Pemandangan di luar jendela melesat cepat. Pepohonan dan bangunan tampak bergerak mundur seolah berlomba.
Sejak masuk ke dalam mobil, Rai duduk tenang di kursi penumpang, namun pikiranku masih tertinggal di tanah pekuburan. Aku masih sulit percaya bahwa sulur-sulur hitam yang tampak liar itu ternyata memiliki pengendali. Untuk apa? Kenapa mereka melakukan semua ini?
Aku bahkan tidak sadar bahwa kami sudah dalam perjalanan pulang.
Si Hantu Clo perlahan kembali ke sifat aslinya, mengoceh tanpa henti, seolah keseriusannya tadi tidak pernah ada. Ia terdengar bersemangat kembali. Namun entah kenapa, aku merasa ada yang berubah. Sejak awal ia memang aneh, tapi kini tingkahnya makin tak terduga: tiba-tiba tertawa tanpa alasan, lalu mendadak diam sebelum kemudian mendengus dengan seringai menghina, atau terkikik sambil memukul pahanya dan mengangguk-angguk sendiri seolah sedang berbicara dengan bayangannya.
Tawanya yang aneh itulah yang akhirnya menarikku kembali dari lamunan.
Rai sama sekali tidak terganggu, tapi aku tidak sanggup lagi menahannya. Si Hantu Clo kini tidak lagi menempel di sampingku, melainkan duduk tenang di belakang sambil menyilangkan kaki bak bangsawan. Tidak mengganggu, tidak mengajak bicara, namun justru sikap diam dan aneh ini jauh lebih mengerikan daripada biasanya. Tawanya membuat bulu kudukku meremang.
“Oh ya, Ibu lupa bilang sebelumnya. Kita mampir dulu ke supermarket ya, belanja sebentar.”
Aku sungguh bersyukur Ibu berbicara saat itu. Perhatianku pun teralihkan, dan bayangan jajanan kesukaanku langsung muncul di benak. Mungkin nanti aku bisa mengajak Rai mencobanya juga.
Ibu membawa kami ke pusat perbelanjaan di kota yang biasa kami kunjungi. Setelah memarkir mobil, ia menenteng keranjang belanja dan menunggu sebentar untuk memastikan Rai membuka pintu dengan benar.
Aku menghela napas lega. Kali ini tidak ada pegangan pintu yang copot. Sepertinya Rai mulai terbiasa. Aku senang sekali.
Si Hantu Clo tentu saja tidak tertinggal. Ia terus membuntuti, sesekali melesat ke depan atau ke samping sambil menunjuk barang-barang di rak dan menjelaskan panjang lebar layaknya pramuniaga. Aku hanya membiarkannya. Rai berjalan tenang di belakang Ibu, mengikuti setiap langkahnya. Wajahnya tetap datar, tapi matanya tak pernah berhenti mengamati sekeliling. Ia memperhatikan Ibu menawar harga, melihat sayuran dan buah-buahan, hingga tertegun cukup lama di depan deretan makanan kemasan. Bahkan aku melihatnya mengernyit bingung saat kami melewati konter kosmetik, di mana seorang wanita sedang berkaca sambil mengoleskan lipstik.