindah tempat.

Dari balik batang pohon tunggal yang berdiri miring di tepi jurang, seorang wanita jangkung melangkah keluar. Siluetnya tegas, nyaris tanpa lengkungan. Rambutnya dipotong pendek, sikapnya santai, tapi matanya tajam seperti bilah pisau.

“Bagaimana, Kapten?” tanyanya ringan, seolah yang mereka bicarakan hanyalah urusan sepele.

Pria bermata abu-abu itu tidak menoleh. Puntung rokok di tangannya dibiarkan memendek hingga nyaris membakar ujung jari. “Belum,” jawabnya akhirnya.

Suaranya berubah. Tidak lagi berat seperti pria paruh baya. Lebih muda. Lebih datar. Dan jauh lebih dingin. “Gadis itu tidak terpancing. Pikirannya… tidak di sini. Seperti sedang tenggelam di tempat lain.”

Wanita itu mengangguk pelan. “Wajar. Syok. Atau memang tidak ada apa-apa.”

“Tidak mungkin.”

Kali ini pria itu bergerak. Tangannya naik ke wajah—lalu menarik sesuatu. Lapisan kulit itu terlepas. Bukan sekadar topeng. Melainkan riasan yang terlalu sempurna. Terlalu hidup. Seolah benar-benar pernah menjadi bagian dari dirinya. Di bawahnya, wajah yang muncul jauh lebih muda. Garis rahangnya tegas, kulitnya bersih tanpa cela—terlalu kontras dengan sosok “lelaki berduka” yang barusan dia perankan.

Dia melemparkan kulit palsu itu ke tanah tanpa peduli. “Dia satu-satunya yang selamat,” lanjutnya pelan. “Dari kehancuran sebesar itu.” Matanya menyipit. “Tanpa luka.”

Hening sejenak.

“Ini bukan keberuntungan.”

Wanita itu memutar mata. “Lalu apa, masih mau pakai cerita itu lagi?”

Dia tidak menyebut “putri”. Tidak perlu. Mereka berdua tahu itu tidak pernah ada.

Pria itu terdiam sejenak. Bukan karena tersentuh, melainkan menilai. “Efektif,” jawabnya singkat.

Nada suaranya datar. Tidak ada sisa emosi dari “ayah berduka” yang tadi dia perankan. “Manusia lebih mudah bicara saat mereka merasa tidak sendirian dalam kehilangan.”

Dia menunduk sebentar, mengamati puntung rokok di ujung sepatunya—lalu menggesernya pelan hingga padam.

“Sayangnya…” lanjutnya, “gadis itu tidak bereaksi seperti manusia pada umumnya.”

Wanita itu mendengus pelan. “Atau dia cukup pintar untuk tidak termakan sandiwaramu.”

Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Melainkan sesuatu yang terlalu terukur. “Aku tidak pernah mengandalkan satu pendekatan saja.”

Matanya bergeser sekilas ke arah perkemahan—ke arah di mana Rai menghilang. “Ini hanya langkah pertama.”

Ingatannya melayang pada hari itu.

Hari itu langit runtuh.

Dia masih ingat jelas.

Rokok di tangannya belum habis saat dunia berubah.

Dari balkon lantai dua puluh lima, dia melihat cahaya di kejauhan—lalu kegelapan yang datang terlalu cepat, menelan langit seperti tinta yang ditumpahkan.

Guncangan menghantam. Keras. Cukup untuk membuat tubuhnya terhempas ke pagar pembatas.

Di bawah, orang-orang berteriak.

Di atas—

Sesuatu muncul.

Sesuatu yang merah. Keunguan. Dan berkilau.

Melesat dari langit seperti bintang jatuh.

Terlalu besar untuk disebut meteor.

Terlalu dekat untuk disebut langit.

Lihat selengkapnya