Langit tampak mendung pekat. Awan gelap menggantung rendah di atas kepala, sementara angin berembus lirih menyapu kerumunan orang yang berdiri diam di sana.
Suasana begitu hening.
Tempat ini sebenarnya cukup luas untuk menampung banyak orang, namun terasa sangat sempit dan menyesakkan, sebab apa yang terhampar di depan sana sudah cukup membuat siapa pun merasakan sakit yang menyiksa tulang.
Aku berdiri di antara mereka, di barisan paling belakang. Ibu ada di depanku, berdampingan dengan Bibi May, seolah sengaja menghalangi pandanganku pada monumen raksasa yang permukaannya tertutup deretan nama para korban. Aku paham Ibu ingin melindungiku dari luka kenangan itu, jadi aku tidak berkata apa-apa. Toh, aku memang tidak bisa mengatakannya. Lagi pula, sebenarnya perlindungan itu tidak diperlukan.
Rai tidak membutuhkannya.
Dan anehnya... aku pun merasa baik-baik saja.
Dari kejauhan terdengar suara seseorang berbicara di depan, menyampaikan pidato perpisahan. Nada bicaranya parau dan sayu, melayang perlahan bersama embusan angin hingga sampai ke telingaku.
“...hari ini kita berkumpul bukan untuk merayakan kemenangan, bukan juga untuk mencari alasan...”
Rai tampak tidak tertarik pada pidato itu. Aku memperhatikan matanya justru sibuk memindai sekeliling, hingga berhenti pada seorang anak kecil yang berdiri diam agak jauh di depan. Anak itu memeluk erat sebuah boneka usang. Tidak menangis. Tidak berbicara. Hanya menunduk dalam.
Satu per satu nama para korban disebutkan. Perlahan, isak tangis yang sempat tertahan mulai terdengar. Lirih. Pilu. Penuh kepedihan yang tak terucap.
“...mereka memiliki nama. Mereka memiliki cerita. Mereka memiliki seseorang yang menunggu mereka pulang...”
Di sudut lain, seorang wanita berdiri dengan tubuh gemetar, lalu tiba-tiba terjerembap ke belakang, kehilangan kesadaran. Dua orang di sebelahnya segera memeluknya agar tidak jatuh, padahal mereka sendiri pun sesenggukan tak kuasa menahan tangis.
“...kepada keluarga yang kehilangan orang tercinta...”
Di depan sana, kepala-kepala tertunduk. Sebagian menangis histeris. Sebagian lagi menahan duka dalam diam. Dan ada pula yang hanya menatap kosong ke kejauhan, mungkin masih berharap pada seutas harapan tipis bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Sayangnya, kenyataan yang terhampar di depan mata sama sekali bukan mimpi.
Karena yang berdiri menjulang di depan itu adalah monumen. Monumen yang memuat nama-nama korban yang ditemukan, korban yang hilang tanpa jejak, dan korban yang... tidak akan pernah pulang.
Di balik monumen itu berderet tempat peristirahatan terakhir mereka. Hanya segumpal tanah merah. Setangkai bunga layu. Sebuah papan nama.
Yang mana sebagian besar papan itu... kosong tanpa nama.
“...kita memiliki kewajiban untuk membangun kembali, memperbaiki kesalahan...”
Aku menunduk. Berusaha memalingkan pandangan.
Apa... yang sebenarnya kurasakan?
Tubuhku masih gemetar setiap kali teringat hari itu, saat dikejar makhluk-makhluk mengerikan itu, saat nyawaku nyaris melayang.
Tapi, lalu kenapa... ada bagian dalam diriku yang terasa kosong?
Lihatlah gadis kecil di depan yang bersedih tapi tak mampu menangis. Aku tak sanggup melihatnya.