“Jadi, mau membantuku?”
Aku tersentak oleh suara itu.
Lagi-lagi suara itu. Suara yang akhir-akhir ini sering menghantuiku.
Aku baru saja terbangun dari mimpi yang panjang, masih tenggelam dalam kesedihan memikirkannya, tapi suara itu menyentakku kembali ke dunia nyata. Dan aku tersadar bahwa Rai sedang duduk di tepi ranjang, menatap cermin besar di meja rias. Menatap wajahnya. Wajahku.
Tidak ada gejolak emosi sedikitpun di mata itu. Tenang. Datar. Membuatku bertanya-tanya... apakah aku pernah terlihat sedatar itu dulu? Rasanya tidak mungkin.
Rai bahkan tidak bergeming sama sekali dengan kehadiran sosok aneh yang mondar-mandir di sekitarnya. Sosok yang tidak pernah berhenti mengoceh sejak dia tahu bahwa kehadirannya tidak lagi menjadi rahasia. Sejak dia sadar bahwa aku bisa melihatnya.
Dan aku... entah bagaimana, sudah tidak merasa takut.
Sejak menyadari bahwa mata ini tidak lagi sama, aku mulai terbiasa beradaptasi dengan lingkungan yang ramai oleh hal-hal yang seharusnya tidak terlihat. Aku mulai terbiasa mendengar bisikan-bisikan dari balik kegelapan, yang selalu kucoba abaikan sepenuhnya.
Tapi hantu ini... berbeda.
Hantu yang sangat cantik. Dan mengaku bernama Clo.
Kelihatannya masih muda. Tinggi, ramping, dan berambut pirang panjang. Pakaiannya kuno tapi elegan, seperti bangsawan abad pertengahan. Pokoknya, dia sangat cantik. Tapi juga... sangat menyebalkan.
Sejak bertemu secara tak sengaja di perkemahan darurat itu, dia mengikuti ke mana pun Rai pergi. Tidak peduli ke mana, bahkan ke kamar mandi sekalipun. Membuatku kesal setengah mati.
Bukan apa-apa, tapi mulutnya tidak pernah berhenti bekerja. Dari membicarakan hal sepele sampai hal-hal absurd yang sama sekali tidak masuk akal.
Intinya, dia terus meminta agar tubuhnya dikembalikan.
Padahal kan, dia sudah meninggal. Bagaimana mungkin? Kenapa pula dia meminta bantuan kepadanya? Kepadaku? Hanya karena aku bisa melihatnya?
“Sudah kubilang, hanya kamu yang bisa!”
Lihat, dia mengatakannya lagi. Aku sudah bosan mendengar kalimat itu diulang-ulang tanpa henti.
Ayolah, siapa sih yang bisa mengembalikannya hidup kembali ke tubuhnya? Dia sudah menjadi hantu. Entah sudah berapa lama kematiannya berlalu, mana mungkin dia bisa kembali lagi? Bahkan jika baru saja terjadi dan tubuhnya masih utuh sekalipun, siapa yang sanggup melakukan hal mustahil seperti itu?
Hantu ini benar-benar gila.
Aku senang sekali... Rai mengabaikannya begitu saja.
“Rai?”
Ibu mengetuk pintu dari luar. Mungkin karena tidak mendapatkan jawaban, dia membuka pintu sedikit.
“Oh, sudah bangun? Mau ibu bantu ke kamar mandi?”
Aku mendengar langkah kakinya mendekat. Dari pantulan cermin rias, aku melihat Ibu tersenyum padaku, lalu sibuk memilah-milah pakaian dari dalam lemari.
Yah. Jangan salahkan aku!
Bukan karena aku manja atau apa, tapi apa yang bisa kulakukan saat Rai yang mengendalikan tubuhku? Dia bahkan tidak tahu apa itu kompor! Wajar dong kalau Ibu jadi cemas dengan hal-hal sepele seperti mandi dan berpakaian, takut sekali aku tidak bisa melakukannya sendiri.
Dan memang benar adanya.
Rai tampaknya benar-benar asing dengan semua alat mandi di kamar mandi. Dia berdiri lama sekali mengamatinya satu per satu. Pikirannya kosong melompong, aku tidak bisa membaca apa pun. Tapi aku tahu persis, dia tidak tahu apa-apa soal fungsi benda-benda itu. Dia sama sekali tidak mengenal alat-alat modern.
Untunglah Ibu datang dan mengenalkannya lagi dari awal.
Tampak tidak terkejut sama sekali dengan keanehan tingkah anak gadisnya. Sebaliknya, justru aku melihat sedikit kesedihan terselip di matanya.
Duh. Aku tidak tega melihatnya. Tapi, aku juga penasaran.
Apakah Ibu benar-benar tidak merasa aneh? Maksudku, apakah trauma bisa menyebabkan seseorang seolah-olah kehilangan ingatan akan hal-hal dasar? Sehingga tampaknya Ibu menganggap semua keanehan ini terjadi karena efek syok yang dialami putrinya.
Sepertinya... memang demikian.