Hari-hari berlalu seperti ini: tenang, damai, dan selalu dipenuhi aroma masakan Ibu yang menggugah selera.
Aku suka ketenangan ini. Aku suka kedamaian ini.
Selain ocehan tak henti dari si Hantu Clo yang mengikuti ke mana pun kami pergi, aku hampir percaya bahwa kehidupan sehari-hari yang kujalani akan tetap damai seperti ini selamanya.
Aku bahkan hampir lupa... bahwa dunia di luar sana tidak setenang di dalam rumahku.
Dan malam itulah... yang mengingatkanku kembali pada kenyataan yang kejam.
DARRR!
Petir menyambar keras di tengah malam, suaranya menggelegar membelah langit. Aku terbangun dengan kaget, jantungku berdegup kencang. Tapi Rai tampak sama sekali tidak terganggu.
Dia malah perlahan menoleh ke arah jendela kamar, di mana angin kencang dan hujan badai mengetuk-ngetuk jendela kaca tanpa henti.
Tanpa perlu melihat keluar pun, aku tahu malam itu sangat kacau.
Namun, bahkan bunyi guntur dan hujan yang sekeras itu tidak mampu menyamarkan suara-suara aneh yang berasal dari luar sana.
Atau mungkin... itu karena aku bersama Rai. Yang memiliki indra pendengaran jauh lebih tajam daripada manusia biasa.
Tiba-tiba dia berdiri, lalu melangkah mendekati kaca jendela. Dia menyibakkan tirai gorden dan melihat ke luar dengan wajah tenang, datar, tanpa rasa takut sedikitpun.
Malam itu gelap gulita. Pekat.
Lampu jalan yang samar-samar terlihat tertutup oleh tirai-tirai hujan yang turun lebat, memberikan kesan yang sangat misterius dan menyeramkan.
Dan suara-suara itu... berasal dari balik bayang-bayang kegelapan di setiap sudut.
Dari tempat-tempat kecil seperti bayangan di balik tong sampah, sampai tempat yang jauh dan luas seperti bayangan pepohonan besar di seberang jalan sana.
Rumah-rumah tetangga juga tak luput. Dari balik bangku taman, di kolong mobil, di celah pagar, sampai hal yang sangat sepele seperti di bawah sandal jepit yang tertinggal tergeletak di halaman.
Suara-suara itu terdengar seperti bisikan. Kadang panjang, kadang pendek. Kadang melengking seperti teriakan, sesaat kemudian berubah menjadi rintihan pilu.
Suara itu terdengar sangat dekat, tapi juga seolah tidak berasal dari mana-mana. Terdengar jelas di telinga, tapi wujudnya sama sekali tak terlihat.
Bulu kudukku meremang seluruhnya. Semua itu... apa?
Lalu tiba-tiba mataku menangkap sebuah pergerakan di kejauhan. Tepat di balik pepohonan rimbun di seberang jalan.
Sebuah siluet tinggi.
Terlalu tinggi untuk ukuran orang dewasa biasa, tapi terlalu pendek untuk disebut tiang listrik. Lagi pula, aku ingat betul di sana tidak ada tiang listrik. Di balik pepohonan itu seharusnya adalah jalan raya umum, tempat lalu lintas biasa lewat.
Aku tidak heran kalau ada orang lewat. Tapi... apa yang dilakukannya di tengah malam buta seperti ini? Dan bukankah... sudah ada aturan jam malam yang berlaku ketat?
Hari itu Ibu memberitahuku bahwa pemerintah kota telah memberlakukan peraturan baru. Yaitu semua warga harus sudah berada di dalam rumah sebelum gelap. Paling lambat adalah jam lima sore.
Bahkan jika langit tampak mendung atau kabut turun sedikit saja, lebih baik semua rencana dibatalkan. Dilarang keras bepergian ke mana-mana.
Dulu aku hanya menduga-duga... mungkin aturan ini terkait dengan mereka. Monster-monster itu. Yang muncul saat kegelapan turun dan pernah memburuku dulu.
Dan ketika aku melihat siluet aneh itu berdiri diam di sana sekarang... aku memiliki jawaban.
Apakah... itu mereka?
Jantungku berdegup kencang.
Jadi... mereka masih memburuku seperti waktu itu?
Oh. Benar.
Aku adalah saksi mata. Aku tahu rahasia mereka. Dan itu artinya... aku adalah ancaman bagi mereka.
Siluet-siluet lain mulai bermunculan di beberapa titik yang berbeda. Entah bagaimana caranya, mereka tampak menjadikan rumahku sebagai pusatnya.
Lebih tepatnya... akulah tujuannya.
Mereka mengincarku.