THE ANTAGONIST: Mahkluk Tanpa Bentuk

Adzikra Cakrawala
Chapter #14

BAB 11: PELUKAN

Untuk sejenak ruangan itu hening.

Rai meminta pergi, tapi aku melihat Si Ramah belum mau melepaskannya begitu saja. Dia tampak melirik ke arah jajaran orang-orang di belakangnya, mungkin para atasannya, untuk meminta pendapat. Namun pemahaman diam-diam di antara mereka terputus oleh kegaduhan di luar tenda.

“AKU TAHU DIA DI SINI!”

Aku tersentak mendengar suara itu. Nyaris melompat saking senangnya.

Itu Ibu! Ibuku masih hidup! Dia datang menjemputku, tepat seperti janjinya kala itu!

Aku menangis tanpa sadar, tidak peduli meski Rai memberiku pandangan jijik.

Petugas di luar mencoba menahannya, tapi kegaduhan itu sudah tak terbendung. Ibu menerobos masuk bersama beberapa orang di belakangnya. Aku tidak mengenal mereka, tapi kelihatannya mereka mengenalku. Atau setidaknya, pernah melihat wajahku.

Mereka tampak terbelalak takjub. Mungkin terkejut karena aku selamat dari bencana mengerikan itu. Yah, aku tidak menyalahkan mereka. Aku pun pasti bereaksi sama jika berada di posisinya.

“Rai, anakku!”

Ibu menerjang memelukku, tidak memedulikan sekumpulan orang berkuasa di sana, seolah-olah hanya ada aku di matanya.

Aku menangis dengan gembira. Akhirnya aku bisa melihatnya lagi. Semua rasa takut dan kengerian hari itu ingin kutumpahkan di pelukannya. Aku merasa benar-benar lega. Aku merasa akhirnya… aku bisa pulang juga.

Sayangnya, Rai tidak membiarkannya.

Dia berdiri seketika, gerakannya kasar hingga nyaris membuat ibuku terjerembap ke belakang. Dia menunduk menatap bahunya yang basah oleh air mata ibu, lalu mengernyitkan dahi. Ekspresinya tampak terhina.

Ibu bersimpuh sedikit di tanah, mendongak padaku dengan heran. Tidak ada kemarahan di matanya yang basah. Sebaliknya, dia tampak begitu cemas, seolah-olah takut dialah yang melakukan kesalahan hingga menyakitiku.

Aku menggigit bibir tak tahan. Aku ingin berteriak mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengannya. Bahwa kehadirannya bahkan telah menenangkan hatiku yang putus asa. Tapi, aku sama sekali tidak mampu mengatakannya. Aku hanya bisa melihatnya menangis dan kebingungan menghadapi perubahan yang tiba-tiba ini.

Maafkan aku...

Hanya itu yang kuucapkan berulang-ulang dalam hati, berharap rasa itu sampai padanya meski hanya lewat ikatan batin yang telah kami bangun selama bertahun-tahun.

“Ingat, dia baru saja bangun.” Seseorang di belakang ibu berkata dengan pelan, seolah memberi pengingat.

Lihat selengkapnya