THE ANTAGONIST: Mahkluk Tanpa Bentuk

Adzikra Cakrawala
Chapter #16

BAB 13: RUMAH (2)

Malam itu, aku bermimpi.

Mimpi yang sangat panjang.

Dalam mimpi itu, aku berlari. Sangat cepat. Nyaris menunggangi angin. Rambutku berkibar seperti kain sutra di udara, melambai di belakang punggung. Angin menampar pipiku hingga kebas. Tapi aku tidak berhenti.

Aku terus berlari, menerobos pepohonan dan semak belukar yang padat, menyusuri aliran sungai yang jauh dan beriak.

Jantungku berdegup kencang, namun aku tidak merasa lelah. Napasku tetap teratur. Aku tahu detak yang berloncatan di dadaku itu bukan karena lelah, takut, atau sakit, melainkan kegugupan yang tak bisa kusembunyikan lagi. Seperti saat menanti sesuatu yang sangat diharapkan.

Aku tidak sabar.

Langkahku semakin cepat, semakin ceroboh. Duri menembus kulitku. Akar mencuat membuatku terjatuh. Tapi aku tidak merasakan sakit. Aku bangkit, lalu berlari lagi. Tanpa ragu. Tanpa keluh.

Karena aku tahu, apa yang kunantikan… ada di sana.

Di depan sana. Di balik sungai kecil itu. Di tempat matahari bersinar paling terang.

Saat itu musim panas. Matahari terik, menyilaukan.

Lalu, tawa itu datang.

Melayang bersama angin, seperti untaian mutiara bercahaya yang menembus kabut. Tawa yang hangat. Tawa yang hidup. Tawa yang berasal dari seberang hutan, dari daratan di balik sungai kecil itu.

Angin membawanya kepadaku.

Jantungku berdebar semakin kencang.

Ketika pepohonan mulai menipis, akhirnya aku melihat mereka.

Sebuah keluarga kecil. Empat orang.

Seperti sebelumnya.

Seorang anak perempuan memakan buah dengan berantakan. Jus dan biji semangka berlepotan di pipinya. Kakak lelakinya yang duduk di samping sambil membaca buku menertawakannya.

Anak itu cemberut, lalu membalas. Mereka mulai berdebat. Dari hal sepele, lalu melebar ke mana-mana.

Dua orang dewasa itu hanya menggeleng pelan, seolah sudah terbiasa. Mereka menghela napas, lalu melerai saat perdebatan itu mulai terlalu jauh.

Kedua anak itu terdiam… setidaknya di depan.

Di belakang, mereka saling melempar rumput dan tanah secara diam-diam. Sesekali saling melotot, menjulurkan lidah, mengejek tanpa suara.

Wanita dewasa itu membersihkan pipi si kecil dengan lembut, tersenyum seolah tidak melihat apa pun.

“Enak?” tanyanya pelan.

Dia menyodorkan potongan semangka lagi. Merah, segar, menggoda.

Anak perempuan itu menerimanya, lalu makan dengan riang.

Kakaknya kembali tertawa. Dan pertengkaran kecil itu pun dimulai lagi.

Suara mereka terbawa angin, menyeberangi sungai kecil itu… sampai ke tempatku.

Aku duduk di batang pohon tumbang, di tepi hutan yang rimbun, memandangi mereka.

Aku ikut tertawa saat mereka tertawa.

Aku heran melihat wanita dewasa itu tetap tersenyum dan menasihati dengan lembut, meski kedua anak itu mengulang hal yang sama berkali-kali.

Aku penasaran melihat si Kakak diam-diam membersihkan kotoran di punggung adiknya, padahal dia juga yang paling dulu menertawakannya.

Aku merasa aneh melihat pria dewasa itu kerepotan menyiapkan segalanya, tapi tak pernah mengeluh.

Aku pernah mendengar mereka mengatakan bahwa mereka adalah keluarga.

Karena itu mereka harus bersama. Harus saling percaya.

Karena keluarga adalah sumber kebahagiaan.

Karena keluarga adalah tempat untuk pulang.

Tapi aku tidak mengerti.

Mereka saling berdebat. Saling marah. Saling melempar.

Namun di saat yang sama… mereka juga saling memaafkan. Saling berbagi. Saling menjaga.

Dan yang paling kusukai... adalah saat mereka tertawa bersama.

Lihat selengkapnya