Sulur-sulur hitam itu merayap di permukaan tanah. Bersembunyi di balik bayangan benda apa saja. Menyelinap di sela-sela kerumunan orang. Terlihat seperti jutaan rambut kusut yang hidup.
Menggeliat.
Berbelit-belit.
Senyap.
Tanpa disadari siapa pun. Tanpa diketahui ke mana mereka pergi.
Mereka bergerak ke segala arah yang dapat kulihat, datang dari segala penjuru. Menuju ke arahku, lalu terus berlanjut melintas hingga ke belakang.
Aku menahan napas rapat-rapat.
Semua orang masih berdiri di tempatnya, belum beranjak pulang. Padahal sulur-sulur itu sudah menyelinap di antara kaki mereka, melilit betis, menempel pada sepatu, hingga menyentuh ujung pakaian. Namun tak satu pun dari mereka tampak merasakan sesuatu.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Nyaris tidak percaya pada apa yang sedang kulihat.
Aku sangat mengenal wujud ini. Aku sudah melihatnya berkali-kali. Sulur hitam yang sama persis dengan yang kutemukan di perkemahan pascabencana. Di dalam luka para korban yang selamat. Di malam yang basah dan berangin itu. Di pekarangan rumahku sendiri. Dan bahkan... menjalar di tubuh Kakek Halim.
Apa sebenarnya makhluk ini?