THE ANTAGONIST: Mahkluk Tanpa Bentuk

Adzikra Cakrawala
Chapter #24

BAB 21: JEJAK (5)

“Itu menjijikkan.”

Si Hantu Clo tiba-tiba berkomentar. Lagi.

Awalnya aku tidak terlalu memedulikannya. Sejak makhluk ini mulai mengikutiku, ia memang selalu melontarkan ucapan aneh-aneh. Permintaannya bahkan tidak masuk akal: ia ingin aku membantunya merebut kembali tubuhnya. Bagaimana mungkin?

Setiap hari ia mengoceh tanpa henti, mulai dari hal sepele seperti warna pakaian, hingga gosip tetangga yang tak penting. Hampir tidak ada hal berfaedah yang keluar dari mulutnya, selain nama Rakhsa yang pernah disebutkannya dulu. Jadi aku sudah terbiasa mengabaikannya.

Begitu pula Rai. Dia bahkan tidak melirik sedikit pun. Memperlakukan Si Hantu Clo seolah-olah ia hanyalah udara kosong.

Karena itulah aku agak terkejut saat mendengarnya berkomentar mengenai sulur-sulur hitam itu.

Saat itu aku sedang sangat fokus mengamati apa yang terjadi di permukaan tanah. Memperhatikan bagaimana sulur hitam merayap menyebar ke segala arah. Hatiku berdebar takut, khawatir jika tiba-tiba mereka menempel di kakiku. Atau pada Ibu.

Namun anehnya, sulur-sulur itu sama sekali tidak melakukannya. Bahkan untuk sekadar mendekat pun tidak berani. Mereka merambat dengan cepat, tapi setiap kali mencapai jarak tertentu dari ujung sepatuku... mereka seketika tersentak mundur. Seolah terpental menabrak sesuatu yang tak kasat mata. Lalu mereka berbelok arah secara tiba-tiba, kembali bergerak dengan kecepatan luar biasa, seakan sedang berusaha melarikan diri.

Aku tertegun heran.

Mungkin memang terkesan berlebihan, tapi begitulah yang kulihat. Yang jelas, hal terpenting adalah mereka tidak menyentuhku. Dan tidak menyentuh Ibu.

Aku merasa beruntung.

Namun aku tahu, keberuntungan ini pasti bukan tanpa alasan. Aku menduga kuat ini berhubungan dengan Rai. Meski aku belum bisa menjelaskan bagaimana atau mengapa hal itu bisa terjadi.

Cukup sudah bagiku untuk merasa bersyukur. Aku lega karena Rai ada di sini, bersamaku.

Tepat saat itulah Si Hantu Clo kembali bersuara. Kali ini nadanya datar, dingin, dan tanpa emosi.

Itulah yang akhirnya menarik perhatianku. Biasanya ia selalu ceria, suka bercanda, sok tahu, dan terdengar sangat menyebalkan. Tapi kali ini berbeda. Aku bahkan terkejut menyadari bahwa makhluk ini pun bisa bersikap serius. Dan entah kenapa... hal itu justru membuatku sedikit takut. Orang yang biasanya santai hanya akan berubah tegas saat keadaan sudah benar-benar genting. Dan ini pertama kalinya aku melihat Si Hantu Clo menatap sesuatu dengan pandangan setajam itu.

“Jadi begitu rupanya,” gumamnya sambil menatap tajam ke arah kegelapan hutan di kejauhan, seolah baru menyadari satu kebenaran besar.

Lihat selengkapnya