Aku tidak yakin apa yang baru saja terjadi, tapi aku ingat jelas kejadiannya.
Seorang petugas kesehatan menghentikanku di tengah jalan. Lalu memarahiku karena dianggap sudah meninggalkan area tenda terlalu lama.
Aku mencari-cari sosok Perawat Berkacamata atau rekannya yang tadi, tapi mereka tidak ada di sini. Petugas ini benar-benar baru. Wajah asing. Dan yang paling mencolok… pakaiannya tampak jauh lebih rapi dan modis dibandingkan perawat-perawat lain yang kulihat sepanjang jalan.
“Sudah waktunya perawatan,” katanya tegas.
Perawatan?
Aku bingung. Aku tidak sakit apa-apa. Si Perawat Berkacamata pun tadi hanya ingin memastikan keadaanku saja. Kenapa petugas yang ini begitu keras kepala memaksaku menerima perawatan? Perawatan jenis apa yang dia maksud?
Aku bahkan tidak cedera.
Tapi Rai tidak berhenti. Tidak sepertiku yang mungkin sudah pasti akan menurut dengan patuh—atau setidaknya merasa bersalah karena pergi terlalu lama—Rai berbeda.
Aku tidak tahu apa yang berbeda darinya. Aku tidak bisa membaca pikirannya. Wajahnya tetap datar, kosong tanpa ekspresi. Tapi anehnya… aku bisa merasakan samar-samar ada getaran aneh di dalam hati ini.
Semacam… geli yang tak terlukiskan.
Tidak. Bukan geli karena menertawakan sesuatu yang lucu.
Ini lebih seperti… meremehkan.
Huh?
Apa yang sebenarnya dilihat Rai dari petugas wanita jangkung ini, sehingga dia menanggapinya dengan sikap yang begitu merendahkan?
Aku benar-benar tidak dapat menebaknya. Maka, dengan hati-hati, aku memperhatikan wanita itu lebih saksama.
Dan saat itulah—
Aku mendapati mereka lagi.
Bayangan-bayangan hitam itu.
Bayangan yang selalu membuat bulu kudukku meremang. Bayangan yang berkeliaran seperti sulur-sulur hidup di tempat-tempat gelap. Yang menjilat-jilat udara seperti ratusan lidah basah yang lapar.
Bedanya, kali ini sulur-sulur hitam itu tidak berkeliaran bebas.
Mereka berkumpul.
Menempel.
Mengelilingi tubuh petugas itu.
Bulu kudukku berdiri tegak. Tanpa perlu bertanya, aku tahu ada yang sangat salah dengannya.
Tapi… apa itu?
Kenapa bayangan hitam itu tampak begitu familier?
Seketika aku teringat.
Ini sama persis dengan anomali yang kulihat pada luka-luka korban sebelumnya! Sesuatu yang gelap dan hidup di dalam daging mereka, yang perlahan menyerap energi kehidupan hingga tubuh mereka kering kerontang.
Aku tercengang oleh pemikiranku sendiri. Tanpa sadar aku menatap Rai, ingin memastikan apakah aku berhalusinasi atau tidak.
Namun Rai masih tampak seperti biasa.
Masih melenggang dengan tenang, santai, seolah-olah apa yang kulihat itu hanyalah angin lalu dan bukan urusannya sama sekali.