THE ANTAGONIST: Mahkluk Tanpa Bentuk

Adzikra Cakrawala
Chapter #12

BAB 9: KECURIGAAN (1)


Kegaduhan di luar tidak berhenti. Bahkan semakin ramai.

Aku bisa mendengar percakapan penuh kecurigaan dan bisikan-bisikan rahasia di antara mereka. Namun, apa yang terjadi di luar sana sama sekali tidak memengaruhi Rai.

Dia masih berdiri diam di tempat semula. Menunduk, menatap kakinya—kaki ini—dengan wajah penuh jijik.

Aku menegang.

Apa… yang salah?

Aku segera memeriksa dengan teliti. Kakiku baik-baik saja. Bahkan tidak bernoda sedikitpun, hanya sedikit debu sisa perjalanan yang tertinggal di sepatu.

Tapi, tetap saja aku cemas. Cara Rai menatap kakiku seakan-akan… ada sesuatu yang sangat salah. Dan itu amat penting baginya.

Apa itu?

Jantungku berdegup kencang.

Lalu, aku mendengarnya mendengus pelan, dan berkata dengan nada yang sangat merendahkan:

“Dasar lemah!”

Aku mengedipkan mata. Dan seketika… tidak tahu harus berkata apa.

Maksudku, coba lihat! Kamu baru saja menendang monster itu secepat meteor sampai melayang jauh sekali! Tapi… dia menganggap itu bukan apa-apa?

Oh.

Benar.

Dia seorang iblis.

Mungkin baginya, tubuh manusia ini… sama sekali tidak berarti apa-apa. Terlalu rapuh. Terlalu lemah.

Tapi, tetap saja!

Kalau aku punya kekuatan sebesar itu, bisa mengalahkan musuh hanya dengan sekali tendang, mungkin aku sudah melenggang dengan jumawa di mana-mana. Siapa sih yang tidak bangga menjadi kuat?

Aku membuang napas panjang, entah harus tertawa atau menangis.

Rai… memanglah Rai.

Dia bukan seseorang yang pikirannya bisa kubaca dengan mudah.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa-gesa mendekat dari luar. Lalu, sepasang tangan menyibakkan kain pintu tenda dengan kasar.

Sebuah wajah pria asing muncul di ambang pintu. Dan ketika matanya menetap padaku, dia tampak menghela napas panjang, seolah merasa sangat lega.

“Syukurlah kamu di sini,” katanya sambil berusaha menenangkan napasnya yang memburu. Kentara sekali dia berlari sekuat tenaga kemari. “Ayo, ikut denganku. Ketua ingin bertemu denganmu. Jangan takut. Dia hanya ingin bertanya soal… kau tahu.”

Dia mengedikkan bahu ke arah luar tenda, ke tempat di mana kerumunan orang mulai memudar dan bubar.

Baru kusadari bahwa keributan tadi rupanya sudah ditangani dengan cepat oleh petugas keamanan. Dan pria ini… tampaknya adalah salah satu dari mereka.

Dia bilang... mereka hanya ingin bertanya?

Tiba-tiba saja firasat buruk menghantuiku. Benarkah hanya ingin bertanya?

Aku melirik keributan yang memudar di luar dan menjadi curiga. Tidak mungkin hanya pertanyaan biasa, bukan? Maksudku, orang yang disebut ketua itu pasti ingin tahu soal perawat itu, atau bagaimana aku... melukainya.

Aku menahan napas. Sejak di Balai Kesehatan itu, entah bagaimana aku terus-menerus terlibat masalah. Dan kali ini bahkan melibatkan pihak berwenang.

Apa yang harus kukatakan? Sejujurnya, aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa terlibat masalah seperti itu. Masalah itulah yang datang sendiri dan melibatkanku!

Lihat selengkapnya