Aku termenung begitu lama hingga aku bahkan tidak ingat kapan kaki ini melangkah masuk ke dalam tenda komando.
Ketika kesadaranku kembali sepenuhnya, aku sudah duduk di sana. Berhadapan langsung dengan deretan wajah tegas tanpa ekspresi.
Seragam yang mereka kenakan berbeda jauh dengan petugas keamanan biasa. Tampak lebih resmi, lebih tinggi kelasnya, dan memancarkan aura kekuatan yang luar biasa.
Lencana dan tanda pangkat di dada serta bahu mereka begitu mencolok, menyilaukan mata hingga terasa menekan. Napasku seakan tertahan di tenggorokan.
Mereka… bukan orang biasa. Aku bisa merasakannya. Orang-orang ini memegang kekuasaan.
Jantungku berdegup kencang. Apa… yang sebenarnya mereka inginkan dariku?
Lalu aku melihat salah seorang dari mereka, yang wajahnya tampak sedikit lebih ramah, menarik sebuah bangku dan mendekat. Dia duduk di hadapanku, jaraknya tidak terlalu dekat, tapi tetap saja terasa mencekam.
Wajahnya mungkin tersenyum, tapi senyum itu… tidak pernah sampai ke matanya yang tajam.
“Sudah ingat sekarang?” tanyanya dengan nada yang dibuat-buat lembut.
Huh?
Apa yang sudah kulupakan? Aku bahkan tidak ingat dia bertanya sebelumnya. Otakku mendadak kosong, tidak tahu harus menjawab apa.
Namun, berbeda denganku yang gemetar ketakutan, Rai justru bersandar santai di kursi. Dia tampak tidak gugup sama sekali. Bahkan berani menopang sebelah kakinya di atas kaki lainnya, bersikap sebebas seperti sedang berada di rumah sendiri.
Dia mengambil cangkir teh yang disajikan, lalu meneguknya perlahan-lahan dengan tenang.
Hai! Aku ingin sekali menjewer lehernya dan mengingatkan bahwa ini masalah serius! Lihat saja orang-orang itu, mereka menatap kami dengan curiga luar biasa. Seolah-olah kami adalah tersangka, bukan korban bencana.
Tapi anehnya… orang-orang itu sama sekali tidak terganggu dengan tingkah laku Rai yang seenaknya itu. Justru tatapan mereka terlihat semakin tertarik dan waspada.
“Baiklah. Kita mulai dari hal yang mudah.” Pria tadi tersenyum lagi. “Jangan takut. Kami hanya ingin bertanya. Katakan saja seperti yang kamu ingat. Siapa namamu?”
Rai meneguk sisa tehnya dengan gerakan yang elegan, lalu menjawab bahkan tanpa mendongak menatap mereka.
“Rai.”
Suaranya terdengar ringan. Tanpa beban. Tampak jujur dan lurus, namun juga mengandung kesan yang jauh dan dingin.
Seperti seseorang yang telah menjauhi dunia ini sejak lama dan sama sekali tidak peduli dengan segala huru-hara yang terjadi di dalamnya.
Aku tertegun. Nyaris tidak percaya bahwa itu adalah suaraku sendiri.
Sangat berbeda saat Rai yang berbicara.
Ringan. Terukur.
Dan anehnya… terdengar begitu mulia.
Seolah-olah seorang ratu yang sedang berbicara dari atas singgasana.
“Jadi, namamu Rai.” Si Ramah tersenyum lagi. “Berapa usiamu? Kalau boleh kutebak, kelihatannya kamu masih SMA?”
Rai tidak menjawab.
Si Ramah tidak menyerah. “Apa yang kamu lakukan sebelum bencana itu terjadi?”
Oh. Tidak.