THE ANTAGONIST: Mahkluk Tanpa Bentuk

Adzikra Cakrawala
Chapter #20

BAB 17: JEJAK (1)


Pagi itu, aku merasakan ketegangan yang aneh menyelimuti suasana ruang makan.

Ibu sibuk di dapur seperti biasa, menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Di atas meja sudah tersaji rapi segelas teh hangat, susu putih, serta roti dengan selai kesukaan Rai. Hari ini rasanya selai stroberi.

Awalnya aku tidak menyadari ada yang janggal. Andaikan aku tidak begitu paham dengan kebiasaan Ibu, pasti aku tidak akan curiga. Memang benar Ibu suka mendengarkan berita, tapi dia tidak pernah punya kebiasaan makan sambil menonton televisi. Baginya, kebiasaan itu tidak disiplin, tidak efisien, dan terkesan tidak sopan.

Namun, hari ini berbeda. Ibu makan sambil sesekali melirik ke arah layar kaca yang sedang menayangkan siaran berita pagi.

Aku tahu... ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Sementara itu, Rai sudah tidak lagi merasa heran dengan benda kotak ajaib bernama televisi ini. Berbeda dengan pengalaman pertamanya beberapa hari lalu, di mana dia menatap layar itu lama sekali sambil memiringkan kepala, seolah sedang mencari sosok manusia kecil yang bersembunyi di baliknya.

Kini, Rai sibuk mengunyah roti dengan tenang. Ia sama sekali tidak tertarik dengan isi berita yang disampaikan. Namun, matanya sempat menatap benda kendali di ujung meja cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan satu pertanyaan dalam hatinya: haruskah ganti saluran?

Memang benar, Rai sangat menyukai tontonan kartun dan anime. Sejak mengetahui ada hiburan semacam itu, ia sering kali menontonnya. Wajahnya tetap terlihat datar tanpa ekspresi, tapi aku sangat paham bahwa ia menyukainya. Matanya yang tajam tak pernah sekalipun lepas dari layar.

Aku masih ingat jelas saat ia menonton adegan lucu tentang seorang gadis kecil berambut merah muda yang gagal melempar bola, padahal ia sudah bergaya dengan keren. Rai tidak tertawa terbahak-bahak seperti orang lain, namun aku sampai tertawa sendiri melihat ketertarikannya. Tontonan itu memang sangat menghibur.

Kembali ke suasana pagi itu...

Aku terus mengamati Ibu. Jelas sekali ada beban di hatinya. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

Lalu tiba-tiba, kenangan kejadian semalam terlintas begitu saja. Sekelompok makhluk mengerikan datang menerobos kegelapan, mengintai rumah kami di tengah angin kencang dan guyuran hujan. Tak lama kemudian muncul kelompok lain yang bertarung melawan mereka. Suara benturan dan raungan makhluk itu masih terngiang jelas di telingaku, bercampur dengan deru hujan dan siulan angin. Aku belum bisa melupakan kejadian itu.

Maka, benih kecurigaan pun tumbuh di hatiku.

Apakah Ibu merasa gelisah karena hal itu juga? Apakah dia menyadari bahaya yang mengintai di malam hari?

Namun, kekhawatiranku ini tentu saja tidak berpengaruh sedikit pun pada Rai. Setelah menelan kunyahannya, ia hanya melirik sekilas ke arah Ibu yang masih terpaku pada layar berita. Tangannya terulur hendak meraih alat kendali itu, namun tiba-tiba gerakannya terhenti.

Di layar televisi kini tampak gambaran udara sebuah jurang raksasa. Luasnya sungguh mencengangkan hingga aku tidak percaya melihatnya.

Tempat ini... sepertinya tidak asing bagiku.

Lalu, suara penyiar berita terdengar menjelaskan bahwa lubang besar itu terbentuk secara misterius dalam semalam akibat ledakan dahsyat yang hingga kini penyebabnya belum diketahui. Yang tersisa hanyalah puing-puing kehancuran yang tak terhitung jumlahnya.

Begitu luas, begitu dalam. Menelan habis hutan belantara, jalan raya, dan bangunan tempat tinggal. Nyaris melenyapkan seluruh isi sebuah kota dari permukaan bumi.

Aku menelan ludah dengan susah payah.

Aku ingat. Inilah tempat di mana segala sesuatu bermula.

Aku tidak tahu secara rinci bagaimana prosesnya, namun satu hal yang aku yakini sepenuh hati: aku tahu siapa pelaku di balik kehancuran ini.

Dan orang yang bertanggung jawab atas semuanya itu... saat ini sedang duduk tenang sambil mengunyah roti. Tangannya beberapa kali bergerak untuk menggapai alat kendali televisi hanya untuk mencari saluran kartun yang lebih menghibur, sebelum kemudian berhenti.

Awalnya aku mengira ia berhenti bergerak karena tertegun melihat berita itu. Namun ternyata dugaanku salah. Rai berhenti bukan karena rasa bersalah atau terkejut, melainkan karena alat kendali itu terlalu jauh dari jangkauan tangannya. Ia sedikit mengernyit. Jelas terlihat kesal.

Lihat selengkapnya