THE ANTAGONIST: Mahkluk Tanpa Bentuk

Adzikra Cakrawala
Chapter #15

BAB 12: RUMAH (1)

Rumah bercat putih itu berdiri kokoh di depanku. Sederhana dan minimalis, tapi menyimpan begitu banyak kenangan yang tak terlupakan.

Lihatlah ayunan itu, tempat aku menghabiskan waktu saat kecil dulu.

Lihatlah taman bunga mini itu, yang kurawat bersama Ibu.

Pagar putih yang mengelilingi rumah juga tidak berubah. Dulu aku perlu berjinjit setinggi mungkin hanya untuk membuka pintunya, tapi sekarang pintu itu hanya mencapai pinggangku. Bukti nyata bahwa pagar putih itu telah menyaksikan perjalanan hidupku sampai sekarang.

Pintu pagar dipenuhi tanaman merambat berbunga kecil warna-warni. Dulu, setiap kali berbunga, aku selalu memetiknya untuk dijadikan mahkota mainan.

Sekarang aku berdiri di depannya. Mengenang.

Padahal baru dua hari lalu aku pergi. Hanya dua hari. Tapi rasanya seperti telah pergi terlalu lama, sehingga hal-hal sederhana seperti melihat rumah dan halamanku sendiri menjadi hal paling berharga yang kudapatkan saat ini.

Dan dengan melihat rumah yang akrab ini... aku merasa telah benar-benar pulang.

Rai berdiri menatap rumah itu. Diamnya berbeda alasan denganku, tentu saja. Tapi aku bersyukur dia berdiri cukup lama di depan pintu pagar melengkung penuh tanaman merambat itu, sehingga memberiku waktu untuk menikmati momen ini.

Aku mencoba mengintip isi pikirannya, tapi benar-benar tidak menemukan apa pun. Seolah-olah dia tidak mengenal konsep "rumah".

Dia hanya berdiri diam di tempat. Menatap bangunan itu tanpa ekspresi.

Di belakang, Ibu berpamitan pada Raya dan Naira yang telah menjemput dan mengantarkan kami pulang. Aku bisa mendengar mereka merusuh di balik pintu mobil.

“Dadah, Rai! Nanti kujemput saat sudah sekolah, ya!” Raya berseru dari balik kaca mobilnya, tidak kecewa meski tidak mendapatkan tanggapan.

Naira tidak mau kalah. “Dadah, Rai! Nanti kubawakan makanan enak!”

Lalu kudengar mereka tertawa sambil merencanakan hal-hal seru untuk dilakukan saat berkumpul nanti. Aku terkekeh sendiri, membayangkan keseruan itu. Berharap hari-hari itu cepat datang dan Rai... tidak keberatan. Ini pasti akan seru!

Sebelum membuka pintu, Ibu meletakkan kantong belanja di tanah. Isinya sebagian besar adalah hadiah dan makanan dari teman-temanku. Mereka bilang kami pasti terlalu lelah untuk berbelanja setelah semua yang terjadi, jadi mereka memberikannya saja. Ibu tahu betapa keras kepalanya mereka kalau ditolak.

Toh, memang mereka sering datang ke rumahku bahkan tanpa diundang.

Keluarga Raya sibuk di perusahaan, sementara dia bukan tipe orang yang suka makan sendirian. Dia kerap kali datang seenaknya, sebebas burung kutilang.

Naira di sisi lain, berasal dari keluarga dokter terkemuka. Bukannya tidak ada makanan enak di rumahnya, tapi selera makannya... agak berbeda dari keluarganya. Dia hobi sekali makan. Segala jenis makanan dicobanya. Dan hobi itu selaras dengan kesukaannya memasak.

Dia rajin mengikuti resep-resep terbaru dari internet, mencobanya, lalu mengirimkan hasilnya untuk teman-temannya.

Termasuk aku.

Tapi sering kali... suka memasak bukan berarti jago.

Sehingga makanan yang dia kirimkan kepada kami lebih seperti hasil eksperimen tak berujung. Yang mana aku dan Rayalah yang harus rela menjadi kelinci percobaan setianya.

Meskipun sudah berulang kali gagal, Naira tidak pernah menyerah. Dia malah semakin bersungguh-sungguh dengan mengikuti banyak les memasak.

Kami sungguh-sungguh berdoa... supaya pembimbing memasaknya itu baik-baik saja.

Pintu terbuka dan Ibu menoleh, mengajakku masuk.

Rai menatap jalanan yang terbuka itu sejenak, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, yang membuat jantungku berdebar kencang.

Bagaimana kalau dia tidak mau masuk?

Namun, rupanya kekhawatiranku terlalu berlebihan. Akhirnya Rai melangkah mantap menyusuri jalan setapak sempit berbatu kecil yang diapit oleh tanaman semak hias di setiap sisi.

Aku bisa merasakan bagaimana dia memperhatikan bunga-bunga itu di sepanjang jalan masuk, yang membuatku merasa bangga.

Lihat selengkapnya