“Oh. Raina? Kamu sudah pulang?”
Suara itu terdengar penuh kelegaan. Aku sangat mengenalnya. Itu suara Kakek Halim, tetangga sebelah rumah. Dulu, saat Ibu sibuk bekerja, Kakek Halim yang paling sering menjengukku, sekadar untuk memastikan apakah aku sudah makan atau butuh sesuatu. Ia orang yang sangat baik.
Namun, Rai masih berdiri diam di halaman. Pandangannya bergerak berpindah-pindah, dari satu pot bunga ke pot lainnya, lalu berhenti sejenak pada ayunan tua di sudut halaman. Ia tidak bergerak sama sekali, seolah sedang memastikan sesuatu... atau mungkin hanya sekadar ingin tahu apakah bunga-bunga yang tumbuh di sana itu nyata adanya, atau hanya ilusi semata. Namun tak lama kemudian, Rai tampak kehilangan ketertarikannya pada taman itu.
Kini, matanya menatap lurus ke luar pagar. Ke arah jalanan yang semalam menjadi saksi bisu pertarungan rahasia yang mengerikan. Dan aku pun teringat kembali... di tempat itulah kelompok orang berjubah membakar tubuh para makhluk mengerikan itu. Seharusnya peristiwa itu meninggalkan jejak, sisa arang, atau bekas darah di aspal. Tapi sekarang aku tidak melihat apa-apa. Bersih. Kosong. Permukaan jalan itu tampak sama persis seperti hari-hari sebelumnya, seolah-olah pertarungan hidup dan mati semalam hanyalah mimpi belaka.
“Rai?”
Ah. Suara itu lagi. Kakek Halim. Kali ini nadanya terdengar khawatir. Dan suaranya terdengar lebih dekat. Mungkin karena tadi aku tidak menjawab panggilannya, sehingga ia berjalan mendekat ke pembatas halaman.
Rai menoleh perlahan. Dan di sanalah aku melihat sosok Kakek Halim berdiri. Ia masih berada di halaman rumahnya sendiri, tapi kini posisinya jauh lebih dekat. Jarak antara dia dan kami hanya dipisahkan oleh pagar semak bunga setinggi pinggang.
Rai tampak biasa saja, tidak terpengaruh sedikit pun oleh kehadiran kakek Halim. Tapi aku... aku nyaris menjerit kaget.
Bukan karena Kakek Halim mendekat. Aku sudah sangat mengenalnya, sehingga aku sama sekali tidak merasa takut.
Yang membuatku terkejut luar biasa adalah pemandangan mengerikan itu: sulur-sulur hitam yang bergerak melata seperti ular di sekujur tubuhnya. Bahkan ada kelompok kecil sulur yang kini menempel dan bergerak-gerak di janggut putihnya...
Aku ingin berteriak. Ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu untuk memperingatkannya, atau setidaknya bertanya apa yang terjadi. Tapi kemudian aku sadar, meskipun aku bisa bergerak bebas, aku belum tentu bisa menjelaskan apa benda hitam menjijikkan itu sebenarnya.
Lagi pula... Kakek Halim tidak bisa melihatnya. Hanya aku yang bisa.
Dan aku pun tidak akan pernah bisa melihat hal mengerikan itu jika Rai tidak ada bersamaku.
Akhirnya aku hanya bisa diam. Hanya mengamati dengan rasa takut yang menyesakkan dada.